Layar Terakhir Bioskop Sempurna

IMG_0985
Tangga Bioskop Sempurna, Curup. Foto: Silvia Galikano.

Oleh Silvia Galikano

Tangga setengah lingkaran dan dua tangga pengapit mencirikan kemegahan bangunannya dulu. Tinggal itu yang tersisa.

Di atas tangga ada beberapa bekas pilar beton yang kini tingginya tinggal setengah meter. Di belakangnya adalah bidang luas, kira-kira dua kali lapangan volley, yang landai menurun terus hingga ke ujung sana. Reruntuhan ini berada di Jalan Mayor Salim Batubara, Curup, Prov. Bengkulu, belum jauh setelah berbelok masuk dari Jalan A.K. Gani.

Tangga menuju studio
Tangga menuju studio. Foto: Silvia Galikano.

Saya berbincang dengan dua orang bapak berusia 60-an di kios sticker yang ada di mulut gang samping reruntuhan, Rabu, 3 September 2014. Mereka mengatakan reruntuhan itu bekas bioskop dua lantai, bernama Bioskop Sempurna. Di atas dua tangga pengapit itu dulunya loket karcis.

Dua bapak ini pernah jadi pelanggan Bioskop Sempurna, masa jayanya film-film Oma Irama. “Waktu film Ratapan Anak Tiri (1973), ada anak sekolah yang sampai tujuh kali nonton.”

“Siapa yang punya?”
“Haji Abbas. Sudah meninggal. Tinggal anaknya. Itu rumahnya.”

Saya menuju rumah yang ditunjuk, rumah asri persis di kiri bioskop. Rumahnya senada dengan langgam rumah-rumah Menteng asli dari pengembang N.V. de Bouwploeg di Batavia (Jakarta). Tirai jendela samping berkibar-kibar ditiup angin siang. Pintu pagarnya tidak dikunci.

Tak lama setelah saya memencet bel, seorang ibu berambut pendek membuka pintu. “Ibu Nilma? Saya Evi….” Nilma bernama lengkap Yusnil Chotimah, 60 tahun, anak ke-5 dari delapan anak (tiga puteri, lima putera) H. Muhammad Abbas Saleh. Kini dia tinggal sendiri di rumah yang dibangun orangtuanya, setelah suaminya meninggal dan dua anaknya bekerja di Bengkulu.

M. Abbas Saleh dan Sare'ah Abbas menjelang pergi haji
M. Abbas Saleh dan Sare’ah Abbas dilukis menjelang pergi haji pada 1965. Foto: Silvia Galikano.

Awalnya kami ngobrol di teras yang sejuk berangin, duduk di atas kursi rotan. Nyaman sekali. Lalu Nilma mempersilakan saya melihat-lihat dalam rumahnya yang luas, bersih, dan banyak perabotan kuno warisan orang tuanya. Berikut cerita Nilma tentang Bioskop Sempurna ditambah data dari darirejang.blogspot.com.

Bioskop Sempurna dibangun di atas tanah milik M. Abbas Saleh, ayahnya yang berdarah Rejang Lebong. Abbas yang berisitrikan Sare’ah binti H. Bakri adalah pedagang hasil bumi (buah, biji kopi, beras, dan sayur-mayur) yang menjual dagangannya ke Palembang dan Lampung. Kemudian dia bermitra dengan TNI sebagai pemasok bahan makanan untuk Sekolah Kader Infanteri (SKI – sekarang jadi Korem Curup).

Pemilik bangunan bioskopnya adalah perkongsian lima orang, yakni 55 persen M. Abbas Saleh; dan 45 persen lainnya dibagi empat orang, yakni Nanang Abu Bakar, Wahid, Moh. Asan Han, dan Mahmud T.A.A yang seluruhnya masih bersaudara.

Pembangunan dimulai pada 1955 dan rampung pada Agustus 1956. Peresmiannya pada 2 Januari 1957 oleh Wakil Ketua I Sarekat Islam Ahmad Aroji.

Rumah M. Abbas yang sekarang dihuni Nilma
Rumah M. Abbas yang sekarang dihuni Nilma. Foto: Silvia Galikano.

Bioskop pertama dan pernah jadi satu-satunya di Curup itu sangat ramai didatangi penonton. Film kung fu dan film India menyedot penonton paling banyak. Kalau yang diputar film kung fu, maka penduduk Tionghoa tua hingga muda keluar dari rumah-rumah mereka, berduyun-duyun ke bioskop. Apalagi kalau film India yang diputar, calon penonton tumpah sampai ke jalan.

Dengan luas 28×75 meter dan kapasitas 1000 kursi, Bioskop Sempurna adalah gedung yang sangat megah pada masa itu. Dalam sehari ada tiga kali pemutaran film, yakni pukul 14.30, 16.30, dan 19.30 dengan harga karcis Rp50. Bioskop Sempurna juga jadi sumber kehidupan 24 karyawannya, terdiri dari tiga operator proyektor, tiga penjaga, empat petugas karcis, enam tenaga kebersihan, dan delapan petugas lainnya.

Pemilik bioskop untung besar. Abbas dan istrinya pergi haji pada 1965. Empat tahun kemudian, 2 Februari 1969, H.M. Abbas Saleh wafat dalam usia 51 tahun dan pengelolaan bioskop dipegang putera-puteranya sambil diawasi ibu mereka, Sare’ah Abbas.

Ketika saudara-saudara Nilma ini harus meninggalkan Curup untuk kuliah di Palembang, keluarga dan para pemegang saham lainnya sepakat menyewa jasa orang lain sebagai pengelola. Keluarga Abbas hanya menerima hasil tiap bulannya sesuai persentase saham. Baru kemudian adik Nilma, Farid (kelahiran 1965) ikut mengelola bioskop sambil kuliah di Universitas Bengkulu.

Area penonton. Turun melandai sampai ujung sana, tempat layar.
Area penonton. Turun melandai sampai ujung sana, tempat layar. Foto: Silvia Galikano.

Dimulai keberadaan televisi di hampir tiap rumah pada 1970-an dan berlanjut dengan hadirnya video, berimbas pada berkurangnya jumlah penonton bioskop. Pesaing pun muncul ketika Pemerintah Daerah mendirikan Bioskop Pat Petulai pada 1974. Kondisi ini diperburuk dengan berkurangnya pasokan film. Setelah merugi makin banyak, dan gempa besar yang mengguncang Bengkulu pada Desember 1979 menyebabkan bangunan bioskop retak-retak, Bioskop Sempurna terpaksa menutup layarnya untuk yang terakhir pada 1986.

Pemilik/ ahli waris sepakat meruntuhkan Bioskop Sempurna guna menghindari korban nyawa. Materialnya dibagi lima dan tanahnya dikembalikan ke keluarga Abbas. Kursi kayu deret yang sekarang diletakkan di depan rumah Nilma adalah salah satu warisan bioskop. Dulunya kursi penonton kelas ekonomi. Penonton kelas eksekutif duduk di kursi rotan beralas bantal empuk. Kursi rotan itu sudah tidak ada lagi sekarang.

Saya sempat bertanya jika Nilma masih menyimpan foto saat Bioskop Sempurna berjaya, tapi sayang dia tidak lagi menyimpan foto itu. Dulu pernah ada yang pinjam tapi tidak dikembalikan.

Kursi penonton kelas ekonomi
Kursi penonton kelas ekonomi. Foto: Silvia Galikano.

“Mengapa keputusannya diruntuhkan, bukan diperbaiki?”
“Retaknya parah. Takutnya tiba-tiba gedungnya ambruk saat ada orang di dalam.”

“Mengapa sekarang dibiarkan kosong, tidak dibangun?”
“Siapa yang berani bangun?”

“Mengapa tidak dijual?”
“Siapa yang mau beli? Sudah, biarkan saja begitu.”

Saya sebenarnya menunggu jawaban terkait supranatural sebagai sebab bangunan ini dibongkar dan dibiarkan terbengkalai, tapi kalimat yang saya tunggu-tunggu itu tidak juga muncul. Pasalnya, sebelumnya, dua bapak di kios sticker bercerita bioskop ini berhantu. Pernah ada beberapa kali orang meninggal di bioskop, entah apa sebabnya. Mereka pun menyebut salah satu nama.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s