Jalan Hening Sang Pencari

senyap

Seumur hidup Adi menyimpan segunung pertanyaan tentang kematian abangnya dalam tragedi ’65. Dengan mempertaruhkan keselamatannya sendiri, dia temui para pembunuh abangnya.

Oleh Silvia Galikano
Judul: Senyap (The Look of Silence)
Sutradara: Joshua Oppenheimer
Produser: Signe Byre Sorensen
Produser Utama: Final Cut for Real, Denmark
Ko-produser: Anonymous (Indonesia), Piraya Film (Norwegia), Making Movies (Finlandia), and Spring Films (Inggris)
Bahasa: Indonesia, Jawa
Pemain:
Durasi: 98 menit

Pembantaian massal 1965 masih jadi lembar terkelam sejarah Indonesia. Lebih dari 500 ribu orang dibantai dalam tindak pembersihan PKI dari Oktober 1965 hingga awal 1966, tentu saja tanpa peradilan, dan hampir satu juta orang dipenjara. Namun, walau hampir 50 tahun berlalu, pemerintah seolah-olah menganggap tragedi ini tak ada.

Adalah sutradara asal Amerika Serikat Joshua Oppenheimer, melalui media dokumenter, membuka mata dunia tentang adanya pembantaian di Sumatera Utara. Pertama lewat Jagal (The Act of Killing, 2012) yang masuk dalam nominasi Academy Awards 2012 untuk Best Documentary Feature, dan kini dia mengejutkan dunia lagi lewat Senyap (The Look of Silence).

Berbeda dengan Jagal yang dari sudut pandang pelaku, Senyap memotret peristiwa itu keluarga korban pembantaian. Keduanya sama-sama bertolak dari peristiwa 1965 di Sumatera Utara yang dibekingi tentara.

Adi Rukun, 44 tahun, adalah anak bungsu yang tak pernah kenal abangnya, Ramli. Dia mendengar tentang Ramli dari ibunya yang sudah renta, 94 tahun. Ayahnya yang sudah pikun, lumpuh, nyaris tak dapat melihat, dan nyaris tuli bahkan tak ingat siapa Ramli ketika nama itu disebutkan sang istri.

Ramli dulu sempat pulang pada malam hari dalam keadaan perut sobek, usus keluar, wajah babak belur, dan darah di mana-mana. “Mak, sini, Mak, tolong aku. Buatkan teh, Mak,” ibunya menirukan suara lirih Ramli.

Esok paginya Ramli dijemput beberapa orang yang mengatakan akan membawa Ramli ke rumah sakit. Ibunya tak percaya ucapan tersebut dan yakin Ramli akan dibunuh. Dia minta ikut, tapi dilarang penjemput.

Itu kali terakhir ibunya melihat Ramli utuh, karena yang kemudian dikembalikan hanya alat vitalnya, yang kemudian dikuburkan dan dibuat kuburannya secara layak. Jasad Ramli sudah dihanyutkan di Sungai Ular, Deli Serdang, setelah kepalanya ditebas dan lebih dulu nyemplung ke sungai.

“Wajahmu itu persis wajah Ramli,” lanjut sang ibu ke Adi. “Aku minta sama Gusti Allah supaya dikasih ganti anakku. Untung kamu lahir, kalau tidak, aku bisa gila. Sesudah Ramli mati, gigi bapakmu itu rontok satu demi satu.”

Bersama sutradara Joshua Oppenheimer, Adi menemui para pembunuh (demikian Adi dan film ini menyebut, alih-alih “pelaku”) abangnya, dengan dalil ingin membuatkan kacamata. Sambil mencari lensa yang cocok, Adi, yang berprofesi tukang kacamata keliling, menggali cerita. Ada yang ditemuinya ini sudah pikun, ada yang hidup di kampung memelihara monyet, ada yang jadi ketua DPRD.

Koordinator pembunuhan sudah mati, tapi Joshua masih menyimpan rekaman video wawancara dengan orang tersebut dan pembunuh lainnya pada 2003 saat memfilmkan Jagal.

Dari rekaman itu Adi tahu bagaimana urut-urutan Ramli disiksa. Juga bagaimana tiap malam 20-30 orang dibawa dari penjara dalam keadaan lemas babak belur, diseret ke tepi Sungai Ular, dipenggal, dan dihanyutkan ke sungai. Tak lupa segelas darah korban diminum pembunuh, dipercaya mencegah gila. Jangan tanya apa yang dialami Gerwani. Lebih sadis lagi.

Adi merisikokan hidupnya dengan menemui para pembunuh abangnya yang dianggap simpatisan PKI. Tujuannya cuma berharap mereka meminta maaf agar Adi dan keluarga juga dapat memberi maaf, sehingga mereka dapat hidup berdampingan sebagai tetangga, bukan pembunuh dan keluarga korban.

Namun dari sederet yang ditemui, pada akhirnya yang meminta maaf hanya dua. Yang pertama, putri pembunuh yang ayahnya sudah pikun, dan janda koordinator pembunuh. Sedangkan para pembunuh sendiri berkilah di balik istilah-istilah heroik “tugas negara” atau “itulah politik” dan menganggap semua itu masa lalu yang tak perlu ditengok lagi.

“Jangankan minta maaf, menyesal sedikit pun tidak,” kata Adi usai pemutaran perdana Senyap di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 10 November 2014. Lewat film ini dia berharap stigma negatif tentang korban ’65 dan keluarganya terhapus. Sekolah tak lagi mengajarkan tuduhan yang salah tentang PKI dan pendukungnya.

Oppenheimer melibatkan banyak pihak dalam menggarap Senyap, termasuk 60 orang Indonesia yang namanya sengaja disembunyikan dengan alasan keamanan (itu sebabnya banyak tertulis “anonim” di kredit film). Karenanya dia menyebut Senyap adalah karya Indonesia, bukan karyanya.

Lewat Skype sebelum pemutaran film Oppenheimer menyampaikan agar masyarakat ikut andil dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu, dalam hal ini pembantaian terhadap orang-orang yang dicurigai komunis, dan komitmen untuk menghapus semua bentuk impunitas.

“Kita tetap akan dihantui sejarah kecuali kita menghadapinya dan mengakui bahwa yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar. Tanpa mengakui dan menyuarakan makna masa lalu terkait perlakuan diskriminatif, maka kita tunduk pada ketakutan dan menyerah pada ancaman para pelaku,” ujarnya.

Tahun 1965 adalah titik awal pelanggaran HAM serius di Indonesia, dan dari situlah rezim ketakutan dimulai. Ketakutan yang terbentuk dari rakyat Indonesia yang membunuh saudaranya sendiri. Pelanggaran HAM yang membuat rakyat senyap, enggan mengungkit tragedi kemanusiaan ini.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 155, 17-23 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s