Lakon Korupsi Anak Menteng

Untitled-1 copy

Keluarga yang selama ini adem-ayem, hidup lurus-lurus saja, terguncang setelah anaknya terlibat korupsi. Dia tidak sendiri, tapi kait berkait sampai ke calon menantu.

Judul: Sebelum Pagi Terulang Kembali
Sutradara: Lasja F. Susatyo
Produser: Abduh Aziz
Produksi: Cangkir Kopi
Pemain: Alex Komang, Nungki Kusumastuti, Teuku Rifnu Wikana, Fauzi Baadila, Adinia Wirasti, Ibnu Jamil
Durasi: 100 menit

Oleh Silvia Galikano

Renovasi sejumlah pelabuhan ditenderkan terbuka. Kontraktor yang bisa menyodorkan usulan paling bagus dengan harga paling murah akan mendapat proyek ini dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Begitu teorinya.

Praktiknya, calon kontraktor harus membuat lobi demi lobi dengan pejabat Kemenhub dan anggota DPR di hotel mewah, di lapangan golf, atau di klub mahal agar bisa mendapat proyek. Kalau proposalnya disetujui, maka uang tunai sekoper wajib diberikan sebagai uang muka sekaligus tanda terima kasih kepada pejabat Kemenhub dan anggota DPR tersebut.

Di tengah lingkungan seperti ini Yan (Alex Komang), pejabat lurus di Kemenhub, bekerja. Bukan hal mudah baginya. Dia tidak sekaya para koleganya. Mobilnya tetap mobil jadul. Tinggal pun di rumah ibunya, Soen (Maria Oentoe), di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Istrinya, Ratna (Nungki Kusumastuti), adalah dosen filsafat di Universitas Indonesia.

Anak sulung mereka, Firman (Teuku Rifnu Wikana) barusan pulang setelah diceraikan istrinya akibat terlalu lama menganggur. Dua anaknya diasuh mantan istrinya.

Satria (Fauzi Baadila) adalah anak kedua yang merasa diacuhkan sejak kecil. Saat SMP dia sudah bekerja pada pamannya. Hasilnya untuk menambah uang saku. Dan mulai SMA Satria tidak lagi bergantung pada orangtuanya. Sekarang, lajang ini jadi kontraktor kecil-kecilan dan sedang dekat dengan pelukis pendatang baru, Caca (Sabai Morscheck).

sebelum pagi
Adinia Wirasti sebagai Dian

Si bungsu di rumah itu bernama Dian (Adinia Wirasti). Sebelumnya sempat bekerja, tapi setelah dilamar Hasan (Ibnu Jamil) yang anggota DPR, dia berhenti bekerja, dan sekarang wara-wiri menyiapkan pernikahannya.

Tanpa diketahui ayahnya, Satria memasukkan proposal tender pembangunan pelabuhan di Kemenhub. Dia menggunakan melalui jalur resmi dan tanpa “orang dalam” karena toh ayahnya tidak akan sudi menggunakan pengaruh jabatannya untuk meloloskan proposal itu. Cara Satria yang naif ini diketawai Caca, “Kamu boleh jago, tapi kalau kamu enggak berada di lingkungan yang tepat, kamu bukan siapa-siapa.”

Caca kemudian memperkenalkan Satria pada seorang anggota DPR (Joko Anwar) yang punya link ke pucuk pimpinan di Kemenhub, atasan Yan. Anggota DPR ini ternyata berkawan dengan Hasan yang selama ini doyan ngompori Satria untuk minta proyek ke ayahnya.

Ajaib, proposal Satria diterima tanpa banyak syarat. Satria kini ganti mobil, membelikan ibunya mobil baru berikut menyediakan sopir, dan mempekerjakan Firman sebagai kurir uang. Masih saja Yan tidak tahu Satria-lah yang mendapat proyek renovasi sejumlah pelabuhan.

Kantor Yan heboh. Dia dianggap serakah sudah memasukkan anaknya sendiri dalam proyek dan tidak bagi-bagi “uang mukanya”. Atasannya, orang yang memberi proyek ke Satria, meminta Yan pensiun dini.

Hal pertama yang memberi kesan di Sebelum Pagi Terulang Kembali adalah rumah Menteng yang jadi kediaman Yan sekeluarga. Rumah ini terbilang masih asli. Ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dan dapur punya dinding pemisah jelas. Punya halaman depan dan halaman belakang luas dan teduh. Teras belakangnya digunakan untuk minum teh sore.

Film ini juga menampilkan potret tahun 1980-an yang sekarang tidak ada lagi di Jakarta, paling banter jarang, yakni keluarga berkumpul lengkap untuk sarapan saat matahari sudah nongol. Dan pada sore hari sudah berkumpul lagi untuk makan roti hangat bikinan nenek. Beneran ini Jakarta era milenium?

Lepas dari itu, mungkin dengan cara ini Lasja F. Susatyo ingin menyampaikan pentingnya nilai-nilai dalam keluarga, antara lain nilai kejujuran. Siapa yang memegangnya teguh akan selamat, sedangkan yang mengacak-acak akan dikacaukan hidupnya. Di keluargalah idealisme dan realitas bertemu, bahkan saling bertabrakan.

Sebelum Pagi Terulang Kembali adalah film kedua yang dibuat rumah produksi Cangkir Kopi setelah pada Januari 2012 membuat film omnibus Kita VERSUS Korupsi (KvsK). Kali ini, Cangkir Kopi bekerja sama dengan Transparency International Indonesia (TII). Walau temanya tentang korupsi, namun lebih jauh, film ini mempertanyakan kembali nilai-nilai integritas dan kualitas kemanusiaan kita dalam menghadapi pilihan-pilihan yang tidak mudah.

Lasja menampilkan kembali rasa film era 1980-an ketika Teguh Karya jadi langganan Piala Citra. Nampak jelas dia menyiapkan film ini dengan matang, terutama aktor-aktrisnya, hingga semua tampil jempolan. Chemistry-nya nyambung satu sama lain, dialognya hidup, dan gesturnya alami.

Kejutan diberikan Joko Anwar yang tampil sebagai cameo. Joko yang biasanya ada di belakang kamera, kali ini mendapat porsi lumayan banyak di depan kamera. Celetukan-celetukannya segar saat menghadapi temannya yang terobsesi nasi goreng, atau dengan ringan mengolok mobil Satria yang tanpa AC, “Naik mobil gue aja ya. Naik ini bisa tetanus entar.”

Melihat keberhasilan Lasja menggarap film bertema garing jadi demikian manis sekaligus membubuhkan bumbu yang segar, kita bisa menaruh banyak harapan pada perempuan sutradara satu ini. Dan penting juga, Lasja harus lebih rajin merayu Joko Anwar untuk lebih sering main film.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 128, 12-18 Mei 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s