Lasem dan Harmoni Dua Warna

20141013_MajalahDetik_150_102 copy

Dua keluarga juragan batik berseteru. Bukan karena persaingan dagang, tapi soalan asmara beralaskan prasangka.

Oleh Silvia Galikano

Dua belas tahun lampau Tan Lian Hoa (Ikayani Budianto) meninggalkan Lasem untuk memulai hidup di perantauan, di Shanghai, Tiongkok. Dia bukan hanya meninggalkan orangtua dan koko di kota pesisir utara Jawa itu, tapi juga kekasihnya, Ario Atmojo (Johanes Bosco Winarso) dan sebuah peristiwa besar yang tetap misteri.

Lian adalah puteri keluarga Tan pemilik pembatikan Padma Putera di Lasem. Remaja ini berpacaran dengan Ario yang keluarganya punya pembatikan Banyu Bening.

Baca juga Lasem dalam Potret Hitam Putih

Ketika hubungan mereka makin serius dan mengarah ke pernikahan, tentangan keras muncul dari orangtua kedua keduanya.

Lian dianggap mencemarkan dan merendahkan marga Tan jika menikahi pria pribumi. Demikian pula anggapan yang sama diterima Ario dari orangtuanya. Ario akan merusak darah biru keluarga Adiatmojo jika sampai menikahi perempuan Tionghoa.

Di tengah luka hati keduanya, kebakaran hebat terjadi di rumah batik Banyu Bening. Pak Adiatmojo terperangkap di dalamnya dan nyawanya tak tertolong. Banyu Bening habis hingga keluarga ini harus memulai lagi usaha dari nol.

Masalah tidak berhenti di situ. Saat kebakaran, Lian ditemukan berada di Banyu Bening juga, di tengah-tengah kobaran api. Tuduhan tak terhindarkan bahwa Lian tersangka tunggal penyebab kebakaran dan keluarga Tan ingin mematikan usaha keluarga Adiatmojo.

Baca juga Untuk Tanah Lasem

Memenuhi saran keluarga, Lian pergi ke Shanghai menunggu suasana tenang sekalian mengobati luka bakar di tubuhnya. Sejak itu dia tidak pernah kembali ke Lasem. Hatinya hancur mendengar Ario menikah. Lian hanya menahan sedih yang mahaberat mendapat kabar ibu dan ayahnya berturut-turut wafat tanpa dia dapat memberi penghormatan terakhir.

Kini, Lian yang pengusaha tekstil di Shanghai itu pulang ke Lasem. Di kota kelahirannya, dia menjumpai bakal terulang lagi kisah pahit asmara keluarga Tan dan keluarga Adiatmojo.

Keponakannya, Tan Liong Han (Joshua Indra), tengah dekat dengan keponakan Ario, Larasati (Tazkia Klaresta). Hubungan keduanya ditentang ibunda Aryo, Bude Nawangsari, yang masih memendam kemarahan akibat peristiwa 12 tahun lalu. Maka Lian merasa sekaranglah waktu yang tepat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat kebakaran di Banyu Bening dulu.

Disutradarai Ibas Aragi, drama musikal Putih Hitam Lasem oleh D’ArtBeat membawa eksotisnya Lasem ke atas panggung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 3 & 4 Oktober 2014. Drama tentang dua keluarga beda budaya, Tionghoa dan Jawa, yang di Lasem sama dominannya tapi hidup damai selama berabad-abad.

Baca juga Siapakah Orang China?

Lasem adalah ibukota kecamatan yang terletak di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sekira 110 km dari Semarang ke arah timur. Kota ini menyimpan banyak produk budaya Tionghoa yang sudah berakulturasi dengan budaya Jawa. Bangunan kuno berlanggam Tionghoa masih banyak terpelihara hingga kini walau tak sedikit juga yang dibiarkan telantar, bahkan runtuh. Semua tinggalan ini membuat Lasem menyandang julukan Tiongkok Kecil.

Yang juga tak dapat dilepaskan dari Lasem adalah batiknya. Batik Lasem bercirikan corak warna yang meriah dan motif burung hong. Perancang kenamaan Harry Darsono yang dalam pementasan Putih Hitam Lasem didapuk sebagai wardrobe designer mengekspos batik indah ini.

Maka bukan kebetulan jika konflik ceritanya berputar di antara dua keluarga juragan batik lasem. Proses membatik pun diuraikan dalam lagu Buruh Batik yang ditulis Ongky H.T.: pertama menggambar pola, di kain yang ada/ melukis apa saja, lilin cair tintanya/ nembok kedua, agar warna tak sama/ lalu mencelup, rendam kain dalam pewarna// setelah kering di sinar surya/ kain diinjak dalam air panas/ agar semua lilin bisa terlepas/ tahap ini melorod namanya//

Baca juga Politik, Konsumerisme, dan Sincia yang Berubah

Dalam dialog terselip nama Sigit Witjaksono, tokoh Lasem yang seolah-olah miniatur kota itu. Sigit, 84 tahun, mewarisi usaha batik milik ayahnya, Sekar Kencana. Sigit yang penganut Konghucu, beristrikan Marpat yang muslim. Empat anak mereka, tiga beragama Katholik dan satu muslim.

Entah sampai kapan Indonesia mempromosikan pembauran yang notabene bukan barang baru di negeri ini. Pementasan Putih Hitam Lasem yang digelar berdekatan dengan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mengingatkan itu lagi. Bahwa hidup berdampingan dengan damai akan melahirkan lebih banyak lagi kebaikan bagi semua.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 150, 13-19 Oktober 2014

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s