Dari Turturro untuk Woody Allen

gigolo

Tidak lagi muda dan tidak tampan rupawan. Itu syarat laki-laki yang akan disewa dua perempuan ini.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Fading Gigolo
Genre: Drama,  Comedy
Sutradara: John Turturro
Skenario: John Turturro
Produksi: Millenium Entertainment
Pemain: John Turturro, Woody Allen, Sharon Stone
Durasi: 1 jam 30 menit

Jadi germo ternyata gampang saja bagi Murray (Woody Allen).

Setelah toko buku antiknya, yang merupakan turun temurun dari kakek ke ayahnya, terpaksa tutup akibat sepi pembeli, Murray musti putar otak untuk sumber penghidupan berikutnya.

Kesempatan terbuka ketika dia ke dokter spesialis kulit langganan, dr Parker (Sharon Stone). Tiba-tiba saja, tak ada angin tak ada hujan, dr Parker minta Murray mencarikan laki-laki untuk threesome bersama kawan perempuannya, Selima (Sofia Vergara). Namun sebelum threesome, dr Parker minta “uji coba” dulu berdua dengannya.

Murray menyodorkan nama seorang kawan yang florist paruh waktu sekaligus tukang ledeng, Fioravante (John Turturro).

“Tapi aku tidak muda dan tidak tampan,” kata Fioravante di tengah keterkejutannya ketika Murray menceritakan kejadian tadi siang.
“Justru itu yang mereka minta. Kau juga tidak pernah gagal dengan pacar-pacarmu.”

Sesuai jam yang disepakati, Fioravante berbalut jas lengkap dan menggenggam seikat bunga, datang ke apartemen mewah dr Parker. Mereka sama-sama gugup karena ini pengalaman pertama bagi keduanya. Baru kali ini Fioravante menjadikan seks demi uang, dan baru kali ini pula dr Parker menggunakan jasa gigolo.

Fioravante berhasil menutupi kegugupannya dan menunjukkan dialah pemegang kendali. Diiringi jazz lembut, dia raih tangan dr Parker dan mengajaknya berdansa sebelum menghabiskan malam di dalam kamar.

Keesokannya, Murray datang ke toko bunga tempat Fioravante bekerja, menanyakan bagaimana keberhasilan tahap uji coba kawannya itu dengan dr Parker. Fioravante menyodorkan amplop yang masih tertutup.

Isinya uang. Banyak. Bahkan ada kelebihan US$500 dari jumlah yang disepakati Murray dan dr Parker.
“Itu tips,” kata Fioravante.

“Tips? Wow, banyak sekali.”

Penghasilan pertama itu mereka bagi dua dengan lebih dulu tawar menawar sekenanya. Bukan tawar-menawar sebenarnya, karena usulan hanya dari Murray dan Fioravante seperti tidak peduli. Dari yang awalnya 50:50, berubah jadi 60:40, hingga akhirnya 70:30 dengan bagian terbanyak untuk Fioravante. Maka resmilah keduanya sebagai rekan kerja, gigolo dan germonya.

Fading Gigolo adalah kisah humor lembut yang dituturkan dalam tempo lambat. John Turturro selain pemain utama adalah sutradara sekaligus penulis skenarionya. Ini film kelimanya sebagai sutradara, setelah Mac (1992), Illuminata (1998), Romance & Cigarettes (2005), dan Passione (2010).

Bisa kita tangkap Fading Gigolo adalah sebuah penghormatan bagi karya-karya layar lebar Woody Allen, karena banyaknya kesamaan dalam dialog, tone, atmosfer, hingga musik skornya yang jazz lembut.

Selain plot utama tersebut, Fading Gigolo punya satu plot lagi, yakni tentang Avigal (Vanessa Paradis), janda rabbi Yahudi Hasidic yang hidup dengan enam anaknya. Dia menanggungkan kepedihan yang tak dapat dijelaskan.

Murray yang kenal dengan mendiang suaminya mendatangi Avigal. Awalnya untuk keperluan pekerjaan. Namun dalam kunjungan kedua dan ketiga, saat obrolan sudah cair, Murray menawarkan kawan yang bisa menyembuhkan kepedihan Avigal. Fioravante yang dimaksud.

Avigal yang cantik ini sudah lama disukai Dovi (Liev Schreiber), petugas Shomrim yang mengawasi lingkungan Yahudi Orthodox di Brooklyn, tapi selama ini Avigal menolak dengan alasan masih berkabung. Bercampur rasa cemburu, Dovi membuntuti terus ke mana pun Avigal pergi, termasuk ke apartemen Fioravante, dan memata-matai Murray yang jadi sumber kecurigaannya.

Dua plot ini berhasil menggali aspek-aspek yang dibutuhkan dengan adegan seks yang minim. Fading Gigolo “hanya berpura-pura” tentang tentang seks tapi fokus sebenarnya pada mengungkap apa sejatinya keintiman.

Di tangan Turturro, Sharon Stone yang kerap dipotretkan sebagai perempuan yang pegang kendali, seperti karakter femme-fatale legendaris di Basic Instinc (1992), kali ini jadi gugup dan tidak percaya diri.

Woody Allen memainkan karakter Murray yang lucu dengan kalimat-kalimat pendek menyentil syaraf tertawa kita.

Vanessa Paradis dengan kecantikan klasik yang tidak mencolok masih menunjukkan kualitas misteriusnya, tak banyak beda dengan yang dia tampilkan dalam Noce Blanche (1989) garapan Jean-Claude Brisseau.

Satu tantangan yang tidak bisa diatasi Turturro adalah absurditas cerita. Sulit menerima ide seorang tua pemilik toko buku antik dan jadi germo.

Kehidupan pribadi Murray tidak pernah dijelaskan secara memadai. Kita tidak pernah tahu apakah dia menikah dengan perempuan Afrika-Amerika (Jill Scott) yang tinggal satu apartemen dengannya. Demikian juga hubungan Murray dengan bocah-bocah berkulit hitam di apartemennya. Keluarga kah? Anak-anak tiri? Teman? Tidak jelas.

Fading Gigolo sebenarnya sangat enak dinikmati asal jangan pikirkan bangunan ceritanya. Anggap sebagai komedi romantis yang aneh tapi menyenangkan, yang pesonanya lumayan berhasil sebagai penawar keanehannya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 146, 15-21 September 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s