Satu Lagi Thriller Keras Fuqua

equalizer

Gangster Rusia menjebak remaja dalam lingkaran prostitusi yang mereka kendalikan. Seorang agen CIA menemukan gangster ini adalah juga pedagang besar narkoba yang sudah membungkam banyak polisi dan politisi korup.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The Equalizer
Genre:  Action | Crime | Thriller
Sutradara: Antoine Fuqua
Skenario: Richard Wenk, Michael Sloan (serial televisi)
Produksi: Sony Pictures
Pemain: Denzel Washington, Marton Csokas, Chloë Grace Moretz, ,, Bob Ralphie (Johnny Skourtis)
Durasi: 2 jam 11 menit

Hari-harinya berlangsung sama dari bangun tidur sampai tidur lagi, dengan ketepatan hingga detiknya. Bangun pukul sekian, mencukur rambut berapa menit, mandi berapa menit, menyemir sepatu berapa menit, perjalanan ke tempat kerja dengan menumpang kereta berapa menit, dan seterusnya. Dia menyalakan stopwatch di jam tangan setiap memulai sesuatu kegiatan.

Bob McCall (Denzel Washington) namanya, tinggal di apartemen yang rapi di Boston. Dia karyawan toko perlengkapan rumah (houseware) dengan rincian kerja dari memotong kayu, menangani loading barang, hingga melayani pelanggan.

Dia dikenal ramah di kalangan rekan-rekan kerjanya. Kalau mereka bertanya apa pekerjaannya sebelum jadi karyawan toko ini, Bob menjawab jadi anggota Pips, pengiring Gladys Knight di masa Motown berjaya, sambil tak lupa menirukan gerakan khasnya.

Malam hari seusai makan malam dan mencuci piring, Bob pergi ke restoran langganan, duduk di sudut yang jadi tempat tetapnya. Setelah mapan duduknya, dia meletakkan buku di tepi kiri meja, memindahkan pisau dan garpu dari tengah ke kanan.

Pemilik restoran datang, meletakkan cangkir teh di tengah meja, yang tadi tempat pisau dan garpu; lalu menuang air panas. Bob mengeluarkan teh celup dari lipatan serbet yang dibawa dari rumah, mencelupkannya ke dalam cangkir. Tidak ditambah gula. Dia membaca buku sambil minum teh.

Di restoran ini ada pelanggan juga, seorang remaja (Chloë Grace Moretz) yang mengambil duduk di kursi bar. Dia dan Bob bicara hanya sepatah dua patah kata sapaan dari kursi masing-masing. Make-up-nya tebal, mengenakan wig berganti-ganti tiap hari, berbaju ketat dan bersepatu hak tinggi. Biasanya, begitu telepon berbunyi dan dia berbicara sebentar di telepon dalam bahasa Rusia, perempuan ini meninggalkan restoran. Di luar, sudah ada mobil yang menjemput.

Suatu hari perempuan ini muncul dengan wajah lebam dan suara serak seperti habis kelelahan menangis. Bob mempersilakan duduk di hadapannya. Mereka berkenalan. Namanya Teri. “Kau tidak seperti ‘Bob’. Robert membaca buku, kalau Bob nonton TV,” ujar Teri. Dia juga menangkap ada sesuatu di mata Bob. Bukan kesedihan, melainkan kehilangan.

Saat keduanya berjalan kaki pulang, sebuah sedan menepi. Dua laki-laki keluar mobil. Satu menyeret Teri ke dalam mobil sambil memuntahkan makian kasar. Satu yang memegang pistol, mengawasi, lalu memberi kartu nama pada Bob. Kartu nama penyedia perempuan penghibur asal Rusia.

Sampai di situ saja The Equalizer berjalan tenang, yang sekaligus fase pembentukan karakter utamanya, Bob. Selebihnya kita seperti dibawa roller coaster yang meliuk-liuk naik-turun deras. Ngilu dan mendebarkan dengan permainan pikiran sebagai pijakannya.

Bob bukan hanya mengambil tindakan menyelamatkan Teri, tapi sekaligus ingin menghabisi jaringan prostitusi gangster Rusia yang sudah menjebak Teri dalam pusarannya. Gangster yang dikepalai Slavi (David Meunier) di Rusia itu juga pedagang besar narkoba selundupan. Slavi berhasil membungkam banyak polisi dan politisi korup Amerika dengan uang panas.

Sutradara Antoine Fuqua serius membentuk karakter utamanya. Bob yang perenung itu membaca karya Ernest Hemingway The Old Man and the Sea dan secara singkat dia menceritakan isinya ke Teri. Tentang laki-laki pencari ikan. Setelah berhasil, ikan tangkapan dia ikat di sisi perahu. Begitu perahu sampai di pantai, lelaki itu mendapati ikan tangkapannya sudah habis dimakan ikan lain.

“Begitulah memang kehidupan seharusnya. Manusia jadi manusia, ikan tetap jadi ikan.” Dan seiring film berjalan, kita jumpai tema buku itu juga jadi tema film. Perjuangan dan persaingan hidup kadang harus brutal dan saling menghabisi.

Karakter Bob yang saling bertolak belakang, yakni Bob yang tenang dan pembaca buku, dengan Bob yang agen CIA, seperti musik yang berawal pianissimo lalu makin lama makin kencang dan berakhir dalam ledakan crescendo.

Fuqua, dan tentu saja ada peran besar Danzel Washington, membuat The Equalizer tidak seperti adaptasi murahan serial televisi (The Equalizer awalnya serial serial televisi pada 1980-an yang dibintangi Edward Woodward). Fuqua tak menyia-nyiakan reputasinya sebagai sutradara thriller keras.

Adegan klimaks di toko warehouse adalah sajian utama yang mantap mengenyangkan. Bob menggunakan benda-benda yang ada di toko sebagai senjata, misal semen, bor, kawat, dan lampu. Hasilnya mengerikan. Walau tidak sampai tergolong gory, lebih baik bersiap dengan adegan mengebor otak, mecongkel mata, dan melubangi tenggorokan menggunakan pembuka wine.

Sementara itu, musik skor Harry Gregson-Williams semakin menguatkan drama dan ketegangannya yang meningkat tiap detik. Dan tak kurang pentingnya, begitu film usai, silakan ingat kembali kutipan Mark Twain yang tertulis di layar usai tampilan judul, “Dua hari paling penting dalam hidup kita adalah hari ketika kita lahir dan hari ketika kita tahu mengapa (kita lahir).”

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 148, 29 September-5 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s