Ikon Baru Seniman Muda Bali

20140922_MajalahDetik_147_102 copy

Bali tidak pernah diam. Pergulatannya mengalir terus dari zaman ke zaman. Kini Bali menemukan sinergi baru budaya populer dan tradisi.

Oleh Silvia Galikano

Dari Kan Ada, Roman (Cak Lontong) datang berwisata ke Bali. Di negeri para dewata ini dia didampingi pemandu wisata (Insan Nur Akbar) yang luar biasa mata duitannya. Tiap sebentar minta bayaran.

One information, one dollar, Sir,” katanya pada Roman. Jadi kalau dia memberi tahu nama tiga tetangganya; Putu, Made, dan Ktut, maka setelahnya, Roman akan dimintai duit tiga dolar.

No problem,” jawab Roman sambil merogoh saku, “No problem for you, but for me very problem.”

Roman dibawa ke Kuta, Sanur, Kintamani, dan Bedugul. Di sebuah pura, Roman berkenalan dengan Sita (Ayushita) usai gadis ini bersembahyang. Roman tertarik pada Sita. Dia pun menjanjikan macam-macam kemewahan agar Sita mau menerima cintanya.

“Kalau kau mau, aku ajak kawan-kawanku yang investor ke sini. Kita bangun jalan tol, semua kita bangun, kita bikin Bali sebagai pulau metropolitan agar kau bisa menikmati suasana kota modern di Bali, seperti di Klaten, negeri bagian di Kan Ada. Semua serbakomputer,” Roman melemparkan rayuan mautnya.

Sita tidak langsung mengiyakan tawaran Roman. Pasalnya ada pemuda kampung yang sudah lebih dulu mendekatinya, bernama Made (I Wayan Balawan), putra Bape (Marwoto) seorang tokoh spiritual Bali. Made yang sederhana ini pandai bermain gitar dan rajin ke pura. Bape pun dapat membaca maksud tersembunyi Roman terhadap Sita.

Sita bimbang menentukan ke mana hatinya dilabuhkan. Persaingan merebut Sita makin lama makin keras. Dari yang merayu Sita, meledek saingan, sampai perkelahian fisik.

Pak Sapta (Sapta Nirwandar), ayah Sita, memberi masukan agar putrinya lebih baik bersama Made yang jelas baik perangainya dan punya kesamaan budaya. “Kalau sama Roman, nanti dia tidak mau ke pura.” Sita menerima saran ayahnya dan menerima Made sebagai calon suami.

Demikian Indonesia Kita yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 12 & 13 September 2014. Di tengah penolakan keras masyarakat atas upaya reklamasi Teluk Benoa, Bali, pementasan yang digagas Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Putu Fajar Arcana itu mengangkat lakon Roman Made in Bali.

Seniwati-seniman Bali dihadirkan, memperkuat barisan anak negeri yang menolak perusakan alam dan budaya Bali. Selain Balawan, ada pula penyanyi new age Ayu Laksmi, penyanyi opera Heny Janawati, I Made Sidia dengan wayang listriknya, dan kelompok tari KOBAGI (Komunitas Badan Gila) yang anggotanya dari beragam-ragam profesi. Muncul pula sebagai kameo Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Tjok Ace), sesepuh Puri Ubud yang merupakan tiang pancang tradisi Bali.

Keberadaan para seniwati-seniman Bali dalam satu panggung seni pertunjukan memberi “identitas” baru atas pencapaian ekspresi generasi paling kini di Bali. Bahwa Bali sejak pembabakan masa sejarah sampai hari ini, terus bertumbuh dan berinovasi, menemukan ceruk-ceruk kultural terbaru dan terus memberi harapan bagi lahirnya generasi masa depan yang berdialog dengan tradisinya.

Tak berlebihan bila dikatakan Bali sedang menuju puncak sinergi kebudayaan populer dan tradisi. Intisari kultur tradisi merembes dan memberi warna pada penghayatan hidup manusia Bali masa kini dan memberi respons atas apa yang terjadi di sekitar mereka hari-hari ini.

Sekilas, Roman Made in Bali tak ubahnya cerita ringan tipikal tentang dua pemuda yang berebut cinta seorang gadis. Namun mari lihat lebih dalam. Di situ ada Sita, gadis yang diperebutkan, sebagai pelambang Bali. Roman sebagai investor yang buas siap melahap sang gadis berbekal duit dari mana saja. Dan Made, penduduk lokal yang nyaris putus asa mempertahankan gadis yang dia sayang.

Kita melihat keputusasaan penduduk Bali ketika sawah leluhur dan pura yang dulu tempat anak-anak belajar menari, sudah berganti rupa jadi hotel, pub, dan minimarket. Bali dalam perebutan antara kepentingan wisatawan asing berikut pemodal dan keberpihakan pada keaslian budaya religius penduduk lokal.

Humor-humor spontan komedian Cak Lontong, Akbar, dan Marwoto, yang bukan dari Bali, menandakan Bali juga bersentuhan dengan sesuatu yang “di luar”. Marwoto yang asalnya seniman ludruk Jawa Timur itu sempat keteteran ketika Balawan, di luar skenario, atau mungkin sengaja untuk membangun kelucuan, nyerocos panjang dalam bahasa Bali.

“Wah bingung ini, jangan panjang-panjang. Tadi di latihan tidak ada,” kata Marwoto yang walau kebingungan tetap mempertahankan dialek Bali-nya.

Riuh rendah industri pariwisata sesungguhnya sudah ditanggapi I Wayan Limbak dan Walter Spies pada 1931 ketika menafsirkan ulang tari Sanghyang menjadi tari Cak sebagaimana yang kita kenal sekarang. Atau Spies dan Bonnet, bersama Tjokorda Raka Sukawati membentuk kelompok perupa Pita Maha, yang mewariskan lukisan bercorak Ubud dan Batuan. Mundur lagi ke abad ke-8 Masehi, ada nama besar maharsi Markandya yang mendirikan Pura Besakih atau abad ke-16 Masehi Bali mengalami masa keemasan saat pemerintahan Dalem Waturenggong.
Dan Bali kini, Bali kontemporer, punya ikon dan representasi sendiri yang menunjukkan Bali tidak berhenti. Generasi seniwati-seniman muda seolah membentuk satu orkestra yang disuarakan berbarengan, respons yang mencitrakan identitas kedirian mereka. Nyatanya, musik, lagu, dan cara mereka berkesenian diterima zaman.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 147, 22-28 September 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s