Kembara Pemuda dalam Bayangan

20140623_MajalahDetik_134_102 copy
Kelompok ini menggabungkan banyak metode memainkan wayang. Selain jadi kaya nuansa, penonton pun dibebaskan bertafsir.
Oleh Silvia Galikano
Ruang digelapkan. Satu lampu teplok menyala di tengah panggung, menerangi empat wayang karakter manusia dalam posisi duduk meriung satu meter di depan layar. Anne Bitran muncul dari belakang panggung membawa senter di tangan kanan dan satu wayang pemuda di tangan kiri dengan cara menggenggam dua bilah bambu yang terhubung ke kepala dan badannya.
Anne menyorotkan senter ke deretan empat wayang, menciptakan bayangan empat manusia besar di layar. Perlahan dia menarik-ulurkan tangan yang menggenggam senter, membuat bayangan membesar dan mengecil. Anne memasukkan wayang pemudanya ke dalam riungan empat pria dewasa ini dalam posisi sedikit mundur, khas orang baru yang ingin jadi pendengar setia dulu
Lalu si pemuda pergi, melintas kota, tertegun di bandara, menembus hutan, melewati desa-desa, hingga sampailah di pelabuhan. Di sana dia menemui seorang perempuan tua, dan terjadilah tawar-menawar sengit.
Dua tangan sedang menghitung uang kertas muncul di layar. Kali ini betul-betul tangan manusia yang diproyeksikan ke layar. Kembali layar menampilkan si perempuan tua dan si pemuda. Transaksi selesai, perempuan tua menerima uang, si pemuda menerima paspor dan naik ke kapal, pergi ke negeri yang dia cita-citakan.
Tak ada dialog dalam pementasan selama satu jam itu. Hanya musik yang dimainkan (dan diaransemen) Francesco Pastacaldi yang menandai adegan sedih, gembira, suasana hening atau gaduh. Tinggal penonton menebak-nebak jalan ceritanya sekaligus membebaskan berimajinasi dan bertafsir.
Demikian uniknya Teater Boneka Les Rémouleurs menyuguhkan lakon Frontières. Kelompok asal Prancis ini memainkan wayang dengan cara yang lebih kaya, yakni menggabungkan wayang kulit, wayang Thailand, wayang beber, dan wayang tavip dalam satu pementasan. Wayangnya pun ada yang terbuat dari kulit, dari kardus, dari mika, dan bahan-bahan lain. Ditambah metode yang tidak ada dalam wayang konvensional di Indonesia, misalnya tangan manusia yang menghitung uang kertas tadi.
Frontières dimainkan di Teater Salihara, 15 Juni 2014, yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan 10 tahun Printemps Français. Printemps Français adalah festival yang menampilkan khasanah seni Prancis modern sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia untuk berinteraksi dengan seniman Prancis. Tahun ini, Printemps Français digelar di 11 kota di Indonesia, dari 15 Mei hingga 23 Juni 2013.
Kembali ke Frontières. Pementasan yang demikian rumit itu hanya dimainkan empat orang, yakni Martina Menconi, Anne Bitran, Francesco Pastacaldi, dan Olivier Vallet sebagai kreator pecahayaan.
Lakon yang merupakan karya terbaru Les Rémouleurs ini idenya didapat saat mereka menjalani residensi di Thailand, dua tahun lalu. Di sana mereka belajar membuat dan memainkan wayang kulit Thailand dan wayang Kamboja.
Baru Januari lalu mereka mengkreasikan Frontières di Thailand dan dimatangkan di Paris. Karenanya tak heran banyak dijumpai musik khas Thailand, termasuk lagu pengantar tidur yang merupakan lagu tradisional negara tersebut, The Lonely Yellow Bird.
“Di sini pertama kali kami memainkan Frontières, dan pertama kali menggunakan bayangan. Biasanya wayang boneka,” ujar Anne Bitran usai gladi resik, 14 Juni 2014.
Tentang ide ceritanya, sepenuturan Olivier Vallet, adalah dari isu imigran yang merupakan isu penting di Eropa, mengingat serbuan imigran Timur Tengah ke Eropa. Isu ini juga yang kini “menghangatkan” hubungan Indonesia dan Australia serta Indonesia dan Malaysia.
“Setidaknya seribu orang per bulan berlayar ke Eropa dan banyak manusia perahu yang tenggelam sebelum mereka sampai,” kata Olivier.
Les Rémouleurs dibentuk pada 1983, dan diakui sebagai salah satu grup yang inovatif di bidang teater boneka, pewayangan, serta proyeksi gambar di Prancis.
Berawal dari kelompok teater jalanan, kini Les Rémouleurs mengeksplorasi pertunjukan untuk merengkuh publik yang lebih luas, yakni dari orang dewasa hingga anak-anak, dari gedung teater hingga tempat-tempat tak biasa, seperti kedai minuman dan gereja di pelosok Prancis. Dan kali ini, Indonesia ada dalam daftar tempat istimewanya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 134, 23-29 Juni 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.