Merangkai Cerita Rian & Melati

20140721_MajalahDetik_138_107 copy

Dua napi kabur dari penjara. Di tempat persembunyiannya, mereka bersahabat dengan dua bocah kakak beradik.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Seputih Cinta Melati: Allah Maha Penerima Taubat
Sutradara: Ari Sihasale
Skenario: Armantono
Director of photography: Sony Setiawan
Produksi: Alenia Pictures
Pemain: Fatih Unru, Naomi Ivo, Chicco Jerikho, Asrul Dahlan
Durasi: 107 menit

Kaki kanan Melati (Naomi Ivo) terjepit, masuk di antara dahan-dahan pohon yang dipasang membujur agak ke tengah danau layaknya dermaga. Melati menjerit-jerit kesakitan sekaligus panik karena tak juga berhasil menarik kakinya. Abangnya, Rian (Fatih Unru), yang ikut membantu menarik kaki Melati, juga sama gagalnya.

Danau itu berada jauh dari kampung. Tak ada orang seliweran. Hanya sepi dan pepohonan di sekitarnya. Berteriak minta tolong pun tak ada orang kampung yang datang menolong.

Tanpa mereka duga, dua laki-laki berpakaian gamis muncul dari sela-sela pepohonan, berjalan cepat menuju dermaga, dan segera berhasil membebaskan kaki Melati. “Terima kasih, Pak Haji. Terima kasih, Pak Haji,” ujar Rian dan Melati kepada dua laki-laki yang mereka panggil “Pak Haji” itu.

Danau itu adalah tempat Rian dan Melati memancing hampir tiap sore menunggu berbuka puasa. Rian memancing, Melati menemani sambil mengerjakan PR. Menjelang magrib mereka pulang.

Di dekat danau ada pondok yang tak berpenghuni. Di sinilah dua Pak Haji itu untuk sementara bermalam, sebelum melanjutkan perjalanan. “Ke Mekah,” menjawab pertanyaan Melati tentang tujuan perjalanan mereka.

Esoknya, Rian dan Melati pergi memancing lagi di danau. Keduanya bertemu lagi dengan dua Pak Haji bergamis. Yang satu sedang memancing, satu lagi terbaring sakit di dalam pondok akibat maag kronis.

“Jangan panggil kami Pak Haji. Saya Ivan, yang di luar itu Erik. Kami bukan haji,” ujar Ivan (Chicco Jerikho) sambil memegangi perutnya. Sementara Melati duduk di samping Ivan melanjutkan hafalan surat An-Nasr.

Sementara Erik (Asrul Dahlan) di tepi danau terheran-heran dengan Rian yang gampang saja mendapat ikan, sementara mata pancingnya belum sekalipun ditarik ikan. Rian membagi tipsnya, yakni setelah mata pancing dilempar ke danau, ditinggal tidur saja. Tips itu berhasil ternyata ketika dipraktikkan Erik.

Rian dan Melati tidak tahu bahwa Ivan dan Erik adalah buron. Mereka baru kabur dari penjara. Polisi sudah mengunci semua jalan keluar kampung mereka, namun belum dapat petunjuk keberadaan keduanya di pondok tepi danau.

Khas Alenia Pictures muncul lagi lewat Seputih Cinta Melati: Allah Maha Penerima Taubat, yakni menyuguhkan pemandangan alam Indonesia yang cantik. Setelah tahun lalu menyajikan keindahan Rinjani lewat Leher Angsa (2013) atau sebelumnya, memotret bentang alam Papua dalam Di Timur Matahari (2012), kali ini bumi Parahyangan jadi latar belakang Seputih Cinta Melati. Sebuah kampung di Ciwidey dengan hamparan kebun teh dan satu-dua petak kebun strawberry.

Film ini adalah produk ke-8 Alenia Pictures, produk pertama yang bertema religi, dan film ke-6 Ari Sihasale sebagai sutradara. Walau menyebut sebagai film bertema religi dan dikeluarkan bersamaan libur Lebaran, Seputih Cinta Melati tidaklah semelankolik film-film atau sinetron yang mengklaim sebagai film/sinetron religi. Ceritanya lebih kaya, plot dan subplot yang tidak kedodoran, dan tidak mengkhotbahi penonton.

Ide bahwa karakter utamanya yang napi dan buron itu mudah ditebak kelanjutan ceritanya, tapi penulis naskah Armantono dan sutradara Ari Sihasale pandai menyelipkan unsur-unsur segar yang menghangatkan hati. Sebagai contoh karakter Asep (Argo Aa’ Jimmy) si jurkam partai yang kerap ngelantur berpidato layaknya caleg; Pak Haji (Yayu Unru) yang bolak-balik direpotkan urusan tali jemuran; dan Gery Puraatmadja sebagai bintara polisi yang baru menjual sepeda motor bututnya yang doyan mogok demi Denok, mobil bekas yang ternyata… doyan mogok juga.

Naomi Ivo menggemaskan sebagai Melati dan Sabai Morscheck yang berdarah Minang-Jerman itu luwes berlogat Sunda. Yang paling menonjol adalah Fatih Unru yang namanya lebih dulu dikenal di ajang stand-up comedy. Dia sangat alami, segar, dialognya cair, dan sama sekali tidak tertangkap kesan sedang menghafal naskah.

Usia Fatih boleh baru 8 tahun, tapi penguasaannya atas narasi dari awal sampai akhir layaknya aktor kawakan, sehingga ketika dia membuat improvisasi, hasilnya bukan sekadar nyambung dengan cerita melainkan membuat adegan itu jadi kaya. Adu aktingnya dengan Asrul Dahlan begitu hidup dan menciptakan punch-line keren penutup film. Buktikan sendiri di bioskop.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 138, 21-27 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s