Akhir Persahabatan Doraemon & Nobita?

doraemon

Film terbaru Doraemon merangkum petulangan robot kucing itu dengan Nobita, sejak keduanya pertama bertemu hingga Doraemon menyelesaikan misinya. Apakah artinya mereka berpisah?

Oleh Silvia Galikano

Judul: Stand by Me Doraemon (I)
Genre: Animasi | Drama | Keluarga
Sutradara: Ryuichi Yagi, Takashi Yamazaki
Skenario: Fujiko F. Fujio (manga), Takashi Yamazaki (layar lebar)
Pemain: Satoshi Tsumabuki
Durasi: 1 jam 35 menit

Nobita terkaget di pagi buta melihat kucing robot menyeruak keluar dari laci meja belajarnya. Kucing robot itu menyebutkan namanya, Doraemon. Dia datang dari masa depan, abad ke-22.

Belum usai kaget Nobita, nongol lagi satu makhluk dari lacinya. Sewashi, keturunan Nobita, empat generasi sesudahnya. Sontak dia makin menggigil ketakutan, “Hah?! Bagaimana mungkin aku punya cucu? Umurku baru 10 tahun?”

Nobita berlari keliling kamar, mengira dua makhluk dari masa depan itu mengejarnya. Namun kemudian dia terduduk lemas dan mendengar penjelasan Sewashi.

Adegan ini jadi pembuka Stand by Me Doraemon yang telah lama ditunggu-tunggu penggemar Doraemon di Indonesia, mengingat tayang perdana di Jepang sudah sejak 8 Agustus lalu. Dalam film ini, kita dibawa mundur jauh ke belakang, ke awal perkenalan Nobita dengan sahabatnya si robot kucing dari masa depan.

Nobita sama saja dengan di serial televisi yang diputar salah satu televisi swasta tiap Minggu pagi sejak 1989: tetap bocah umur 10 tahun, cengeng, pemalas, bangun kesiangan melulu, nilai ulangan 0, tak pandai di olah raga, tak bisa membela diri saat diganggu Giant atau Suneo, dia bahkan tak bisa menarik celananya sendiri yang melorot.

Kehadiran Sewashi mengabarkan Nobita di masa depan bakal lebih sial lagi. Dia akan menikah dengan Jaiko, adik Giant (mata Nobita hampir meloncat dari rongganya mendapat kabar ini), punya dua anak, dipecat dari kantor, buka toko tapi tak lama kemudian tokonya terbakar, jatuh miskin, dan tertimbun utang yang menyengsarakan keluarga hingga empat turunan.

Maka, menurut Sewashi, kesialan itu harus dicegah dari awal, yakni jangan sampai Nobita menikahi Jaiko. Sewashi juga mengutus Doraemon yang punya kantong ajaib itu untuk menjaga Nobita dan memprogram robot kucing itu bisa kembali ke abad ke-22 hanya jika tugasnya rampung, yakni membahagiakan Nobita.

Doraemon telah menghibur anak-anak Asia selama empat dekade. Cerita tentang robot kucing yang mengadakan perjalanan waktu dari abad ke-22 itu jadi karakter manga paling terkenal sepanjang masa di tengah anak-anak Jepang. Doraemon pun jadi ikon budaya Jepang dan dideklarasikan sebagai ambassador anime pertama Jepang oleh Menteri Luar Negeri Jepang pada 2008.

fujikoTapi siapa sebenarnya Doraemon? Adalah Fujiko F. Fujio yang menulis dan menggambarkan kisah persahabatan robot kucing dari masa depan bernama Doraemon, dengan seorang bocah bernama Nobita. Fujiko F. Fujio adalah nama pena dari tim penulisan manga yang terdiri dari Hiroshi Fujimoto (1933-1996) dan Motoo Abiko (kelahiran 1934).

Keduanya bekerja sama pada 1951, tapi mulai menggunakan nama Fujiko F. Fujio pada 1954. Karya-karyanya banyak mendapat pengaruh Osamu Tezuka (1928-1989), kartunis dan animator Jepang. Fujiko membuat Doraemon pada Desember 1969 hingga akhirnya keduanya berpisah jalan pada 1987 untuk menggarap proyek berbeda.

Untuk memperingati 80 tahun Fujiko F. Fujio jugalah Stand By Me Doraemon ini dibuat. Film pertama Doraemon dengan teknologi CG (computer grafic) full 3D ini dibesut Takashi Yamazaki dan Ryuichi Yagi, dua guru visual effects dan pionir animasi komputer Jepang. Sebelumnya, mereka menyutradarai Friends: Naki of Monster Island (2011).

Untuk film ini, Yamazaki dan Yagi meng-upgrade gaya anime gambar tangan yang ada di serial televisi. Tarikan garisnya lebih halus dan warna-warnanya lebih cerah, hingga CG-nya berada antara Pixar yang punya ciri hangat, pencahayaan menyebar, dan warna-warna pastel, dengan karakter Jimmy Neutron yang bermata bulat dan berkepala mirip balon yang baru saja dipompa. Sejumlah ekspresi jadi demikian halus, khususnya di momen-momen emosional.

Sizuka dibuat sedikit lebih imut dibanding versi gambar tangan, dengan mata lebih bulat dan dagu lebih cantik. Doraemon dan Nobita tetap menggemaskan dengan wajah yang kerap bersemu merah setiap kali Nobita mengingat Shizuka atau ketika pagi-pagi Doraemon mengatasi hang-over-nya.

Animasi 3D sangat memadai untuk menggambarkan senjata-senjata rahasia Doraemon, seperti pintu ke mana saja, selimut pemutar waktu, terowongan Gulliver, dan pastinya baling-baling bambu.

Salah satu inovasi yang dilakukan tim produksi Stand By Me Doraemon adalah mengumpulkan beberapa episode terbaik manga maupun serial televisi klasik Doraemon, lalu ceritanya dirangkai jadi sebuah film. Semua Jalan dari Negeri Masa Depan, Romansa di Pegunungan Bersalju, Malam Nobita Sebelum Pernikahan, dan Selamat Tinggal, Doraemon, untuk menyebut beberapa.

Bagi masyarakat Jepang, film ini mewakili kenangan selama 45 tahun. Semua serbafamiliar. Namun bisa jadi orang luar Jepang, apalagi yang baru kali ini menonton Doraemon, akan heran mengapa Nobita sering sekali menangis, bereaksi berlebihan, dan berkali-kali mempermalukan diri sendiri. Atau mengapa ada robot doyan dorayaki? Demi menghabiskan dorayaki senampan, Doraemon bisa menunda mengeluarkan alat ajaib dari kantong walau di sampingnya Nobita sudah lama meraung-raung, berisik sekali.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 158, 8-14 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s