Parodi Negeri Suranesia

20141124_MajalahDetik_156_102 copy
Sebuah negeri kehilangan pemimpin. Orang-orang terbaiknya tengah diseleksi sebagai pengganti. Emban istana ikut jadi penentu.
Oleh: Kustiah/ Silvia Galikano
Suranesia gaduh. Maharajanya, Prabu Surasena, mangkat. Tiga puteranya tak ada yang berminat melanjutkan tahta.
Cangik (Rita Matu Mona) sang emban istana diangkat jadi ketua panitia sayembara memilih maharaja baru. Dia pun memanggil pulang putrinya, Limbuk (Tuti Hartati), yang biasanya mengamen dari kota ke kota, menyanyi dan melawak bersama rombongan. Pulangnya Limbuk sangat menghibur ibunya yang masih tak percaya Prabu Surasena mangkat.
Cangik kemudian mengundang tokoh-tokoh besar untuk jadi juri sayembara. Mereka adalah Gatotkaca (Ade Firman Hakim), Lesmono Mondrokumoro (Yulius Buyung), perwakilan dewa oleh Batara Narada (Dick Perthino) dan Semar (Supartono JW), Riri Ratri (Ratna Ullyu) dari Kerajaan Kediri, serta ratu para setan, Pramoni (Anneke Sihombing). Di hadapan juri inilah enam kandidat maharaja satu per satu memaparkan rencana pemerintahan mereka saat berkuasa nanti.
Calon pertama bernama Santunu Garu (Rangga Riantiarno) yang datang menunggang kuda bersayap garuda. Dia berjanji akan menjaga kedaulatan pangan, ekonomi kerakyatan, menjaga NKRI, dan… tak akan segan menembak jika rakyat tak kerja keras. Dor! Dor! Dor! Para Dewa dibuat kaget dengan suara tembakan barusan.
Dundung Bikung (Bayu Dharmawan) kandidat berikutnya. Dengan berseragam militer, Dundung juga menginstruksikan anak buahnya menembak siapa saja yang dianggap teroris dan musuh rakyat. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Kali ini lebih meriah suara tembakannya.
Calon maharaja ketiga, Graito Bakari (Alex Fatahillah), membuka perkenalannya dengan menyebut Pulau Lumpur sebagai karya besarnya. Ia meyakini Pulau Lumpur yang ia berikan kepada rakyat akan berguna di kemudian hari.
Calon keempat bernama Burama Rama (Subarkah Hadisarjana) yang berjenggot, pandai menyanyi, perayu ulung, dan tak lupa menyelipkan kata “Terlalu” dalam pidatonya. Pidato tentang cinta, tentu saja. Ketika melihat ada putri cantik dari Kediri di bangku juri, Burama sontak melancarkan jurus mautnya, “Maukah kau kukawini? Nanti istri tuaku akan kuceraikan.”
Calon kelima Binanti Yugama (Daisy Lantang), adipati di sebuah kabupaten yang berasal dari golongan yang biasa menerima upeti dari anggota. Sang adipati menganggap sekaranglah saat yang tepat “meningkatkan karier” jadi maharaja.
Calon keenam adalah Jaka Wisesa (Budi Ros), mantan Walikota Soladuga yang kemudian jadi gubernur di Kotaraja. Dengan logat Jawa yang medok, Jaka Wisesa memaparkan delapan ajaran utama Hastabrata yang akan dia terapkan. Presentasi yang beda dari yang lain. Kini nasib negara berada di tangan Cangik dan para juri.
Tak sulit menghubungkan cerita Republik Cangik ini dengan riuh rendah pesta demokrasi Indonesia yang baru saja lewat. Juga mengidentikkan karakter-karakter berikut gimmick-nya dengan para capres. Teater Koma mementaskan Republik Cangik di Gedung Kesenian Jakarta, dengan Nano Riantiarno sebagai sutradara dan penulis naskah. Pementasan ke-136 Teater Koma ini berlangsung selama 10 hari, 13-22 November 2014.
Cangik adalah dayang kelas rendah, tapi akrab dengan keluarga raja. Dalam pergelaran wayang kulit purwa maupun wayang orang, biasanya keduanya ditampilkan sebagai “pelawak” dalam adegan kedatonan. Cangik selalu muncul bersama anaknya, Limbuk.
Tubuh mereka sangat berbeda. Cangik kurus, lehernya panjang. Limbuk gemuk, pendek, berhidung pesek, dan berdahi lebar.
Limbuk selalu ingin kawin, tapi tak ada lelaki yang datang melamar. Dia emban muda yang genit. Sisir serit nangkring terus di kepalanya, dan dia akan menyisir rambutnya agar terlihat keren di mata lelaki. Lelaki idolanya adalah Gatotkaca, putra Bima. Tapi sayang, Gatotkaca sudah menikah.
Beberapa dalang sering menggunakan dialog Cangik dan Limbuk sebagai alat untuk tujuan dakwah, pendidikan, dan penerangan masyarakat. Atau, sering juga, yang menanggap wayang menggunakan Cangik dan Limbuk sebagai nasehat bagi masyarakat sekitar dia tinggal. Teater Koma pernah menggunakan dua karakter ini dalam pementasan Republik Petruk (2009), juga dimainkan Rita Matu Mona dan Tuti Hartati.
Cangik dan Limbuk adalah perempuan panakawan. Dua perempuan dari sekian panakawan yang sebagian besar lelaki, tapi memegang posisi kunci. Jika dibawa ke “dunia nyata”, delapan perempuan menteri setelah di kabinet-kabinet sebelumnya hanya mengisi dua atau, paling banter, tiga kursi menteri. Tentu ada banyak harapan menyertai kedelapannya, seperti tagline pementasan ini, “Sesudah musibah, adakah berkah?”

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 156, 24-30 November 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.