Diayun Melodrama Nicholas Sparks

majalah detik

Sepasang kekasih masa SMA bertemu lagi setelah 20 tahun. Pertemuan ini membuka sebuah kenyataan yang selama ini tak disadari.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The Best of Me
Genre: Drama , Romance
Sutradara: Michael Hoffman
Skenario: J. Mills Goodloe, Will Fetters
Produksi: Relativity Media
Pemain: James Marsden, Michelle Monaghan, Luke Bracey, Liana Liberato, Luke Bracey
Durasi: 1 jam 59 menit

Satu lagi novel Nicholas Sparks diangkat ke layar lebar. Setelah Message in a Bottle (karya pertamanya yang difilmkan, pada 1999), A Walk to Remember (2002), The Notebook (2004), hingga Safe Haven (2013), kini giliran The Best of Me, jadi karyanya ke-9 yang difilmkan.

Ceritanya sedikit banyak tipikal adaptasi Sparks, tentang pasangan kekasih masa SMA yang bertemu lagi 20 tahun kemudian. Seperti biasa juga, diisi pemain rupawan, setting cantik, cerita ringan tapi dengan jurus andalan dialog-dialog layak kutip, serta klimaks yang menguras emosi.

Film dibuka dengan adegan Dawson (James Marsden) duduk di rig lepas pantai tempatnya bekerja sebagai pekerja tambang, membaca buku Stephen Hawkins. Di atasnya langit malam. Setelah menekur beberapa lama, dia mengangkat kepala, menatap bintang-bintang yang memenuhi langit.

Layar kemudian berpindah ke Amanda (Michelle Monaghan) yang berada di tempat lain, juga sedang menatap bintang dari teras rumahnya. Sebentar dia katakan pada putra remajanya yang duduk di samping bahwa dia dulu kerap mengira takdir tertulis di antara bintang-bintang.

Sebuah panggilan telepon dari pengacara mengabarkan bahwa Tuck baru saja wafat dan Amanda diminta datang ke Oriental, North Carolina perihal wasiat. Telepon yang sama juga diterima Dawson. Wafatnya Tuck mempertemukan kembali Amanda dan Dawson, pasangan kekasih 20 tahun lalu, saat keduanya sama-sama SMA.

Dawson berasal dari keluarga kriminal. Ayahnya sering memukul dan memuntahkan makian dan hinaan. Dua abangnya tak banyak beda, dan mendukung apa pun tindakan ayahnya. Hingga Dawson tak tahan lagi, dia pergi meninggalkan rumah.

Di tengah hujan deras dan petir memekakkan telinga, Dawson yang tak punya tujuan, berteduh di bangunan terdekat. Pintunya digembok, dia masuk lewat jendela yang tak dikunci. Bangunan itu adalah garasi milik Tuck (Gerald McRaney), seorang sepuh yang hidup sendiri setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu.

Tuck mengizinkan anak muda itu tinggal di garasinya selama dia inginkan. Sebagai imbalan, Dawson merapikan halaman rumah Tuck, yang sejak istrinya wafat, tak lagi terurus.

Dawson kemudian mengenal Amanda, putri tunggal seorang kaya kolektor mobil mewah. Mereka sering menghabiskan waktu di rumah Tuck. Tuck menyayangi keduanya bagai anak sendiri.

Sebuah peristiwa maut yang melibatkan Dawson, ayah dan dua abangnya, serta seorang sahabatnya menyebabkan Dawson dipenjara selama delapan tahun. Dia pun memutus hubungan dan menutup komunikasi dengan Amanda, semata-mata tak ingin melihat perempuan yang sangat dia cintai itu menderita.

Ambil tisu dan bersiaplah menguras hati saat menonton melodrama Nicholas Sparks ini. Seperti The Notebook, narasi The Best of Me bermain di dua bingkai waktu, masa kini dan masa lalu, yang diceritakan dalam alur maju-mundur.

Walau semua unsurnya serba-familiar, film ini berhasil mempertahankan penonton tetap di tempat dari awal sampai akhir. Sebagian besar berkat dua pemain muda yang luar biasa, Liana Liberato sebagai Amanda muda dan Luke Bracey sebagai Dawson muda, yang punya chemistry kuat. Cinta monyet berlatar belakang tahun 1980-an mereka pampangkan dengan manisnya.

Sutradara Michael Hoffman bersama penulis skenario Will Fetters dan J. Mills Goodloe sepertinya mengetes kesabaran penonton melalui jalan cerita yang lambat dan subplot yang “bertubi-tubi”. Meski begitu poin-poin dramanya ampuh membuat beberapa kali penonton mengusap air mata dan dialognya bakal banyak dikutip sebagai status di media sosial, seperti “I lost you once, and I’m not gonna loose again.”

The Best of Me adalah drama standar yang memaksimalkan setting North Carolina yang cantik, menggali rasa romantis yang paling murni, dan skor apik. Setidaknya, sempurna untuk menemani kencan.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 153, 3-9 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s