Di Tengah Kesumat Perang

fury

Seorang prajurit hijau yang nol pengalaman dicemplungkan ke dalam sebuah tim di ujung Perang Dunia II. Kehadirannya meletupkan pertempuran pribadi masing-masing personel.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Fury

Genre:  Action | Drama | Perang

Sutradara: David Ayer

Skenario: David Ayer

Produksi: Sony Picture

Pemain: Brad Pitt, Shia LaBeouf, Logan Lerman
Durasi: 2 jam 15 menit

April 1945. Jerman sudah porak poranda diberondong Sekutu. Perang Dunia II bisa dikatakan hampir berakhir, tapi belum benar-benar selesai hingga Hitler menyerah. Pasukan Jerman masih ada dan terus melawan. Tank-tank mereka kuat. Jumlah senjata pun mengalahkan jumlah senjata keseluruhan tentara Sekutu (termasuk Amerika di dalamnya) yang datang ke negeri itu.

Dengan tank perang Sherman, Sersan Don “Wardaddy” Collier (Brad Pitt) dan empat anak buahnya menyisir pedesaan Jerman, mengambil kendali kota-kotanya, sambil tetap melindungi konvoi tank di belakangnya. Tinggal dia pemimpin tertinggi di kompi setelah komandannya tewas dalam pertempuran.

Kebencian Wardaddy demikian mendalam pada Nazi dan SS. Dia akan membunuh dengan darah dingin tanpa banyak pikir. Seperti dalam sebuah penyisiran sisa-sisa pertempuran yang dimenangi Jerman, seorang tentara SS yang menunggang kuda diterjang Wardaddy yang sejak tadi bersembunyi di dalam tank.

Dia melompat saat prajurit SS itu berada tepat di samping tank, menubrukkan tubuhnya hingga keduanya jatuh ke tanah. Lalu tanpa ampun Wardaddy menghujani tubuh dan wajah pajurit SS itu dengan pisau berkali-kali hingga akhirnya pisau itu ditancapkan di jidatnya. Tak dijelaskan mengapa kesumatnya demikian besar.

Orang nomor dua di tank Sherman adalah Boyd “Bible” Swan (Shia LaBeouf), Kristen taat yang terus dihantui rasa bersalah akibat membunuh pemuda tak bersalah saat perang. Ada pula Trini “Gordo” Garcia (Michael Peña), sopir yang berbahasa Spanyol; dan Grady “Coon-Ass” Travis (Jon Bernthal), si pengisi peluru. Bible adalah yang paling lama bersama Wardaddy, yakni sejak mereka bertempur di Afrika Utara.

Pagi ini, mereka kedatangan anggota baru, Norman Ellison (Logan Lerman), menggantikan sopir kedua yang duduk di samping Gordo. Sopir itu barusan tewas kena granat di dalam tank. Norman yang berwajah kinyis-kinyis itu bukanlah prajurit tempur. Sebelumnya dia juruketik yang disiapkan untuk bisa mengetik cepat, bukan pegang senjata.

Tak ayal, Norman yang lugu ini jadi bahan olok2 tiga lelaki lainnya yang sudah biasa bicara dan bertindak kasar. Wardaddy melihatnya lebih dari itu. Norman yang tidak pernah menggunakan senjata dan kini menolak menembakkan senjata, akan menempatkan mereka semua dalam bahaya. Sang komandan cuma punya sehari untuk mengubah anak baru itu dari pemuda lugu bertangan mulus jadi prajurit yang berani bertempur. Langkah brutal terpaksa ditempuh.

Norman jadi titik masuk penonton mengenal persaudaraan Wardaddy, Bible, Gordo, dan Coon-Ass. Para lelaki yang tiap hari berurusan dengan peluru, lumpur, darah, dan teriakan-teriakan kasar itu membentuk ikatan kasih sayang yang kuat, yang diekspresikan melalui tindakan dan lelucon yang agresif.

Fury (kemarahan) mengacu pada “nama baptis” yang diberikan Wardaddy dan pasukannya untuk tank Sherman yang selama ini mereka gunakan. Bersama tank itu mereka sudah bertempur dari Afrika Utara hingga ke Normandia . Di Jerman, Fury sudah diserang panzer dan senjata anti-tank yang mematikan, tapi mereka selamat dari pembantaian. Ketika Wardaddy kehilangan satu anggota, empat lelaki ini menceburkan diri ke dalam pertempuran pribadi mereka masing-masing.

Logan Lerman, yang wajahnya mirip Christian Slater muda, memainkan karakter Norman yang banyak beradu akting dengan Brad Pitt. Wardaddy, sesuai julukannya, adalah si bapak perang yang diserahi seorang bayi. Tak ada yang lebih menjelaskan hubungan “bapak-anak” itu selain adegan keduanya di apartemen usai penyerangan sebuah kota. Adegan ini bikin menggigil karena ketegangan atas kemungkinan adanya kekerasan seksual sebagai sisi busuk perang.

Karya David Ayer kali ini luar biasa dengan sinematik kuat dan fotografi yang hidup. Tampilannya adalah opera dengan komposisi warna hijau Army, cokelat tanah, dan merah darah, serta didukung skor sendu dari komposer Steven Price. Namun jika melihat lebih dalam lagi, film ini adalah studi karakter yang menggunakan drama perang brutal sebagai medium.

Fury bukan hanya sulit dilewatkan, tapi juga tak terbantahkan bagusnya. Lebih dari dua jam ketegangannya terjaga. Jadi jelas, film ini keren bukan hanya karena ada Brad Pitt di situ.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 152, 27 Oktober-2 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s