Gelap Turun di Planet Kera

planet of the apes

Sekelompok manusia yang tersisa sesudah sebaran virus maut menemui kenyataan pahit sekali lagi. Mereka harus berhadapan dengan kera yang jumlahnya ribuan, yang ingin berkuasa.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Dawn of the Planet of the Apes
Genre: Action | Drama | Sci-Fi
Sutradara: Matt Reeves
Skenario: Rick Jaffa, Amanda Silver
Produksi: 20th Century Fox
Pemain: Gary Oldman, Keri Russell, Andy Serkis
Durasi: 2 jam 10 menit

Sepuluh tahun berlalu sejak peristiwa terakhir di Rise Of The Planet Of The Apes (2011). Flu simian yang di bagian akhir film itu sudah menyebar, menewaskan sebagian besar manusia di bumi dan menyeret bumi dalam zaman kegelapan baru.

Selama 10 tahun itu, kera telah berkembang biak demikian banyak, di bawah pimpinan Caesar (sekali lagi dimainkan Andy Serkis). Mereka membangun peradaban yang damai di dalam hutan. Caesar menanamkan betul ke kawanannya, “Kera tidak membunuh kera.” Terakhir kali kawanan ini melihat manusia adalah dua tahun lalu. Sejak itu tak pernah lagi.

Saat sekawanan kecil kera sedang berjalan di hutan, mereka berpapasan dengan sekelompok manusia. Mereka adalah Malcolm (Jason Clarke), putranya Alexander (Kodi Smit-McPhee), istrinya Ellie (Keri Russell), Finney (Keir O’Donell), dan Foster (John Eyez).

Dua kelompok ini sama-sama kaget, sama-sama merasa terancam. Kelompok kera mengeluarkan jeritan-jeritan mengancam. Dalam kondisi panik Malcolm menembakkan senapannya, menumbangkan seekor kera, membuat jeritan-jeritan makin mengerikan.

Caesar menyeruak keluar dari kawanan, berdiri di tempat yang lebih tinggi dari kelompok manusia, dan tak disangka-sangka dia mengeluarkan perintah dengan suara menggelegar dalam bahasa manusia, “Pergiii…!!!” Malcolm dan kawan-kawan pun balik badan, lari tunggang langgang.

Mereka kembali ke tengah kota San Fransisco, ke City Hall, tempat ratusan manusia yang selamat dari virus simian dikumpulkan. Perbekalan bahan bakar di City Hall ini sudah menipis. Listrik yang jadi kebutuhan vital, tidak ada. Satu-satunya jalan untuk menghidupkan listrik adalah dengan mengaktifkan lagi bendungan yang ada di dalam hutan. Namun mereka sebelumnya tidak tahu bahwa bendungan itu sekarang masuk wilayah kekuasaan Caesar.

Malcolm melaporkan peristiwa barusan ke pemimpin di City Hall, Dreyfus (Gary Oldman). Agak sulit Malcolm meyakinkan Dreyfus bahwa yang mereka jumpai bukan sembarang kera, “Kera ini bisa bicara!”

Setelah mengumpulkan perbekalan yang cukup, kelompok ini berangkat lagi masuk hutan. Sementara di hutan, Caesar dan kawan-kawan bersiaga jika harus perang dengan manusia. Termasuk di sana Koba (Tobby Kebbell) yang pernah jadi kera percobaan di laboratorium manusia, dan hingga kini dendamnya tetap menyala pada manusia.

Dawn of The Planet of The Apes menyajikan film dengan skala masif, visual efek yang mudah dipahami, dan nyaris realistis. Alur maju-mundurnya seimbang, khususnya saat menggambarkan bagaimana hubungan antara seorang manusia dan seekor kera akhirnya terbentuk.

Penulis skenario Rick Jaffa dan Amanda Silver (juga menulis Rise of the Planet of the Apes) membuat skenario ampuh yang menghadapkan manusia dan binatang, baik itu secara fisik, emosi, dan intelektual. Sutradara Matt Reeves jeli sekali mengawinkan elemen-elemen yang membuat “fajar (dawn)” dapat menyampaikan segala hal yang seharusnya nampak benderang pada hari terang.

Bisa tayangnya Rise of The Planet of The Apes ini sebetulnya mengejutkan, setelah berkali-kali gagal membawa franchise sci-fi berdurasi panjang ini kembali ke layar akibat narasi yang parah. Namun Fox bersedia mencoba segala cara untuk memperbaikinya. Penulis skenario dan sutradara saat itu, Scott Frank, malah nyaris membuat film berjudul Caesar berbekal mandat Fox untuk membuat ulang Conquest Of The Planet Of The Apes (1972), tapi gagal.

Baru pada awal 2009, ketika Frank pindah, Fox kembali ke Rick Jaffa dan Amanda Silver yang membuat cerita berpijak kembali ke cerita original mereka, menggunakan penelitian alzheimer sebagai titik lompat.

Di Dawn of The Planet of The Apes nampak solidnya hasil kerja Matt Reeves. Bukan hanya melanjutkan Rise, tapi juga dapat menggali kedalamannya. Dia berhasil menunjukkan bagaimana seharusnya sebuah sekuel, dapat memelihara ide dan rasa tentang karakternya, serta membuktikan bahwa blockbuster bukan sekadar asal ekstravagan. Dawn bukan saja film genre sci-fi yang bagus, tapi sejauh ini, salah satu film terbaik tahun ini.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 137, 14-20 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s