Pokoknya Amerika Mesti Menang!

film perang

Dalam film-film perang Hollywood, Amerika adalah pahlawan dunia. Berani menyimpang, film tersebut akan dihukum dunia.

Oleh Silvia Galikano

Film yang populer di Amerika Serikat akan membuka gerbang popularitas di Inggris, Jerman, Spanyol, Kazakstan, Indonesia, Australia dan seluruh dunia. Itu sebabnya film Amerika adalah bagian dari budaya populer. Budaya populer sifatnya sangat formulaic, yakni ada formula atau kebiasaan tertentu yang sangat kuat yang dipegang setiap genre film.

James I. Deutsch menyampaikan hal tersebut dalam Kuliah Umum Film Perang dalam Budaya Amerika Mutakhir di Serambi Salihara, Jakarta, 24 November 2014.

James I. Deutsch Ph.D. Foto: Silvia Galikano
James I. Deutsch Ph.D.
Foto: Silvia Galikano

James I. Deutsch Ph.D. adalah profesor di Center for Folklife & Cultural Heritage Smithsonian Institution, Washington DC dan pengajar paruh waktu di George Washington University. Disertasinya pada 1991 tentang bagaimana film dan fiksi Amerika menggambarkan veteran Perang Dunia II.

Dalam kuliah umum dia sampaikan bahwa akar film populer Amerika adalah film-film Western, yang di Indonesia kerap disebut film koboi, dengan John Wayne sebagai jagoannya. Wayne sosok utama yang membereskan semua masalah.

Satu hal penting dalam film Western adalah selalu ada perbedaan jelas antara peradaban (civilization) dan kebiadaban (savagery). Tak ada wilayah abu-abu dalam imajinasi masyarakat Amerika. Cerita tentang peradaban berisi rumah tangga ideal, penegak hukum berlaku adil, perempuan terpenuhi-hak-haknya, anak-anak pergi sekolah, orang dewasa bekerja, dan mereka rajin ke gereja.

Musuh peradaban adalah kebiadaban. Di film-film Western, masyarakat asli Amerika (Indian), entah itu dari suku Comanche, Navajo, Apache, atau Cheyenne, yang mendapat cap sebagai masyarakat biadab. Yang juga dianggap biadab dalam film Western adalah mereka yang melanggar hukum.

Selalu ada pertarungan antara yang beradab dan yang biadab, dan ini jadi elemen penting dalam budaya populer Amerika. John Wayne si pendukung peradaban di akhir film mengalahkan kebiadaban. Itulah dasar film Western. Film-film lain mengikuti formula ini. Film perang, misalnya, punya banyak kemiripan dengan film Western dan punya formula juga walau tak semua film dapat diformulasikan, tapi sebagian besar iya.

Satu elemen yang selalu berhasil dalam film perang adalah adanya satu unit kecil berisi pria (dalam beberapa kasus, perempuan) yang bertarung dalam situasi hidup dan mati. Di Saving Private Ryan (1998) unit kecil itu dikomandani Captain Miller (Tom Hanks). Di Fury (2014), kelompok kecil pasukan Amerika dipimpin Wardaddy (Brad Pitt) yang berperang melawan Nazi Jerman.

Unit kecil di Platoon (1986) terdiri dari etnis Afrika-Amerika, Italia-Amerika, Yahudi-Amerika, dan Polandia-Amerika, yang mewakili masyarakat Amerika, namun mereka punya tujuan sama. Setelah mengalami serangkaian pertempuran, tercipta ikatan kuat dalam unit kecil itu.

Kamera fokus pada tim kecil ini dan menggali masing-masing mereka. “Jika film fokus pada 10.000 pasukan, tak ada yang tahu mana yang benar, itu sebabnya kamera menembus langsung ke personil tim kecil,” ujar Deutsch yang berbicara tanpa teks.

Formula lain adalah dalam tim selalu ada orang baru yang baru kali itu ikut perang. Pada seniornya dia belajar menyerang dan membunuh. Orang baru ini menciptakan ikatan emosional yang kuat dengan penonton karena sama-sama sebagai korban perang.

Di film perang juga selalu ada personil tentara yang terpanggil rasa kemanusiaannya dan menyadari tak seharusnya dia membunuh manusia lain.

The Hurt Locker (2008) tentang pasukan elite penjinak bom di Bagdad adalah juga film yang sangat formulaic. Ada unit kecil yang dikepalai Sersan William James (Jeremy Renner) dan ada konflik di unit tapi di akhir film mereka bersatu lagi.

Film yang mendapat enam Academy Award ini punya penutup yang bagus. James pulang ke Amerika dan terpana di depan ratusan merek cereal di supermarket. Tak ada dialog, semuanya dengan cara visual. Tapi nampak di situ ada kebingungan, kemarahan, hingga akhirnya dia memutuskan kembali ke Irak karena ikatan batinnya ada bersama unitnya.

Jika Hollywood gegap gempita dengan film berlatar belakang Perang Dunia II, kondisi sebaliknya dengan Perang Vietnam. Tak banyak film berlatar belakang Perang Vietnam. Ini analisis Deutsch, “Kami kalah dalam Perang Vietnam tapi Amerika mengingkarinya. Kami tak ingin mengakui kalah dalam perang tersebut.”

Sepanjang Perang Vietnam berlangsung (1960-1975), lebih sedikit lagi film tentang perang tersebut. Di antara yang sangat sedikit itu adalah Green Berets (1968) yang dibintangi John Wayne. Citra koboinya masih melekat. Dia bahkan menggunakan istilah khas film Western dalam dialognya, misal, “Okay, Guys, let’s saddle up (Ayo pergi).” Mereka tidak benar-benar memasang sadel di atas kuda.

Green Berets me-western-kan perang, dengan menempatkan pasukan Amerika sebagai orang baik dan Vietkong sebagai orang jahat. Namun film ini tak mematuhi formula. Green Berets bukan tentang kemenangan, melainkan tentang kekalahan.

Sejak itu produser Hollywood sepakat tak akan membuat film tentang Vietnam. Perang Vietnam menciptakan anggapan yang beragam di masyarakat Amerika, dan Hollywood menghindar angkat bicara.

Yang juga keluar dari formula film perang adalah Deer Hunter (1978) dibintangi Robert de Niro, Meryl Streep, dan Christopher Walken. Setahun kemudian keluar Apocalyse Now garapan Francis Ford Coppola. Dua film ini bukan menceritakan realistis perang.

Ada unit kecil di Apocalypse Now tapi bukan tipikal unit dalam film-film formulaic. Garis antara yang baik dan yang jahat tidak jelas.

Baru kemudian keluar Rambo dengan garis yang jelas antara yang baik dan yang jahat. Rambo punya empat seri: First Blood (1983) dan Rambo: First Blod Part II (1985) tentang Perang Vietnam, Rambo III (1988) melawan Soviet di Afganistan, dan Rambo IV (2008) yang berperang melawan pemerintahan Burma.

Rambo jadi film paling populer tentang Perang Vietnam karena di sinilah Amerika menang. Jangan tanya garis batas antara baik dan jahat, karena Amerika melakukan hal-hal brutal di Vietnam. Yang penting Amerika menang, John Rambo jadi superhero, dan produser bisa bikin film lagi tentang Amerika yang selalu menang.

***
Dimuat di Majalah Detik, edisi 157, 1-7 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s