Menyanyilah di Bawah Sorot Purnama

tjut nyak

Lagu rakyat yang awalnya dinyanyikan secara sederhana, seketika muncul sensasi lain ketika dikemas dalam sajian orkestrasi. Sangat masa kini tapi tak menanggalkan roh masa lalunya.

Oleh Silvia Galikano

Adalah Tjut Nyak Deviana Daudsjah yang sudah lebih dari 20 tahun mengendapkan ide mengaransemen ulang lagu-lagu daerah dan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Hingga dalam sebuah obrolan, Tompi mendorong Devi, begitu perempuan berusia 56 tahun itu disapa, segera mengeksekusi idenya.

“Sudah Kak, buat saja, nanti saya ngomong dengan Pak Gita,” kata Tompi menanggapi ide lama yang sudah kesekian kali dilontarkan Devi. Pak Gita yang disebut Tompi tak lain Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI sekaligus pemilik label rekaman Omega Pacific Production yang pada 2005 memproduksi album pertama Tompi, T.

Di luar dugaan, dukungan dari Gita mereka dapatkan dengan sangat mudah, tanpa banyak syarat. Maka setelah 14 tahun hanya fokus pada pendidikan formal musik, kini Devi mewujudkan mimpinya, mengaransemen ulang lagu daerah dan lagu perjuangan dalam format orkestra.

Album yang diberi tajuk Symphonic Tales of Indonesia diluncurkan pada Senin, 8 September 2014 di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Sepuluh lagu termuat di dalamnya, yakni Ayo Mama, Keroncong Kemayoran, Anging Mamiri, Papaya Cha-cha, Yamko Rambe Yamko, Jembatan Merah, Cublak-cublak Suweng, O Inani Keke, Bungong Jeumpa, dan Rayuan Pulau Kelapa.

Lagu-lagu yang selama ini akrab di telinga, jadi punya bentuk dan rasa baru. Mendengar O Inani Keke terasa seperti menikmati skor musik film-film romantis. Separuh pertama adalah instrumentalia yang sangat lembut, dan separuh berikutnya masuk vokal Tjut Nyak Deani Daudsjah.

Papaya Cha-cha (Papa Mangga Pisang Jambu) yang berirama cha-cha-cha dibuat seperti jazz big band. Dan Anging Mamiri yang menyuarakan kerinduan dikemas dalam irama bossanova lewat vokal Tompi.

Devi adalah profesor di bidang musik yang mempelajari musik secara formal sejak berusia 5 tahun, di Bangkok. Pada usia 18 tahun, dia belajar piano klasik dan komposisi di Musikhochschule Freiburg, Jerman.

Devi melanjutkan kariernya sebagai pendidik di Jerman hingga jadi Direktur Akademik Jazz & Rockschule Freiburg dan merancang kurikulum yang disahkan pemerintah federal. Dia dikukuhkan sebagai profesor untuk ansambel, piano, vokal, improvisasi, paduan suara, dan pelatihan telinga di Akademi Musik Basel – Jazz Departemen, Swiss.

Selain berkegiatan di kampus, Devi tampil di panggung-panggung festival jazz di Eropa dan mendapat pengakuan sebagai artis yang luar biasa.

Baru pada awal 2000 Devi pulang ke Indonesia. Bersama pianis Nick Mamahit, dia mendirikan Yayasan Daya Bina Budaya dan Institut Musik Daya Indonesia, akademi musik independen pertama dengan kurikulum berstandar internasional di Indonesia. Tompi dan Titi Rajo Bintang untuk menyebut dua lulusannya.

Symphonic Tales of Indonesia adalah proyek idealis yang belum jelas pasarnya tapi ternyata mendapat dorongan banyak pihak. Kekhawatiran Devi tentang anak-anak sekarang yang tidak banyak tahu tentang lagu daerah adalah juga kekhawatiran banyak orang.

“Saya ingin mengembalikan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap lagu-lagu daerah. Mengembalikan citra Indonesia,” kata Devi saat peluncuran album ini.

Persiapan selama satu bulan digunakan untuk memilih lagu, mengaransinya, dan menyesuaikannya dengan orkestra. Semua diselesaikan di Indonesia. Baru kemudian Devi, Tompi, dan tim Institut Musik Daya berangkat ke Ludwigsburg, Jerman untuk rekaman di Bauerstudios bersama musisi Jerman. Satu hari untuk latihan, dua hari untuk rekaman pada 23 dan 24 November 2013.

“Budaya mereka disiplin, tidak membuang waktu, tidak bertele-tele, dan permainannya sudah sesuai standar internasional. Kalau kita bilang main pukul 10, mereka sudah pemanasan dari pukul 9.30,” Devi memberi alasan dipilihnya Jerman sebagai tempat rekaman.

Devi menemukan tantangan berbeda dalam mengaransi lagu-lagu daerah dalam gaya abad ke-21. Aransemen Jembatan Merah, misalnya, tidak sulit dan tidak kompleks, harmonisasinya pun ringan, tapi tantangannya pada bagaimana membunyikannya jadi homogen, harmonis, dan indah. Contoh lain di Cublak-cublak Suweng, alat-alat gesek (string) bukan dimainkan dengan cara digesek, melainkan dengan teknik piccicato (dipetik). Jadi aransemennya tidak sulit, tapi teknik permainannya yang sulit.

Bagi musisi Jerman yang terlibat, Symphonic Tales of Indonesia adalah pengalaman baru dalam bermusik. Mereka harus mencari ekspresi yang pas dalam memainkan Kroncong Kemayoran yang musiknya minim, serta pergerakan kord dan harmoninya unik.

Jajaran pemain musik gesek mendapat tantangan memainkan Yamko Rambe Yamko. Dan Bungong Jeumpa mereka anggap unik karena pertemuan banyak budaya, antara lain Arab dan Amerika Selatan. “Kami nyaris menari waktu memainkan lagu ini,” ujar Johannes Wohlleben, mastering engineer proyek ini.

Symphonic Tales of Indonesia sudah jadi. Tentu ada harapan bakal ada Symphonic 2 bahkan Symphonic 3. Dan karena musik adalah satu medium untuk merayakan hidup, maka menyanyi… dan menarilah bersama Bungong Jeumpa atau Cublak-cublak Suweng, walau tak lagi di bawah sorot purnama.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 146, 15-21 September 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s