Kipas dan Intrik Sosialita

20141110_MajalahDetik_154_102 copy

Kirana disegani nyonya-nyonya di lingkungannya karena mampu menjauhkan rumah tangganya dari skandal. Dan ketika skandal akhirnya menghampiri, dia pun gamang.

Oleh Silvia Galikano

Sebentar lagi, Kirana (Amanda Purnamasari), nyonya terpandang istri Tuan Singgih (Stefanie C. Frandie), berulang tahun. Rumah sudah dihias. Dua pembantu di rumah itu, Nyoman (Vania Margonoharto) dan Roni (Jelice Sutjandi), sejak pagi hilir mudik membersihkan rumah dan menyiapkan keperluan majikan mereka. Beberapa hari lalu, Nyoman dan Roni sudah menyebarkan undangan ke kawan-kawan Sang Nyonya, sesama sosialita di Menteng.

Pesta tinggal beberapa jam lagi. Tuan Singgih memanggil Nyoman, menyerahkan undangan untuk diberikan ke Nyonya Surya (Sionita M. Simbolon), perempuan yang tak mungkin diundang istrinya. Dengan sejuta tanda tanya, Nyoman berangkat.

Tuan Singgih tak tahu, tadi Kirana menemukan buku hariannya yang selama ini dirahasiakan. Buku itu dipenuhi catatan pengeluaran untuk Nyonya Surya. Walau penuh pertanyaan ada hubungan apa suaminya dan Nyonya Surya, Kirana menahan diri untuk tidak langsung melabrak Tuan Singgih.

Maka ketika Tuan Singgih akhirnya memberi tahu dia baru saja mengirimkan undangan pesta ke Nyonya Surya, Kirana naik pitam. Selama ini Kirana disegani rekan-rekannya karena selalu menjaga kehormatan keluarga, yang termasuk di dalamnya adalah setia pada suami. Kirana tak akan membiarkan orang bermoral skandal menginjakkan kaki di rumahnya.

Nama Nyonya Surya dikenal lewat kasak-kusuk para nyonya sebagai perempuan paruh baya yang hidup sendiri tapi kerap tertangkap basah sedang bersama pria beristri. Namun belum ada satu orang pun mampu membuktikan kebenaran kasak-kusuk itu. Nyonya-nyonya tajir itu bahkan tak tahu suami mereka ada yang sepekan dua kali ke rumah Nyonya Surya, ada yang tiga kali.

Tibalah hari besar itu. Walau Tuan dan Nyonya Singgih baru saja bertengkar, tapi di depan teman-teman, mereka harus nampak mesra. Tak lupa Tuan Singgih menghadiahkan sebuah kipas berukirkan nama istrinya. Nyonya Surya hadir ketika pesta hampir usai, dan kemunculannya membuat pesta gempar.

Di tengah meruncingnya hubungan Kirana dan suami akibat masuknya Nyonya Surya dalam hubungan mereka, Tuan Hermanto (Frida Tumakaka) makin gencar mendekati Kirana. Dia mengajak Kirana berangkat bersamanya ke Singapura keesokan hari, dan menjanjikan sebuah hidup yang nyaman di sana. Kirana bimbang antara mempertahankan rumah tangganya atau mengikuti rayuan maut Tuan Hermanto.

Cerita ini adalah adaptasi naskah drama empat babak Lady Windermere’s Fan karya Oscar Wilde yang disadur sastrawati cum akademisi Boen Sri Oemarjati. Oleh Teater Dua, cerita bertajuk Kipas Tanda Mata itu dipilih untuk menandai pementasan perdana mereka, 31 Oktober & 2 November 2014 di Gedung Kesenian Jakarta. Efriadi bertindak sebagai sutradara.

Teater Dua berisi alumni SMA Santa Ursula Jakarta yang saat masih bersekolah aktif di kegiatan Teater Putri Santa Ursula (TPSU). Itu sebabnya seluruh pemain adalah perempuan, termasuk yang memerankan karakter laki-laki. Mereka berjalan tegak layaknya laki-laki, suara dibariton-baritonkan, rambut dipotong maskulin, dan dada “diratakan”. Tak heran jika ada penonton yang terkecoh untuk urusan ini.

Ide besar mengumpulkan para alumni TPSU dalam sebuah pentas baru tercetus pada September 2013. Ide ini ditindaklanjuti dengan mulai mencari cerita, reading, dan berlatih dari pukul 8 malam hingga nyaris tengah malam.

Nama “Teater Dua” akhirnya dipilih karena mengandung makna inilah kesempatan kedua mereka berteater sejak SMA selain alamat SMA Santa Ursula di Jalan Pos No. 2 Jakarta. Anggota inti Teater Dua berjumlah 14 pemain dan 10 kru dengan rentang usia 18 sampai 38 tahun.

Apresiasi patut diberikan pada para perempuan muda ini yang membuat debut tak tanggung-tanggung, mengambil cerita penulis besar kelahiran Irlandia Oscar Wilde (1854-1900) dan mementaskannya di gedung pertunjukan yang berkelas di Jakarta. Karakter Nyoman dan Roni yang selain sebagai pembantu, juga jadi pembawa cerita, dimainkan dengan sangat bagus oleh Vania dan Jelice dan berhasil sebagai penyegar di antara rumitnya masalah nyonya-nyonya kaya itu.

Walau demikian, perlu juga disematkan catatan untuk lebih memperhatikan ritme cerita dan dialognya. Pementasan ini terasa dragging, berlama-lama, beberapa dialognya terlalu panjang, dan keseleo lidah yang mengganggu karena sering terjadi.

Cerita ditutup dengan Kirana memberikan kipasnya kepada Nyonya Surya sebagai tanda mata. Nyonya Surya ternyata ibu kandung Kirana yang dulu meninggalkan suami dan anaknya yang masih bayi demi pria lain. Keputusan bodoh itu membuatnya jadi piala bergilir dari satu laki-laki ke laki-laki berikut. Maka menuruti nasihat sang ibu agar nasib tak berulang, Kirana tak mengindahkan rayuan Tuan Hermanto dan kembali bersetia pada suami.

Kipas sakral, hadiah ulang tahun suaminya itu pernah Kirana lemparkan ke perempuan lain yang dianggap telah mengganggu kehidupan rumah tangganya. Ketika kasih sayang tumbuh, seketika itu juga kipas menemukan tempat yang lebih tepat, yakni di genggaman ibunya. Benda kecil saksi kecemburuan, kewibawaan, harga diri, intrik, dan sisi gelap kehidupan sosialita.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 154, 10-16 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s