Politik Kartun Dodo Karundeng

20140602_MajalahDetik_131_102 copy

Seorang kartunis menyikapi persoalan Indonesia dengan cara berbeda. Lewat goresan spidol di atas kertas, dia menunjuk tanpa tedeng aling-aling, “Di sini lho salahnya.”

Oleh Silvia Galikano

Dua pendaki gunung sudah berada di punggung gunung. Awan sama tinggi dengan kepala mereka. Bangkai yang tinggal tulang menggeletak di tanah, dekat mereka. Satu pendaki menunjuk puncak gunung sambil berujar pada kawannya, “Ku yakin sampai di sana.” Kawannya menyahut, “Pake tanda tanya? Ato tanda seru!”

Anda bisa menjawab pertanyaan sang pendaki di kartun itu? Atau tersenyum garing saja sambil berkata dalam hati, “No hope”? Tentu tidak perlu penjelasan mengapa Dodo Karundeng, nama sang kartunis, mengambil kalimat yang sama persis dengan album ke-3 Susilo Bambang Yudhoyono.

Kartun Ku Yakin Sampai di Sana (2010) ada di antara deretan kartun lain Dodo Karundeng dalam pameran tunggalnya bertajuk Tahu Politik, di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, 20-30 Mei 2014. Dodo, yang pada 2007 pensiun dari Biro Foto ANTARA sebagai editor dan pewarta foto, pernah belajar seni lukis di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ini merupakan pamerannya yang ke-6 sejak pertama kali berpameran pada 1997 dan merupakan pameran kartunnya ke-2 setelah Otak Kartun pada Februari 2012.

Lewat karikaturnya yang kental sisi humoristik, Dodo menyindir, menyaji humor secara satiristik. Serupa anak panah yang melesat, menyasar tepat di jantung tanpa sempat melipar-melipir. Misalnya di Membrakot Hidung Pembohong (2012) dan Anda Menghayati Betul Peran Anda, Bos! (2012) yang memuat narasi-narasi bernada getir. Di Membrakot Hidung Pembohong, seorang berhidung panjang melotot akibat orang di depannya mengigit hidungnya sambil mengacungkan jempol. Pembohong itu keok di bohongnya.

Dan Anda Menghayati Betul Peran Anda, Bos! diambil dari ucapan seorang bocah perempuan kepada pemain sepak bola yang sedang pemanasan. Baju pemain bola berwarna merah dan celana putih. Di dadanya tertulis “Rp”. Ya, kartun ini tentang dua kawan yang sulit dipisahkan, olah raga dan duit, padahal penonton berapi-api membela jagoannya berbekal semangat nasionalisme.

Menikmati kartun politik bukan hanya menangkap makna gambar, tapi juga menengok peristiwa masa lampau berikut sinyal-sinyal kebudayaan yang muncul, masa ketika kartun itu dibuat. Karenanya, penikmat kartun jangan lupa melirik tahun pembuatan yang tertulis di tepi.

Ketertarikan Dodo Karundeng membuat kartun politik dimulai ketika ramainya pemilu dan Susilo Bambang Yudhoyono menang untuk pertama kalinya, 2004. Dia banyak mengangkat isu aktual di berbagai kota. Peristiwa yang erat dengan kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat dia terjemahkan ke dalam bahasa gambar yang lugu dan lugas. Kritiknya yang mengena dan tajam selalu mengandung unsur kebersahajaaan dan kepolosan sikap. Persoalan kehidupan juga menjadi masalah estetika.

Kembali ke Ku Yakin Sampai di Sana. Karena kartun Dodo dan album lagu SBY dibuat pada tahun yang sama, 2010, maka masih pas ketika si pendaki melontarkan pertanyaan tentang tanda tanya atau tanda seru itu. Sekarang, setelah empat tahun berlalu, dan pemerintahan SBY tinggal hitungan bulan, tentulah kita sudah menyimpan jawaban di saku masing-masing. Ataukah ungkapan “No hope” itu bocoran jawaban?

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 131, 2-8 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s