Gending untuk Djaduk

20140825_MajalahDetik_143_102 copy

Merayakan usia emas, musisi Djaduk Ferianto mengajak kita melihat Indonesia melalui musik. Banyolan khas Jogja-nya tetap tak lepas.

Oleh Silvia Galikano

Djaduk Ferianto sudah 50 tahun. Sudah pula diberi nama tua, yakni Gending. Kawan-kawannya dari komunitas Kitab Blirik yang memberikan. Jadi nama lengkap Djaduk kini Gregorius Gending Djaduk Ferianto.

Pria kelahiran Yogyakarta, 19 Juli 1964 itu membuat perayaan setengah abad usianya lewat konser Gending Djaduk, Rabu 13 Agustus 2014, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selama dua jam, Djaduk menguntai keindonesiaan melalui musik khasnya didukung Kua Etnika, kelompok musik yang tak bisa dilepaskan dari proses kreatif Djaduk. Di situ ada Purwanto (perkusi), Sukoco (kendang), Benny Fuad Herawan (drum), Indra Gunawan (keyboard), Arie Senjayanto (gitar), dan Dhanny Eriawan Wibowo (bas).

Picnik ke Cibulan membuka konser. Lagu ini aslinya dinyanyikan seniwati tarling (gitar suling) asal Indramayu, Hj. Dariah. Djaduk mengenal Picnik ke Cibulan pada 1979 saat nyantrik di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Dia dapat kaset dari bapaknya. Namun kaset itu kemudian hilang. Baru setahun lalu dia menemukan lagu ini hasil bertanya pada “Begawan Youtube”.

Aransemen musiknya digarap dengan warna tarling yang kental. Djaduk menyanyi, tentu dengan logat Dermayon, berseling memainkan suling, menafsir ulang Picnik ke Cibulan dengan suasana baru. Sebuah perkenalan atas rangkaian piknik ke penjuru Nusantara lewat bebunyian.

Lalu komposisi Jawa Dwipa menyambung. Gamelan berpadu musik kontemporer mengedepankan kesan tentang Jawa masa kini yang sangat dinamis dan membuka diri terhadap kebudayaan.

“Boyokku….” jadi kata pertama Djaduk setelah bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju mic sambil memegang pinggang. Ingat lho, usianya “sudah” setengah abad. “Terima kasih atas keplok-keploknya. Saya dan Kua Etnika akan merayakan 50 tahun usia saya. Mudah-mudahan dosa-dosa saya selama 50 tahun ini bisa diwakili yang hadir.”

Salam pembuka yang grrr khas Djaduk membuat suasana hangat dan kode buat penonton agar bersiap menerima celetukan-celetukan nakal berikutnya.

Dia bercerita tentang Jawa Dwipa, tentang Jawa yang sangat terbuka. Dulu Prabu Jayabaya pernah membuat ramalan “Jawa kehilangan Jawanya.” Namun bagi Djaduk, dunia Jawa sudah menjadi bagian dari dirinya, semangat yang tidak bisa hilang dari identitasnya. Makna kelangan (kehilangan) yang disebut Jayabaya, menurutnya, cuma pada bentuk, sedangkan semangat dan filosofinya tetap tertanam dalam hati setiap orang Jawa.

Ilang yo ben (hilang ya biar saja). Ra popo. Cari lagi.” Bahkan saking terbukanya, semua bisa diadopsi orang Jawa. Yang ekstrem, bahkan malu dan menyembunyikan Jawanya. “Orang Jawa yang baru beberapa hari tinggal di Jakarta bahasanya sudah pakai ‘idih’. Kalau lagi lupa, “Ini harganya pira (bukan piro, red.)?”

Yang menggelikan, dia mencontohkan kalimat, “Eh sekarang Indonesia punya presiden baru lho, Joko Widodo.”

“Widodo, widodo…. Wid-dhod-dho, Su!” Maka pecah suasana malam itu. Penonton bukan lagi menertawakan orang yang jadi contoh kasus, melainkan sedang menertawakan diri sendiri, menertawakan kekonyolan yang selama ini disembunyikan atau diingkari.

Ya, Jawa Dwipa sama sekali bukan tentang romantisme Jawa. Komposisi ini jalan kembalinya Djaduk ke Jawa, melalui bunyi.

Usai Bethari yang melodinya dibuat untuk Opera Anoman (1997) yang ditulis Nano Riantiarno, Djaduk berlanjut ke Pesisir. Samar-samar tertangkap langgam Melayu dan Madura dengan dominasi rampak kendang dan suling.

Pesisir mengingatkan kembali bahwa Indonesia punya budaya pesisir yang luar biasa banyak didukung karakter orang-orangnya yang terbuka, jujur, keras, dan bersahaja. Pantai adalah pintu masuk pergaulan budaya. Suasana dan elemen-elemen pesisir, semangat, kemeriahan, dan keterbukaannya, menjadi watak yang kuat dalam komposisi ini.

“Pesisir adalah kita, yang menyisir dari pinggir, untuk merasuk ke substansi. Jadi kalau memang ada yang punya gagasan mengembangkan budaya maritim, memang pas orang itu.” Bisa ditebak, kalimat barusan mengacu ke siapa walau Djaduk tidak mengucapkan.

Jika dulu orang berpikir tentang samudra, tentang hal-hal besar, sekarang orang berpikir tentang budaya korupsi dan pintu yang terbuka bagi provokator. Kekhawatiran ini dia tuangkan dengan memlesetkan lirik lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut jadi begini: nenek moyangku provokator//gemar merawat prilaku kotor//ngga mau kalah malah melapor//senangnya mengutip kata-kata “bocor” .

Angop (bahasa Jawa, tidur) adalah komposisi paling unik dari semua repertoar malam itu karena menggunakan klenengan sapi sebagai instrumen utama. Klenengan (genta yang disambung tali, diikatkan ke leher sapi) digenggam tiga pemain: Djaduk, Purwanto, dan Sukoco. Bertiga mereka duduk berjajar.

Djaduk hanya memegang satu klenengan, sedangkan dua lainnya memegang dua klenengan di tangan kanan dan kiri. Satu per satu klenengan, yang masing-masing punya nada berbeda, dibunyikan, membentuk melodi lembut. Pas sebagai pengiring tidur.

Tidurnya siapa? Tidurnya wakil rakyat saat bersidang di Gedung Parlemen. “Hoaaam” di sini disahut “hoaaam” di sana. “Cangkem (mulut, red.)-nya itu lho, menganga. Secara visual sangat kontemporer. Makanya komposisi ini saya sebut Angop.”

Berlanjut ke Swarnadwipa dengan tiupan serunai memikat, mengantar cerita tentang sejarah panjang Bukit Barisan dan kekayaan tradisi Pulau Emas yang tak akan habis digali. Lalu Barong yang dinamis, mengentak-entak layaknya gerakan tari topeng yang magis.

Di antara dua nomor itu, Djaduk menyelipkan Demen Becik Rukun Seger Waras yang baru dibuat 10 hari sebelum konser. Komposisi ini inspirasinya didapat sewaktu dia ke Blora dan bertemu komunitas Samin. Di sana dia menemukan motto “Demen becik rukun seger waras” yang dicetuskan tokoh Samin Surosentiko (1859-1914).

Di tengah masyarakat Samin, Djaduk melihat Indonesia yang ideal. Lugu tapi cerdas, dengan sabar menjaga keharmonisan dan perbedaan, dan perdebatan tak lain cara menuju yang terbaik, bukan atas dasar punya modal lalu ngotot.

“Indonesia harus melihat lagi kearifan lokalnya, belajar kembali pada orang-orang sederhana, pada cah ndeso, pada petani, nelayan, blusak-blusuk. Ini bukan bayaran lho, lebih dari relawan.”

Bintang tamu tunggal malam itu, Glenn Fredly yang tampil tanpa topi pet, menyanyikan Molukken (Kole-kole) dalam tempo pelan. Suaranya dominan dengan musik pengiring yang minim. Seperti diajak naik kole-kole yang diayun gelombang tenang Teluk Ambon. Glenn bahkan nyaris tidak beranjak dari tempatnya berdiri hingga lagu habis.

Maluku lah yang dulu sekali membuka mata dunia tentang Nusantara, dari rempah-rempahnya yang tersebar ke mana-mana. Maluku adalah kumpulan pulau yang bernyanyi. Sejarah panjang sejak prakolonial hingga zaman millenium ini bisa dilacak melalui lagu-lagu yang berkembang di sana.

Di akhir konser, Butet Kartaredjasa yang jadi kepala tim produksi sekaligus kakak sulung Djaduk, naik panggung. Walau sebenarnya untuk menyampaikan ucapan terima kasih, tapi kenyataannya jadi tek-tok menggelikan “bongkar-bongkar aib” dari abang-adik ini.

Misalnya kalimat pembuka Butet, “Saya heran mengapa Djaduk merayakan ulang tahun ke-50. Padahal buat saya musibah. Umur 50 itu kandidat diabetes.” Djaduk pun menjawab, “Ini doa kakak yang kurang sopan. Kalau saya meninggal duluan, Butet orang pertama yang saya primpeni (hantui).”

Sejak SD, Djaduk sudah membantu menggarap musik untuk pementasan teater Butet. Tak berlebihan kalau Butet sesumbar dialah yang paling tahu perjalanan musik Djaduk, termasuk detail-detail perjalanan yang tersembunyi dan rahasia.

“Saya tahu Djaduk ini sebagai pemusik, dia betul-betul sebagai pemusik yang terstruktur, sistematis, dan massive.” Halah, kok senada seirama dengan adiknya. Ngga ikut-ikutan deh. Panjang umur dan banyak bahagia, Mas Djaduk!

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 143, 25-31 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s