Saat Budaya Kembali ke Geta

seni utk kemanusiaan

Lansia jadi perhatian seniman kali ini. Mengingatkan betapa makna budaya yang sudah demikian disempitkan.

Pameran seni rupa kali ini beda. Bukan semata-mata seni untuk seni, tapi lebih dari itu, seni untuk kemanusiaan. Karena bagi seniman, seni dikembangkan dan difungsikan untuk menaburkan keindahan dalam masyarakatnya.

Ada beragam tema dari karya 18 seniman berikut kekhasan masing-masing. Ambil contoh Afriani dengan goresan cat minyaknya menampilkan Panjat Pinang, tradisi Indonesia menjelang perayaan kemerdekaan 17 Agustus; Di Ambang Senja oleh Agus Suhendar, dengan media cat minyak melukiskan empat ekor kuda (satu bertali kekang, tiga bebas) di sabana, sementara awan sudah bergulung-gulung di langit.

Sementara itu pematung Amalia Sigit melibatkan diri lewat karya berbentuk badut troubadour Life Goes On dengan media papier mache, dan seniman patung A. Firmansyah mengukir kayu mahoni mewujudkan patung langsing setinggi 120 cm berjudul Terikat.

Karya 18 seniman lukis dan patung ini dipamerkan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, 20 Juni – 1 Juli 2014 dalam acara bertajuk Bhakti Seni untuk Kemanusiaan. Hasil dari pameran yang merupakan kerja sama TIM, seniman, dan pengurus provinsi Palang Merah Indonesia DKI Jakarta itu akan disumbangkan untuk  kegiatan kemanusiaan PMI DKI Jakarta, di antaranya untuk lansia (kaum lanjut usia).

Mengapa lansia? Pemerhati seni rupa Vukar Lodak dalam katalog pameran mengutip data PBB, bahwa dari 91 negara yang dipantau soal sikap negara terhadap warga negaranya, terutama sikap kemanusiaannya terhadap lansia yang telantar, Indonesia berada di urutan ke-71. Yang pertama adalah Swedia dan yang terakhir Afganistan.

Di Tanah Air kita, paling tidak ada 3 juta lansia telantar, dan baru 26.500 lansia yang tertangani negara. Artinya baru hanya sekitar 0,2 persen saja lansia telantar yang dapat diatasi negara.

“Sebuah angka yang membuat mata hati kita getir dan berlinang-linang,” demikian ditulis Vukar.

Di tengah deru pertumbuhan ekonomi, ada orang-orang lansia yang telantar, yang keberadaannya seperti sama-samar, antara ada dan tiada. Yang diperlakukan seperti bebek afkir: dicampakkan setelah tak lagi menghasilkan telur. Jangankan tempat tinggal, taman bagi para lansia untuk menghabiskan masa tuanya pun tak pernah terpikirkan oleh penguasa.

Maka upaya para seniman ini jadi semangat untuk menghidupkan kembali istilah buddhaya di tengah makna kebudayaan yang belakangan tiba-tiba berpilin-pilin dan membentur keanehan yang tak terpecahkan. Kontestasi budaya yang membodohkan, kemalasan, kemiskinan, fanatisme kepercayaan yang picik, kekerasan, budaya yang tidak menaruh penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, budaya instan, budaya artifisial, ingin cepat kaya dan menghalalkan segala cara seolah-olah menjadi bintang pujaan.

Kebudayaan yang beranak-pinak dari kata “budi” dan “daya” (Sansekerta: buddhaya) terlalu sederhana bila maknanya hanya dipadankan atas dasar kata colere (Latin, asal-usul kata culture), tentang bagaimana manusia mengolah dan menyuburkan tanah. Pun dengan kata “culture” (bahasa Inggris) yang bermakna daya penguasaan manusia terhadap alam. Atau dalam konteks kebudayaan kita kini yang sering disandarkan pada kesenian, pakaian, adat-istidadat, dan hiburan belaka.

Istilah itu menerah ke dalam alam pikir berkebudayaan kita sejak lama.  Di samping bemakna sebagai kemampuan batin menimbang hal-hal baik dan buruk, kata budaya tentu saja dipersiapkan para leluhur dengan makna-makna tersirat dan maksud yang lebih jauh ke depan dan menuju ke dalam.

Kebudayaan kita hari ini tak lagi mencerahkan akal sehat. Mengkerut dan melompat keluar dari dirinya sendiri dan tidak memiliki masa depan. Segala sesuatunya jadi alat tukar nominal dan diukur dari wani piro? Yang tidak memiliki daya tukar ke laut aja. Dan kini, lewat Bhakti Seni untuk Kemanusiaan, kita diingatkan lagi tentang sejatinya budaya.

Kehalusan mata hati kita dipaksa membuka, bahwa masih ada segelintir manusia, khususnya seniman seni rupa, yang mau memikirkan kehidupan orang lain. Para perupa ini masih sempat melihat narasi-narasi kecil yang selama ini sepertinya terabaikan, lantas membuktikan bahwa seni dapat dikembangkan sebagai jalan pemuliaan bagi sesama manusia.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 135, 30 Juni-6 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s