Rumitnya Mengartikan Cinta

20141020_MajalahDetik_151_102 copy

Memendam rasa jadi persoalan tak terhindarkan atas nama tata krama. Tegangan-tegangannya mewujud dalam gerak mengentak.

Oleh Silvia Galikano
Setelah berkali-kali terempas keras, sesosok berotot liat terkapar di bawah temaram lampu. Beberapa jenak dia tak bergerak. Panggung hening. Ferdalok, lagu berbahasa Islandia yang ditulis Jonas Hallgrimsson pada abad ke-19 ikut mendadak terhenti.

Lalu dalam sekali entak sosok yang hanya berkemeja dan bercawat itu berputar-putar di lantai dengan lengan kiri sebagai poros. Ferdalok kembali meraung seiring putaran tubuh yang makin cepat.

Sang penari, Danang Pamungkas, adalah juga koreografer pementasan ini, A Part of Passion, yang digelar di Galeri Salihara, 15 & 16 Oktober 2014, bagian dari rangkaian Festival Salihara, 13 September hingga 22 Oktober 2014.

Perpindahan babak, walau resminya pementasan ini tanpa pembagian babak, ditandai dengan membatunya Danang di tepi panggung sekira satu menit. Lalu satu penari perempuan masuk membawa kursi kayu, meletakkannya di depan kipas angin besar berseberangan dengan Danang.

Perlahan dia duduk, menghidupkan kipas angin yang meniupkan rambutnya hingga menutupi sebagian wajah. Keduanya diam di posisi masing-masing. Yang satu di ketenangannya, yang satu menahan terpaan angin kuat di wajah. Dua diam yang berbeda. Danang kemudian menghilang ke belakang panggung, digantikan tiga penari lain, menandakan dimulainya babak kedua.

Dalam durasi satu jam, Danang didukung empat penari lain, yakni Dewi Galuh Sinto Sari, Franscisca Yustiana Patrich, Fajar Prastiyani, dan Riyo Tulus Fernando membawa penonton mencicipi berjenis-jenis pengalaman memendam rasa. Ada cinta, duka, kerinduan, kegembiraan, tapi tak ada yang boleh diekspresikan terbuka atas nama tata krama atau pertimbangan baik-buruk. Alhasil, hanya kegalauan yang menguap di udara, yang jelas tertangkap orang lain.

Jeda dalam waktu lama adalah salah satu langkah ekstrem Danang yang sebelumnya menghindari ke-diam-an. “Ada moment penting dalam diam agar dapat melihat lebih jernih, lebih dalam,” ujar Danang usai gladi resik, 14 Oktober 2014.

Dia mendapat banyak pengaruh dari Film The Turin Horse (2011), di antaranya atmosfer suram dan abu-abu. “Di dalam film itu ada suami istri, tapi hubungan mereka betul-betul garing, tak ada hasrat apa-apa. Mungkin tak ada juga hasrat untuk seks,” katanya. Kostum perempuan juga sedikit banyak terinspirasi film tersebut.

Danang Pamungkas adalah koreografer lulusan Institut Seni Indonesia, Surakarta. Dia belajar tari Jawa di Istana Mangkunegaran dan pernah jadi penari utamanya. Pada 2008-2011, Danang mendapat beasiswa bergabung dalam Cloud Gate Dance Theatre di Taiwan yang dipimpin koreografer Lin Hwa-min. Pada 2013, dia jadi koreografer Opera Jawa: Selendang Merah yang disutradarai Garin Nugroho.

A Part of Passion berembrio dari Passion, karya Danang pada 2011 yang juga bercerita tentang ekspresi tubuh. Konsepnya suami istri nirsenggama Siwa dan Uma yang kelak melahirkan Kala. Passion baru dipentaskan setahun kemudian. Seiring waktu, Danang membuat karya ini lebih kompleks, dinamai A Part of Passion dan ditampilkan perdana di Festival Salihara tengah pekan lalu.

Diam bukan berarti urusan selesai di situ, karena yang ditekan kuat-kuat di balik kulit terus mendesak-mendesak. Tegangan demi tegangan pada akhirnya diletuskan dalam sejumlah gerakan repetitif, seperti melompat-lompat di tempat, menunjuk-nunjuk penuh kemarahan, atau dengan ekspresi wajah sayu menguncupkan jari-jari di atas telapak tangan lalu membawanya ke bahu.

Ikatan dan kepangan rambut dua perempuan dilepas, mereka merdeka hendak mengibaskan rambut ke mana mau. Pemuda yang sebelumnya ragu-ragu meraih tangan perempuan di depannya, kini tak ragu memeluk sang kekasih.

Tiga perempuan yang dibungkus baju gombrong berwarna suram kini bebas memperlakukan baju mereka. Dua perempuan mengangkat perlahan roknya ke dada, satu perempuan menanggalkannya.

Pada akhirnya, A Part of Passion lebih condong tentang kegalauan ketimbang kebahagiaan. Perasaan-perasaan yang sangat personal yang mencari jalan di tengah masyarakat yang rajin memberi label dan penghakiman pada orang lain. Karena berkata lugas tak sama dengan berbuat cela.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 151, 20-26 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s