Tornado Dahsyat dari Empat Penjuru

20140811_MajalahDetik_141_102 copy

Tornado muncul di langit kota kecil Silverton. Datangnya tiba-tiba dan tak ada yang mengira kedahsyatannya.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Into the Storm
Genre: Action | Thriller
Sutradara: Steven Quale
Skenario: John Swetnam
Produksi: Warner Bros.Pictures
Pemain: Richard Armitage, Sarah Wayne Callies, Matt Walsh
Durasi: 1 jam 29 menit

Tornado muncul di timur, tercipta di selatan, meraung-raung di utara. Tadinya tornado besar berputar-putar hanya di barat. Seluruh kamera di Titus, mobil khusus antibadai, yang sebelumnya diarahkan hanya ke barat, kini dipecah ke segala arah.

Seluruh tornado itu berjalan mengarah ke satu titik. Satu tornado saja dapat meratakan satu kota kecil, apa yang akan terjadi kalau tornado ada banyak? Tornado ganda adalah peristiwa sekali seumur hidup dan berhasil mengabadikannya akan jadi gambar yang mahal bagi para pemburu topan. Maka ke sanalah Titus melaju, ke titik pusaran tempat seluruh tornado bakal bertemu.

Adalah Pete (Matt Walsh) dan timnya yang bekerja sebagai pemburu topan. Mereka sangat mengandalkan Titus yang dilengkapi seluruh keperluan pemburu topan. Di situ ada monitor cuaca, kamera yang terpasang di segala sudut, kursi berikut kamera yang bisa diputar 360 derajat, baja dan kaca tebal yang kuat menghadapi angin terkuat sekalipun, dan paku bumi yang membuat Titus tetap terpancang di tanah walau tornado menghalau.

Perburuan kali ini adalah pertaruhan terakhir bagi Pete dan tim. Sudah berbulan-bulan mereka keliling dari kota ke kota tidak juga mendapat dokumentasi topan yang dahsyat. Semua topan sudah ada di Youtube.

Pendananya akan menghentikan aliran duit karena Pete tak juga menghasilkan gambar yang diinginkan. Pete tak mau disalahkan sendiri. Menurutnya, berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, insting memegang peran penting untuk menentukan arah perburuan. Maka orang berpengalamanlah yang dibutuhkan, bukan Allison (Sarah Wayne Callies), yang sarjana ilmu klimatologi, yang ditempatkan si pendana sebagai anggota timnya.

Topan juga menarik perhatian dua pemburu topan amatiran. Mereka hanya bermodal handycam mini dan mobil pick-up butut yang berdebum-debum keras tiap kali melewati jalan tanah bergelombang. Keduanya juga tampak selalu mabuk dan bergembira berlebihan tiap kali berhasil mendapat gambar tornado. “Woohooo, jutaan orang akan melihat gambar ini di Youtube. Kita bakal kayaaa!” ujar salah satunya.

Sementara itu di tengah kota Silverton, Donnie (Max Deacon) dan Trey (Nathan Kress) yang sama-sama siswa SMA Silverton, sedang membuat dokumenter dengan handycam. Ayah mereka, Gary (Richard Armitage), adalah wakil kepala SMA Silverton yang sekarang sedang sibuk mempersiapkan upacara wisuda. Dia meminta dua putranya hadir, merekam acara itu. Ayah dan anak itu tidak tahu, acara wisuda yang digelar di halaman sekolah akan bersamaan waktunya dengan kedatangan tornado paling ganas sepanjang sejarah Silverton, bahkan sejarah Amerika.

Into the Storm bukanlah sekuel Twister (1996), meski tema besarnya sama, tentang tornado. Garapan Steven Quale ini nampak berusaha mengalahkan Twister dalam hal kedahsyatan tampilan.

Special effect-nya luar biasa, nyaris sempurna, menegangkan. Dan ide membuat tornado ganda itu yang sinting. Sama sintingnya dengan ambisi Pete merekam keadaan ketika berada di tengah pusaran puting beliung raksasa. Tornado adalah bintang dalam film ini.

Quale jeli mengaitkan tornado yang tidak biasa ini dengan pemanasan global. Ambil contoh kalimat Allison, “Dulu orang mengalami tornado hanya sekali seumur hidup. Tapi sekarang bisa tiap tahun, lihat saja sejak Katrina.”

Selain tornado ganda, tak banyak lagi narasi yang ditawarkan. Subplot Gary dan Allison yang sama-sama orangtua tunggal tidak diberi ruang lebih luas untuk hubungan pribadi mereka setelah dipertemukan oleh tornado. Hingga film berakhir, penonton tetap dibuat bertanya-tanya tentang bagaimana keduanya. Tentu ini “melenceng” dari pakem film-film Hollywood umumnya.

Bisa jadi Quale berusaha menjaga Into the Storm tetap efektif dari awal sampai akhir dalam durasi hanya satu setengah jam. Narasinya tidak bertele-tele, klimaksnya tepat, dan tidak berpanjang-panjang.

Film ini semakin diuntungkan karena menampilkan aktris-aktor bagus, seperti Richard Armitage yang bermain juga di The Hobbit, Matthew Walsh, Sarah Wayne Callies, dan Jeremy Sumpter. Jangan dilupakan dua pemburu topan amatiran yang layaknya Dumb and Dumber itu.

Selain Quale tahu benar menempatkan pemain dalam karakter-karakternya, dia juga secara kreatif menyisipkan pemain pendukung dalam adegan-adegan penting yang membuat film ini jadi berwarna dan menjadikan Into the Storm lebih dari sekadar film bencana.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 141, 11-17 Agustus 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s