Rempak Gamolan Negeri Seribu Bambu

20140526_MajalahDetik_130_102 copy

Ada cita-cita besar menyuburkan kembali bambu di Pringsewu. Festival musik bambu salah satu cara yang ampuh.

Oleh Silvia Galikano

Gamolan serempak dimainkan di bawah satu aba-aba konduktor. Dalam irama menderap, lagu Alau-alau dan Sermendung dalam durasi total 5 menit menghangatkan malam Pringsewu yang sejak sore diguyur hujan.

Dengan selesainya dua lagu tradisional Lampung itu dimainkan, resmi juga MURI mencatat rekor dunia kategori penabuhan 429 gamolan. Peristiwa itu berlangsung saat pembukaan Festival Musik Bambu Nusantara ke-8 di Lapangan Pemkab Pringsewu, Pekonklaten, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, 15 Mei 2014.

Pada kesempatan yang sama diresmikan pula gedung baru Kabupaten Pringsewu oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar. Seribu meriam bambu diletuskan bergantian dan puluhan lampion diterbangkan menambah kemeriahan.

Gamolan yang dikenal juga dengan nama cetik atau gamolan peghing atau kulintang peghing adalah alat musik xilofon khas Lampung berbahan utama bambu. Asalnya dari Liwa, Lampung Barat pada masa Kerajaan Sekala Brak (abad ke-3 M). Ada teori menyebut gamelan di Jawa berasal dari gamolan Lampung yang dibawa saat Sriwijaya menguasai Nusantara. Gamolan juga terpahat di relief Candi Borobudur (abad ke-8).

Selama dua hari, 15 dan 16 Mei 2014, Pringsewu jadi tuan rumah Festival Musik Bambu Nusantara ke-8 . Ini merupakan kali pertama Pringsewu jadi tuan rumah setelah sebelumnya Jakarta dan Bandung bergantian menghelat festival ini. Acara yang digagas Sapta Nirwandar tersebut pertama kali diadakan pada 2007 di Jakarta.

Festival Musik Bambu Nusantara adalah tempat berkumpulnya macam-macam seniman bambu, diadakannya kolaborasi musik tradisional dan musik kontemporer, pameran berbagai kreasi bambu, serta ditampilkannya permainan anak berbahan utama bambu. Banyak permainan langka yang kini kalah dengan permainan online.

Rorodaan, misalnya, yang mengundang minat banyak anak. Permainan ini sejenis gerobak dorong berukuran kecil—hanya memuat satu anak yang ditopang dua roda terbuat dari kayu. Di bagian depan gerobak dipasang kayu beroda yang berfungsi sebagai kemudi (dikemudikan dengan tangan dan kaki).

Cara memainkannya, satu anak duduk di atas gerobak, satu anak lagi mendorong punggung anak yang duduk. Semakin kuat dia mendorong, semakin cepat rorodaan melaju. Tapi hati-hati, rorodaan tidak punya rem. Jadi kalau ingin berhenti, tinggal si pendorong berhenti mendorong, lalu si pengemudi menjatuhkan tubuhnya.

Tak kalah seru dengan rorodaan adalah bedil bambu. Cara kerjanya mirip senapan sederhana dengan pelontar bilah bambu yang dilengkungkan. Buah tekokak digunakan sebagai peluru. Daya lontarnya bisa mencapai 10 meter dan lumayan sakit kalau kena badan. Bedil bambu dahulu digunakan anak-anak untuk main perang-perangan.

Bupati Pringsewu Sujadi mengharapkan Festival Bambu Nusantara yang akan datang diadakan di kabupatennya lagi. “Dengan begitu Pringsewu sebagai perkampungan bambu dan tujuan wisata bambu Indonesia dapat segera terwujud,” ujarnya.

Pringsewu berjarak 38 km dari ibukota Provinsi Lampung, Bandarlampung. Luas wilayahnya 625 km2 dengan jumlah penduduk lebih dari 470 ribu jiwa yang tersebar di 131 pekon (desa) dan kelurahan serta sembilan kecamatan. Pringsewu yang ditetapkan sebagai kabupaten pada 2008 adalah pemekaran dari Kabupaten Tanggamus.

Pringsewu dulunya adalah sebuah tiuh (perkampungan) bernama Margakaya di tepi aliran Way Tebu, 5 km arah selatan dari pusat kota Pringsewu sekarang, pada 1738. Penduduknya adalah masyarakat Lampung-Pubian. Dari abad ke-17 hingga ke-19, tiuh Margakaya merupakan wilayah ramai dan makmur.

Pada 9 September 1925, sekelompok masyarakat dari Pulau Jawa membuka permukiman baru di sini dengan membuka hutan melalui program kolonisasi pemerintah Hindia Belanda. Ribuan batang pohon bambu di sekitar tiuh Margakaya ditebang. Karena banyaknya pohon bambu yang ditebang, masyarakat pembuka hutan menamakan kawasan baru itu Pringsewu, yang dalam bahasa Jawa berarti bambu seribu.

Sekarang, Pringsewu adalah daerah heterogen dengan masyarakat Jawa sebagai kelompok dominan. Menyusul kemudian masyarakat asli Lampung yang terdiri dari dua masyarakat adat, yakni masyarakat Pubian yang beradat Pepadun, serta masyarakat Pesisir yang beradat Saibatin.

Menjadi Perkampungan Seribu Bambu masih jadi cita-cita besar Pringsewu. Namun langkah kecil sudah dibuat, tinggal seterusnya membesarkan dan menjaga keberlangsungannya.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 130, 26 Mei-1 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s