Hal Pelik Perawan New York

very good girls

Dua remaja yang beranjak dewasa memutuskan segera melepas keperawanan. Masalahnya, dengan siapa? Keduanya single.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Very Good Girls
Genre: Drama
Sutradara: Naomi Foner
Sutradara: Naomi Foner
Produksi: Tribeca Film
Pemain: Dakota Fanning, Elizabeth Olsen, Boyd Holbrook, Sterling Jones
Durasi: 1 jam 31 menit

Gerry (Elizabeth Olsen) tiba-tiba saja mencopot bajunya diikuti tatapan terkejut Lily (Dakota Fanning), “Kamu gila?”

Gerry tak peduli, dia terus melucuti semua yang menempel di tubuhnya. Inilah kesepakatan mereka sebelumnya untuk segera melepas keperawanan dan merayakannya dengan cara sama-sama nyebur ke laut dalam keadaan bugil. Melihat sahabatnya sudah di bibir pantai, Lily pun ogah-ogahan ikut melepas semua pakaiannya, lalu berlari menyongsong ombak sambil terkikik-kikik.

Selesai berenang, mereka meninggalkan pantai, mengayuh sepeda masing-masing, saling menggoda dan terus saja terkikik-kikik. Hingga Gerry tak dapat mengontrol sepedanya, menabrak kios es krim di pantai.

Keduanya berhenti untuk meminta maaf pada pemiliknya. Gerry bahkan membeli es krim setelah berbasa basi sebentar, tapi David (Boyd Holbrook) si pemilik kios menanggapinya dingin.

Ketika Gerry bertanya es krim apa saja yang dia punya, David menjawab ketus, “Tidak ada yang istimewa. Semuanya hasil daur ulang limbah industri.”

Kesal karena sahabatnya diperlakukan demikian, Lily berteriak dari sepedanya, “Hei, dia cuma berusaha ramah. Jangan judes begitu!”

Lily pulang ke rumah mewahnya di ujung jalan. Dua adiknya sudah duduk rapi di meja makan di lantai atas. Ibunya (Ellen Barkin) yang sudah berbaju rapi meminta Lily memanggil ayahnya di ruang praktik di lantai bawah sebelum makan malam keburu dingin.

Lily turun, masuk ruang praktik yang pintunya tidak dikunci dan tidak ditutup rapat. Pemandangan di depannya adalah ayahnya (Clark Gregg) sedang berciuman panas dengan seorang pasien perempuan. Dia mengurungkan langkahnya diam-diam, lalu naik lagi ke ruang makan tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Ingin melupakan yang baru dilihat, Lily pergi ke rumah Gerry yang hangat, yang tiap anggota keluarganya seolah tak pernah berhenti bicara, yang ayah (Richard Dreyfuss) dan ibunya (Demi Moore) nyeletuk tentang seks sama nadanya dengan mengabarkan lampu teras mati.

Dua sahabat ini ngobrol di dalam lingkaran semak-semak di halaman depan dengan nada bisik-bisik. Topik kini beralih ke kesepakatan mereka melepas keperawanan sebelum berangkat ke kota lain untuk kuliah. Melepas keperawanan dengan siapa? Itu masalahnya. Karena keduanya perempuan single.

Dalam obrolan mereka di hari lain, Gerry utarakan sedang mengincar David yang sejak bertemu sudah memikat hatinya. Apalagi mereka bertemu lagi sewaktu David pada suatu malam datang ke restoran tempat Gerry menyanyi sebagai penampil tetap. Namun Gerry tidak tahu David baru saja berhasil menemukan Lily, mendapat alamat rumahnya, dan sudah datang ke rumahnya.

Plot selanjutnya bolak-balik antara Gerry dengan keluarga serunya, Lily dengan keluarga kakunya, dan bagaimana David masuk dalam persahabatan dua perempuan ini.

Very Good Girls ditulis dan disutradarai Naomi Foner. Very Good Girls adalah debut penyutradaraan Foner. Sebelumnya, Foner menulis skenario film layar lebar Running on Empty (1988), Violets Are Blue (1986), dan Bee Season (2005). Film-film ini punya satu kesamaan: respek yang sehat terhadap reaksi seseorang atau orang-orang tercintanya menyikapi perubahan hidup.

Dia memunculkan drama bagus tentang persahabatan perempuan, rahasia pribadi, orang tua yang tak sempurna, serta upaya mengontrol anak-anak yang akan meninggalkan rumah.

Foner memilih tema seksual bagi perempuan muda tapi dengan sensibilitas nyeni. Dia melibatkan dua perempuan paling cemerlang dan berbakat saat ini, Dakota Fanning dan Elizabeth Olsen sebagai remaja yang baru lulus SMA. Sekadar catatan, Fanning berumur 20 tahun, dan Olsen 25 tahun.

Keduanya bermain nyaris tanpa cela, juga pemain-pemain lain yang menyuguhkan sisi lain kualitas akting mereka yang berbeda dibanding yang selama ini dijejalkan Hollywood. Penonton pun dibawa ke New York yang lain, ke Manhattan yang lain. Bukan cuma yang dikuasai kemacetan dan gedung-gedung pencakar langit. Ada rumah yang hangat dan persahabatan unik di Manhattan.

Demi Moore dan Richard Dreyfuss pun jadi lebih membumi. Moore tampil sebagai hippie berbaju gombor tanpa perhiasan, dan Dreyfuss digambarkan sebagai bapak-bapak sok tahu tentang banyak hal. Kita bisa-bisa luput memperhatikan bahwa yang bawel tentang makanan sehat barusan itu Demi Moore kalau tidak memperhatikan cara bicara dan suara seraknya yang khas.

Dengan sederet aktris dan aktor pilihan serta akting kelas satu mereka, entah mengapa Foner memilih long-shot untuk sebagian besar adegan. Akibatnya banyak bagian yang bikin gemas ketika ekspresi pemain tak dapat ditangkap maksimal.

Bagi penggemar Fanning sejak di I Am Sam (2001), Very Good Girls lebih dari sekadar pelepas rindu pada aktris ini. Fanning yang tumbuh di depan kamera, kini matang dengan kecerdasannya. Kedipan mata bulatnya dan keriangannya ketika melompat-lompat di halaman hanya mengenakan baju dalam, membuat penggemarnya, terutama pria, ingin ikut melompat-lompat bersamanya. Tak peduli di sana ada layar tak tertembus.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 145, 8-14 September 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s