Narasi Baru untuk Kotatua

kota tua

Bayangkan sepanjang Kali Besar yang airnya bersih berjajar café. Bayangkan juga ruang-ruang kuliah atau studio tari atau salon kecantikan ada di bangunan tua yang cantik. Semua itu mungkin di Kotatua.

Oleh Silvia Galikano

Rumah Akar di sebuah sudut di Kotatua Jakarta, 200 meter dari Taman Fatahillah, entah berapa usianya. Pun akarnya, tidak ada yang tahu sejak kapan menjalar-jalar mencakar hingga kini menguasai seluruh rumah.

Dinding bangunan berlantai dua itu bercat terakota. Balkonnya yang tertutup terbuat dari kayu dengan jendela-jendela lebar. Bukan balkon cantiknya yang jadi perhatian, melainkan pohon besar yang tumbuh di belakang bangunan ini, akarnya sudah menjalar ke seantero dinding. Struktur bangunannya masih bagus, masih kokoh, bisa jadi justru karena ditopang akar sehingga kalau akar-akar itu dibersihkan dari dinding, bangunannya akan roboh seketika.

Gedung ini dibangun pada pemerintahan Hindia Belanda sebagai kantor perniagaan milik VOC. Sempat beralih fungsi menjadi gereja. Setelah kebakaran yang merobohkan sebagian besar atapnya, bangunan ini kemudian dibiarkan begitu saja, tidak terawat, ditumbuhi pohon dan akar seluruh bangunannya sehingga masyarakat menjuluki bangunan ini “Rumah Akar”.

Ada ide menarik untuk memanfaatkan Rumah Akar, yakni dengan mempertahankan akar dan menjadikannya ornamen mempercantik ruang. Selain itu, menambahkan struktur baja baru di dalam bangunan untuk menopang lantai 1 dan 2 dan memasang dinding kaca sebagai secondary skin. Struktur baja juga akan menopang tambahan lantai 3-6 yang baru di belakang. Bangunan baru ini dapat dimanfaatkan sebagai hostel menggunakan secondary skin dengan material kayu yang sama seperti balkon.

Ide tersebut disodorkan para arsitek Gregorius (Yori) Antar Awal, Eliza Constantine Utama, Rendy Hendrawan, Inggita Saraswati, dan James Nurtanio dari Han Awal & Partners Architects dalam Jakarta Old Town Reborn (JOTR): 7 Projects for the City Exhibition di Galeri Erasmus Huis, Jakarta, 13 Juli – 15 Agustus 2014.

JOTR yang dimotori Erasmus Huis dan Rumah Asuh, berkolaborasi dengan tujuh firma arsitektur dari Indonesia dan Belanda, yakni Andramatin Architects, Djuhara+ Djuhara, Han Awal & Partners, KCAP, MVRDV, Niek Roozen bersama Wageningen University, dan OMA.

Mereka menyodorkan ide-ide untuk restorasi dan penggunaan kembali bangunan-bangunan tua di Kotatua Jakarta dalam bentuk gambar 2 dimensi, maket, dan video. Selain Rumah Akar, pengunjung dapat melihat bentuk reborn gedung Tjipta Niaga, gedung Kerta Niaga, gedung Sadeli, dan Kali Besar dengan suasana berbeda.

“Kota Bawah” adalah gagasan untuk menciptakan beberapa fasilitas pendukung kegiatan pariwisata di Kotatua Jakarta. Nama Kota Bawah diambil dari istilah yang digunakan Pemerintah Belanda untuk kawasan sekitar Taman Fatahillah sebagai pusat perniagaan. Fasilitas tersebut, antara lain art-space yang dikhususkan untuk menampung segala kegiatan yang berhubungan dengan Kotatua dan sejarah Jakarta, hostel untuk wisatawan dan para peneliti sejarah, serta café dan gift shop sebagai penunjang.

Konsep desain Kota Bawah adalah “Past and Present Architecture” dengan menangkap rekam jejak waktu dan memberikan nafas baru pada bangunan. Gagasan ini diharapkan dapat jadi contoh dalam mendesain proyek-proyek konservasi bangunan kolonial lainnya di Jakarta dan di seluruh Indonesia.

“Orang-orang terkenal pernah tinggal di Kotatua ini, dulu. Sayang sekali kalau kawasan ini sekarang mati,” ujar Yori Antar yang juga kurator acara.

Jakarta Kota pernah berfungsi sebagai “kota” dalam arti kata sebenarnya, yaitu yang intensitas kehidupannya sangat vital bagi dirinya sendiri sebagai kota dan bagi sekitarnya, juga sebagai jalur distribusi barang dan jasa. Setelah sekian lama mengalami degradasi fisik, kualitas hidup, dan fungsi Jakarta Kota sangat pantas untuk dihidupkan kembali. Sebuah kota yang hidup adalah sebuah kota yang berfungsi –melalui kembalinya aktivitas sosial, budaya, dan ekonominya; dengan penduduk yang menghidupinya.

Sekitar 182 artefak peninggalan zaman kolonial terbengkalai, dikelilingi lingkungan yang buruk dan berpolusi, dihindari sebagai tempat hidup dan/atau bekerja. Walau berbagai inisiatif telah dilakukan pemerintah maupun swasta, tidak banyak membangkitkan vitalitasnya. Satu per satu gedung tua punah akibat kurangnya pemeliharaan, rubuh, bahkan sengaja dirubuhkan.

Salah satu proyek perintis adalah Kantor Pos Kotatua yang dikonversi jadi Museum Seni Kontemporer serta Pusat Informasi Wisata Kotatua yang dibuka pada Maret 2014. Pameran ini memaparkan kelanjutan dari rangkaian proyek tersebut.

Beberapa gedung telah direnovasi dan diberi fungsi baru, semoga memberi dampak signifikan sebagai generator untuk menghidupkan kembali kawasan Kotatua yang semakin ditinggalkan dan dilupakan. Wajahnya telah dibekukan, semoga narasinya akan semakin kaya setelah selama ini diteruskan pedagang kaki lima dan penghuni liar yang membuat cerita baru sama sekali.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 138, 21-27 Juli 2014

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s