Dari Generasi yang Terampas

20140714_MajalahDetik_137_102 copy
Penduduk Asli (Indigenous) Australia punya jejak perjuangan panjang di tanah moyangnya sendiri yang dijadikan koloni orang kulit putih. Semangat itu terasa benar dalam karya-karya senimannya.
Oleh Silvia Galikano
Sebuah lukisan membawa kita mundur ke masa ketika bocah-bocah Aborigin diangkut pemerintah kulit putih, dipisahkan dari keluarga, dan dibawa ke panti-panti asuhan. Please Welfare, Don’t Take My Kids (1987) nama lukisannya, karya seniman Robert Campbell Jnr dengan dominasi teknik lukis titik khas Padang Pasir Tengah.
Ada dua rumah panggung bersisian. Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Penghuni dua rumah berdiri di terasnya dengan sikap marah. Empat bocah mereka kini dalam cekalan dua pria dan satu perempuan kulit putih berdasi, hendak dimasukkan ke mobil. Sepasang orangtua berusaha mengejar anak mereka.
Mari sandingkan dengan The Ungrateful (1999) yang dibuat Julie Dowling. Seorang perempuan dewasa berkulit putih bertopi lebar duduk anggun dikelilingi empat bocah. Empat bocah berkulit hitam ini didandani ala anak kulit putih.
Please Welfare adalah salah satu cara Robert Campbell Jnr merayakan darah Aborigin yang mengalir di tubuhnya. Dia membuat gaya kontemporer istimewa yang cerdas serta humor mendalam dari pengalamannya hidup di banyak budaya.
Sedangkan Julie Dowling menggunakan kisah pibadi untuk mengangkat tentang keaboriginan, sejarah yang tersembunyi, dan trauma generasi yang terampas (stolen generation). The Ungrateful merujuk pada kawan keluarga Dowling yang dia panggil “Auntie”. Auntie ini dulu diambil dari keluarganya pada usia 2 tahun, berpindah-pindah dari satu keluarga angkat  ke keluarga angkat lainnya dan mengalami siksaan demi siksaan.
Belakangan dia tahu, seorang ibu yang mengembalikan Auntie kecil ke pemerintah memberi alasan dia “anak manja, tidak tahu terima kasih, dan butuh disiplin”. Jadi siapa yang tidak tahu terima kasih? Si ibu yang berkulit putih atau si anak yang berkulit hitam?
Lukisan ini adalah cara Auntie bersuara dan menyelesaikan kepingan masa kecilnya sambil berharap bisa menjadi dokumen yang menyimpan semangat dan keberanian Auntie bertahan hidup.
Please Welfare dan The Ungrateful mewakili suara generasi yang terampas, yakni anak-anak Penduduk Asli Australia dan Selat Torres yang dipisahkan dari keluarganya oleh pemerintah Australia. Di sana ada kedukaan, salah tempat, dan kehilangan. Namun di dalam karya-karya tersebut terkandung humor, energi, dan yang penting, optimisme. Selain itu, dua karya tersebut merupakan perspektif unik sejarah Australia serta gerakan politik dan sosial dari seniman yang merupakan Penduduk Asli yang tinggal di perkotaan.
Dua karya tersebut berada di antara karya-karya 11 seniman Penduduk Asli Australia dalam pameran berjudul Message Stick: Indigenous Identity in Urban Australia di D’Gallerie, Jakarta, 3-9 Juli 2014. Pameran yang diadakan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia bekerja sama dengan Artbank ini dibuka Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty.
“Banyak yang sudah mengenal kesenian kontemporer Penduduk Asli Padang Pasir Barat dan Tengah. Namun karya-karya seni yng dipamerkan di Message Stick agak berbeda, karena karya-karyanya bercerita tentang kisah-kisah pribadi tentang kehidupan perkotaan Australia selama tiga dasawarsa terakhir,” ujar Dubes Moriarty saat pembukaan.
Pameran ini menyajikan perpektif politik dan sosial dari sejarah dan budaya Australia. Banyak seniman Penduduk Asli yang tinggal di perkotaan Australia berada di garis depan seni kontemporer. Hingga kini, seniman tersebut dikategorikan sebagai seniman Penduduk Asli. Namun tak sedikit dari seniman itu yang ingin disebut seniman Australia kontemporer saja, dan menolak digolongkan berdasarkan garis keturunan.
Kota Australia mengacu ke kawasan metropolitan atau kota-kota besar daerah. Penduduk Asli pindah kota-kota di kawasan ini tak lama setelah kedatangan First Fleet pada 1788 dan kolonisasi berikutnya. First Fleet adalah sebutan bagi 11 kapal yang meninggalkan Inggris Raya pada 13 Mei 1787 untuk menemukan sebuah koloni hukuman yang menjadi permukiman Eropa pertama di Australia.
Kemudian datang lagi rombongan-rombongan berikutnya hasil dari pemindahan paksa dari tanah tradisional mereka. Ada pula orang per orang yang pindah karena tawaran akses lebih luas ke pendidikan dan pekerjaan. Bagi seniman, pusat kota menyediakan sekolah seni dan fasilitas workshop, ruang pamer, studio, perhatian kritikus, dan yang penting, orang-orang sepemahaman untuk bertukar ide.
Bagi masyarakat Penduduk Asli, tinggal di kota berarti ikatan ke budaya dan bahasa tradisional mereka terputus sebagai konsekuensi kebijakan asimilasi pada awal abad ke-20. Akibatnya, mereka tidak dapat melacak sejarah keluarga hingga bahasa khusus suatu kaum yang tinggal di daerah sebelum 1788.
Seni oleh seniman Penduduk Asli yang tinggal di perkotaan mengalami masa jaya pada 1970-an dan 1980-an pada periode perubahan sosial dan politik. Banyak seniman merespon tumbuhnya momentum gerakan hak-hak Aborigin menyusul referendum nasional 1967 yang memberi hak kewarganegaraan penuh bagi kaum Aborigin. Seniman menggunaan seni mereka sebagai cara berhubungan lagi dengan warisan budaya mereka serta jadi kendaraan untuk memprotes dan menanggapi isu tentang generasi yang terampas, rasisme, dan perampasan.
Maka inilah Message Stick, sebuah perspektif kompleks tentang identitas Penduduk Asli Australia kontemporer. Kita diajak menjelajahi juga sejumlah isu di masyarakat Australia, termasuk stereotipe dan identitas budaya. Karya-karya ini akan membuat kita berpikir berbeda tentang apa arti jadi Penduduk Asli di Australia saat ini.

 ***
Dimuat di Majalah Detik edisi 137, 14-20 Juli 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.