Silat yang Cool dari Negeri Petro Dolar

20140825_MajalahDetik_143_109 copy

Remaja Yasmine mempelajari silat berangkat dari keinginannya membalas dendam. Ketika falsafah silat akhirnya dia temukan, Yasmine mendapat lebih dari yang dia inginkan.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Yasmine
Sutradara: Siti Kamaluddin
Produser: Din Kamaluddin
Produksi: Origin Films (Brunei Darussalam)
Pemain: Liyana Yus, Nadiah Wahid, Reza Rahadian, Mentari De Marelle, Dwi Sasono, Agus Kuncoro, Roy Sungkono, Dian P. Ramlee, Nabila Huda, Aryl Falak, Dato’ M. Nasir
Durasi: 105 menit

 

Bukan SMA ini yang Yasmine (Liyana Yus) mau. Dia ingin bersama terus dengan gengnya, masuk sekolah swasta. Tapi ayahnya, Fahri (Reza Rahadian), hanya mampu menyekolahkan anak tunggalnya itu di sekolah negeri.

Sedang gusar karena gengnya makin lama makin menjauh, Yasmine mendapat kabar Adi (Aryl Falak) sudah kembali ke kotanya selepas mengikuti pertandingan silat internasional, dan menang. Adi adalah kawan masa kecil Yasmine dan sudah lama mereka tidak saling kontak.

Kekaguman pada Adi menginspirasi Yasmine mendaftar masuk perguruan silat di gedung olah raga. Dia bahkan sudah menyiapkan macam-macam “kata sambutan” jika nanti bertemu Adi. Namun, belum lagi bertemu, Yasmine mendengar selentingan Adi sedang dekat dengan Dewi (Mentari De Marelle), juara silat nasional. Dewi yang bersekolah di SMA swasta itu tak lain rival Yasmine sejak lama.

Makin kuat keinginan Yasmine belajar silat, walau di perguruan silat itu muridnya cuma tiga: Yasmine, Ali (Roy Sungkono), dan Nadia (Nadiah Wahid). Mereka dilatih Cikgu Tong Lung (Dwi Sasono) yang ke mana-mana tak lepas dari kipas.

Metode latih Cikgu Tong lumayan “unik” karena dia tidak pernah mencontohkan jurus paling sederhana sekalipun. Murid-murid disuruh mencari sendiri, yang mentok-mentok buka Youtube; mengembangkan sendiri; sedangkan dia hanya berbaring di tepi lapangan bertelekan tangan sambil kipas-kipas.

“Aku sedang mengendalikan tenaga dalamku. Tenaga dalamku sangat dahsyat. Kalian tahu bagaimana akibatnya kalau tidak dikendalikan,” begitu selalu alasan Cikgu Tong setiap kali murid memintanya memberi contoh.

Walau mereka baru saja mulai berlatih, Yasmine nekad mendaftarkan sekolahnya mengikuti kejuaraan nasional pencak silat. Tekadnya demikian kuat untuk mengalahkan Dewi dan merebut Adi.

Ketiganya pergi ke pelosok-pelosok negeri mencari guru silat mumpuni. Pencarian dari satu guru ke guru lainnya membawa mereka ke Cikgu Jamal (Agus Kuncoro), pendekar yang sekarang berkursi roda. Selepas sekolah hingga magrib mereka berlatih di halaman rumah Cikgu Jamal.

Seluruh aktivitas Yasmine belajar silat dia rahasiakan rapat-rapat dari ayahnya yang sejak awal tidak setuju pada silat. Ayahnya pernah langsung mematikan televisi saat Yasmine sedang menonton berita olah raga yang menyiarkan Adi sedang berlaga.

Yasmine maju terus hingga kini hari pertama kejuaraan nasional. Berbekal ilmu dari Cikgu Jamal, mengalahkan musuh dalam pertandingan bukanlah masalah besar. Namun di baliknya, ada musuh lebih besar yang musti ditaklukkan, termasuk misteri yang selama ini dirahasiakan ayahnya hingga demikian membenci silat.

Butuh empat tahun bagi film ini hingga akhirnya dapat dirilis. Yasmine yang diproduksi Origin Films, rumah produksi dari Brunei, itu harus lebih dulu meyakinkan dan mendapat dukungan Kerajaan Brunei Darussalam. Tak heran jika inilah film layar lebar pertama dari negara kerajaan itu setelah tidak ada produksi film layar lebar sejak 1960.

“Kami harus mendapat izin dari Kerajaan. Jadi lamanya bukan karena lembaga sensor. Di Brunei ada lembaga sensor, dan Yasmine lolos sensor tanpa ada potongan sedikit pun,” sutradara Siti Kamaluddin menjelaskan usai pemutaran Yasmine khusus untuk wartawan, di Djakarta Theatre, Kamis 14 Agustus 2014.

Yasmine sempat kedodoran di awal film, sampai nyaris membosankan. Terlebih, trailer-nya yang sudah beredar sebulan lalu menjanjikan bahwa ini film silat remaja semacam Karate Kid versi remaja perempuan.

Salman berlama-lama menjelaskan siapa Yasmine si ABG ceria yang hidup hanya dengan ayahnya, yang tidak pedulikan penampilan, sembrono memarkir Mini Cooper-nya, dan banyak menghabiskan waktu di rumah pohon di halaman belakang rumah. Termasuk di dalamnya subplot tentang geng sekolah lama Yasmine yang sebenarnya bisa sedikit saja.

Yasmine berubah seru selepas pertengahan dan klimaksnya menjelang akhir digarap keren. Selipan-selipan khas film bela diri, seperti mencari guru, mencari ilmu pamungkas, dan cerita rahasia guru yang terungkap di akhir cerita, semua ada di sini.

Kerja keras sutradara Siti Kamaluddin tidak sia-sia mengarahkan Liyana dan Nadiah, dua pendatang baru dari Brunei, mengingat ini film pertama mereka. Bahkan Liyana butuh dua tahun berlatih silat sebelum produksi. Namun Siti luput memperhatikan betapa di setiap scene yang ada Fahri, selalu ada adegan Fahri mencopot kacamata.

Pemain dari Indonesia menghabiskan waktu dua bulan untuk berlatih silat dan, lebih penting lagi, melatih dialek Brunei yang berbeda dengan dialek Melayu-Malaysia yang lebih akrab di telinga orang Indonesia.

Lebih dari setengah abad tidak memproduksi film layar lebar membuat kakak beradik Siti dan Din tidak dapat mengandalkan seluruh kru dan pemain asal dari Brunei. Alhasil, Yasmine menjadi produksi internasional karena melibatkan pemain dan kru dari berbagai negara. Ada sineas dari Indonesia seperti Salman Aristo sebagai penulis skenario, Aghi Narottama dan Bemby Gusti sebagai penata musik, Cesa David Luckmansyah sebagai penyunting gambar, dan Khikmawan Santosa sebagai penata suara.

Siti dan Din yang berayah Brunei dan beribu Solo itu juga mengajak James Teh dari Australia untuk menggarap sinematografi, sutradara laga (action director) Chan Man Ching yang berpengalaman 30 tahun di industri film Hong Kong dan Hollywood, serta pemain dan kru dari Malaysia, Australia, dan Polandia selain dari Brunei Darussalam.

Sebenarnya ini yang paling penting: Yasmine mengenalkan Brunei ke masyarakat Indonesia. Selain bahasanya, kita bisa saksikan kerajaan petro dolar itu tidak sekosmopolitan yang dibayangkan, bahwa negara itu masih punya banyak jalanan sempit, tanah lapang yang hijau, hutan kota, dan rumah panggung yang asri.

Sebaliknya, menggelikan mendapat cerita Salman sewaktu pertama menyodorkan script. Karakter Yasmine dia gambarkan ke sekolah naik sepeda. “Semua menatap saya heran. Ternyata anak sekolah di Brunei minimal naik Mini Cooper hahaha….”

 ***
Dimuat di Majalah Detik, edisi 143, 25-31 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s