Sebuah Nostalgia Pahit

normal heart

Hidup bagi penyandang AIDS tak pernah mudah. Di tengah masyarakat sekarang, stigma-stigma negatif kerap ditempelkan. Apalagi 30 tahun lalu saat istilah “AIDS” pun belum dikenal.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The Normal Heart
Genre: TV Movie
Sutradara: Ryan Murphy
Skenario: Larry Kramer
Pemain: Mark Ruffalo, Matt Bomer, Julia Roberts, Jonathan Groff, Frank De Julio
Durasi: 2 jam 13 menit

Ada keriaan di Fire Island, New York. Komunitas gay (pria homoseksual) berkumpul di sana, bermain voli pantai, berenang di laut, berjemur di pantai, dan yang pasti berpesta.

Ned Weeks (Mark Ruffalo) juga hadir, bertemu kawan-kawannya sesama gay dan menambah teman-teman baru. Ned seorang penulis dan sudah menerbitkan buku yang mengkritisi gerakan gay Stonewall.

“Kalian sedang apa?” sambil jalan, Ned menyapa segerombolan kawannya.
“Saling cukur bulu dada. Kau mau dicukurkan juga?”

“Tidak. Saya suka bulu dada saya,” kata Ned sambil menyilangkan dua tangannya di dada.

Akhir pekan yang gembira itu berubah seketika ketika terdengar suara batuk yang lumayan keras dari dekat kolam renang. Tak lama kemudian, seorang tampan berbadan tegap dengan otot-otot menonjol, ambruk di pantai. Krisis pun dimulai.

AIDS mulai menguasai komunitas gay. Satu demi satu sekarat dan nyawanya lewat. Saat itu, 1981, masyarakat belum tahu apa itu AIDS. Istilah AIDS pun belum populer, hanya dikenal di kalangan medis. Masyarakat menyebutnya “virus gay,”itu pun secara bisik-bisik.

Praktis tidak ada yang peduli pada epidemi ini. Tidak pemerintah kota, tidak pemerintah negara bagian, apalagi pemerintah pusat AS. Satu-satunya yang jelas-jelas mengambil tindakan menyelamatkan pasien AIDS adalah Dr. Emma Brookner (Julia Roberts). Seorang penyintas polio yang kini hidupnya bergantung pada kursi roda.

Dr. Emma jadi langganan pasien AIDS. Selain riwayat penyakit, hal utama yang dia tanyakan adalah siapa kekasih si pasien. Dr. Emma tahu benar hal fatal apa yang menambah parah penyebaran penyakit tersebut, yakni hubungan seks. “Sampai obatnya ditemukan, tolonglah, jangan berhubungan seks dahulu.” Tentu saja saran ini cuma jadi bahan ketawaan ramai-ramai.

Karena jumah paling besar penderita AIDS saat itu ada di komunitas gay, dr. Emma mencari seorang pemimpin untuk kampanye program pendisiplinan diri dan pendidikan bagi komunitas gay.

Weeks selama beberapa pekan mengirim rilis ke berbagai media, berbicara di televisi, menulis surat ke pejabat-pejabat berwenang, merancang kampanye off-air termasuk penggalangan dana. Dia melakukan sebaik yang dia bisa untuk menyadarkan para pejabat dan lembaga farmasi bahwa penyakit ini tak menunggu waktu lama akan menyebar sangat luas. Riset sudah darurat dilakukan untuk menemukan obatnya, dan pemerintah wajib membiayai riset ini.

Namun ternyata, tentangan terbesar yang Weeks hadapi justru dari komunitas gay, kawan-kawannya sendiri. Mereka tidak siap terbuka, diketahui lingkungan bahwa mereka gay. Weeks menghadapi sikap ragu-ragu, tutup mulut, dan kebencian.

The Normal Heart adalah karya autobiografi penulis/aktivis Larry Kramer tentang pemerintah AS yang tidak juga mengambil tindakan walau diskriminasi sudah terjadi secara terbuka dan jumlah manusia rontok tak terkendali, umumnya pria, muda, dan gay.

Larry Kramer menulis naskah drama panggung The Normal Heart yang pertama dipentaskan pada 1985. Bisa ditebak, Ned Weeks adalah avatar samarannya. Dia yang sudah menyaksikan kawan-kawannya mati, membantu Pusat Krisis Kesehatan Pria Gay (Gay Men’s Health Crisis Center).

Setelah bertahun-tahun digodok ulang, The Normal Heart menemukan bentuk barunya sebagai film dan tayang perdana di HBO, 25 Mei lalu. Film ini tetap powerful dalam menggambarkan awal dimulainya krisis AIDS pada awal 1980-an. Mungkin penting bagi generasi sekarang, yang sudah memperlakukan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) secara manusiawi, bagaimana semuanya bermula.

Seperti versi aslinya, Kramer mengkritik pemerintahan Reagen, walikota New York City Edward Koch, lembaga kesehatan, dan New York Times terkait respon mereka yang lambat. Penulisan ulang, dan juga waktu, telah melunakkan beberapa hal yang kasar dalam versi drama panggung. Lebih penting lagi, percintaan antara Weeks (Ruffalo) dan reporter New York Times Felix (Matt Bomer) yang dikenalnya saat memulai kampanye, diberi porsi lebih banyak. Saat hubungan mereka sudah serius, Felix terkena AIDS. Kondisi ini memberi kekuatan cerita yang makin luas dan intim.

Peran dua pria ini saja sudah memberi nyawa baru bagi cerita. Ruffalo tampil habis-habisan. Dan dia diimbangi dengan sangat baik oleh Bomer yang sebelumnya diyakini tidak akan dapat eksis sebagai aktor Hollywood karena mengaku secara terbuka sebagai gay dan menikah dengan pasangan gay-nya. Demi peran sebagai ODHA, Bomer harus mengurangi 20 kg bobotnya.

Julia Roberts bermain efektif sebagai satu dari sedikit dokter yang peduli pada epidemi penyakit ini dan bersikap realistis tentang penularannya. Dengan segala kebintangannya, Julia Roberts tidak perlu jadi pemain utama untuk merebut perhatian di layar.

Dengan banyaknya pergeseran dalam legalitas dan sikap masyarakat saat ini, The Normal Heart tak ubahnya nostalgia pahit, sebuah monumen sinematik untuk periode suram dalam sejarah.

 ***

Dimuat di Majalah Detik edisi 141, 11-17 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s