Membumikan Sang Legenda

hercules

Hercules dilucuti dari kisah-kisah besarnya yang melegenda. Di tangan Brett Ratner, manusia kuat ini adalah tentara bayaran.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Hercules (I)
Genre:  Action | Adventure
Sutradara: Brett Ratner
Skenario: Ryan Condal, Evan Spiliotopoulos
Produksi: Paramount Pictures & Metro Goldwyn Mayer Picture
Pemain: Dwayne Johnson, John Hurt, Ian McShane
Durasi: 1 jam 39 menit

Ada upah emas seberat bobot tubuhnya. Hercules (Dwayne “The Rock” Johnson) pun menerima tawaran pekerjaan dari Raja Thrace itu, Lord Cotys (John Hurt). Dia diminta membentuk dan melatih pasukan Thrace sekaligus membuat siasat perang dan ikut berperang melawan pasukan Rhesus (Tobias Santelmann).

Hercules ternama sebagai manusia tak terkalahkan. Bertahun-tahun masyarakat membicarakan prestasinya. Hewan-hewan buas dia kalahkan dengan mudah. Bahkan bergulat dengan harimau terkuat cukup dengan tangan kosong, dan menang. Kulit harimau itu kemudian dia kenakan sebagai jubah.

Keperkasaannya membawa Hercules jadi tentara bayaran. Dia membawahi lima awak dengan kemampuan mumpuni, yakni Amphiaraus (Ian McShane), Autolycus (Rufus Sewell), Tydeus (Aksel Hennie), Atalanta (Ingrid Bolso Berdal), dan keponakan Hercules, Iolaus (Reece Ritchie), sebagai agen propaganda. Dengan kalimat-kalimat indahnya, Iolaus merapsodikan Hercules ke pasukan di kubunya dan di kubu musuh.

Hercules berkelana dari negeri satu ke negeri lain sebagai tentara bayaran. Di tempat asalnya, Athena, dia difitnah sebagai pembunuh istri dan dua anak mereka, sementara dia tidak punya alibi untuk membantah tuduhan itu.

Lord Cotys, yang menyewa jasanya kali ini, sebenarnya naik tahta lewat kudeta setelah membunuh raja, yang tak lain menantunya sendiri. Arius (Isaac Andrews), putra mendiang raja, yang sekarang masih kanak-kanak, kelak adalah orang yang berhak duduk di singgasana. Itulah yang membuat ibunya, Ergenia (Rebeca Ferguson), khawatir ayahnya tak akan segan-segan membunuh Arius jika bocah ini dianggap mengancam kekuasaan.

Hercules putra Dewa Zeus, si manusia setengah dewa, itu bereinkarnasi dalam tubuh Dwayne Johnson dan kali ini terasa dekat dengan keseharian kita. Sutradara Brett Ratner telah membuat revisi atas mitos klasik ini.

Untung saja Hercules versi Ratner keluar belakangan dibanding The Legend of Hercules (Januari 2014) garapan Renny Harlin yang jeblok di pasaran. Ratner pun dapat menghindari banyak kesalahan yang ada di film Harlin, walau sebenarnya judul The Legend of Hercules lebih cocok dipakai untuk filmnya Ratner karena menggali betapa beratnya beban jadi seorang legendaris.

Narasi sederhana dalam durasi satu setengah jam (saja) pada akhirnya jadi nilai plus Hercules. Alurnya lurus, action-nya banyak. Film ini juga tidak mengandalkan komputer grafis dan layar hijau untuk adegan-adegannya sehingga nampak alami. Komputer grafis tetap ada, seperti hewan monster yang berhadapan dengan Hercules, tapi tidak jadi faktor utama.

Paling keren adalah strategi perang kuno dengan sudut pengambilan dari udara. Urut-urutan pasukan yang menyerang dari pasukan terluar hingga terdalam yang jadi pelindung raja, disuguhkan apik dan terlihat jelas. Semuanya membumi tapi tidak kehilangan power.

Ratner patut dipujikan karena mengambil cara klasik untuk membuat adegan-adegan yang jadi pusat cerita film ini. Nampaknya dia terinspirasi gaya naturalnya serial televisi Game of Thrones.

Tentu saja Hercules berutang banyak pada Johnson. Dengan segala hormat pada Steve Reeves, Lou Ferrigno, dan Ryan Gosling–ketiganya pernah memerankan Hercules, sejauh ini Johnson lah aktor terbaik untuk karakter ini.

Bakatnya alami. Johnson kerap jadi yang terbaik dalam film-film buruk. Di Hercules yang narasinya sederhana itu, Johnson dituntut banyak menggali sisi emosionalnya dalam adegan-adegan tanpa kata. Dia pun seakan-akan dapat berkomunikasi dengan baik melalui mata bulatnya. Dan gelar “The Rock” masih pas disandang walau dengan alasan berbeda.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 145, 8-14 September 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s