Panggung Glamor untuk Harlequin

20141208_MajalahDetik_158_102 copy

Harlequin dan Aku memilih jalan hidup berbeda setelah sama-sama jadi anak panti asuhan. Bertahun-tahun kemudian, nasib mempertemukan keduanya dalam keadaan yang sangat berlainan.

Oleh Silvia Galikano

Gagah sekali sekarang Harlequin (Enrico Tanod)! Perlente. Selalu ada perempuan cantik menggamit tangannya. Perempuan hari ini berbeda dengan perempuan kemarin, beda lagi dengan yang menemaninya esok.

Pria itu dulu kawan Aku (Felicia Harenya Suniastari) di panti asuhan saat Aku masih kanak-kanak dan Harlequin remaja. Keduanya dekat. Aku sempat menitipkan hati padanya tapi Harlequin ragu-ragu menerimanya dan akhirnya mengabaikan.

Seiring waktu, keduanya bertumbuh ke arah berbeda. Nasib membawa Harlequin jadi bellboy di Hotel Batavia, hotel megah dan bergengsi di Batavia tempat sosialita berkumpul, sedangkan Aku (Truly Rizki Ananda) jadi penari yang jasanya disewa dalam banyak keriaan.

Kapal mewah merapat di Sunda Kelapa. Serombongan perempuan Belanda turun, termasuk di dalamnya Colombine (Rechelle Rumawas), janda muda cantik. Di sinilah pertama kali Harlequin si bellboy Hotel Batavia itu mengenal perempuan kaya Colombine. Harlequin ke Sunda Kelapa untuk menjemput rombongan yang akan menginap di hotel tempatnya bekerja.

Colombine tertarik pada Harlequin, pemuda gagah yang membawakan tasnya, dan memberi uang tip banyak. Dari tip untuk untuk membawakan tas, meningkat ke tip menemani jalan-jalan, lalu tip menemani ke pesta, hingga tip untuk “membelinya”.

Hidup Harlequin kini berubah total. Baju-baju bagus dan mahal menempel di tubuhnya. Dia jadi pengunjung tetap tiap pesta di Batavia ditemani perempuan-perempuan cantik yang berganti-ganti, selain Colombine tentu saja.

Dalam sebuah pesta di Stadhuis, Harlequin bertemu Aku dengan dua nasib yang berbeda: Harlequin datang memenuhi undangan, Aku sebagai penari yang mengisi hiburan pesta. Aku ternyata masih menyimpan rasa cintanya pada Harlequin. Si pemuda masih dalam ragunya, tapi keadaan tak sesederhana dulu. Sekarang ada Colombine yang menggamit tangannya erat.

urlBetapa pilihan hidup dapat mengikis sisi manusia dalam diri seseorang dipentaskan dalam lakon tari balet Hotel Batavia oleh Namarina Youth Dance (NYD) di Gedung Kesenian Jakarta, 29 & 30 November 2014. Hotel Batavia, yang merupakan pertunjukan tahunan ke-9 NYD, diadaptasi dari tema karya visual Melissa Sunjaya, perancang grafis sekaligus pemilik merek “Tulisan”.

Melissa membuat gambar tentang sirkus Prancis dengan karakter utama manusia berkepala kambing. Di kelilingnya ada perempuan cantik berbaju mewah, perempuan pemain akrobat yang di pipinya ada tetesan air mata, serta badut yang tangannya meraih amplop yang menyembul dari saku celana si manusia berkepala kambing.

Si badut, meski digambarkan suram, tapi ekspresinya bahagia. Sebaliknya dengan perempuan pemain akrobat yang wajahnya digambarkan tersenyum lebar, tapi air mata di pipinya tak dapat berbohong tentang derita yang selama ini dia tahan.

Untuk pementasan ini, Artistic Director Namarina Youth Dance Maya Tamara bersama dua koreografer NYD Dinar Karina dan Sussi Anddri mengubah karakter perempuan pemain akrobat, yang merupakan ide awal Melissa, jadi karakter Aku si perempuan penari.

Cerita ini berlatar belakang 1930-an, ketika dunia mengalami krisis ekonomi global pertama. Amerika Serikat, yang saat itu salah satu pusat kekuatan dunia, mengalami krisis ekonomi hebat yang dikenal sebagai the Great Depression.

Krisis berimbas pada perekonomian Eropa, termasuk Belanda yang saat itu masih menjajah Hindia Timur (sekarang Indonesia). Vereenigde Oost-indische Compagnie (VOC), badan kongsi perdagangan yang mewakili kepentingan Belanda di Hindia Timur, tak luput dari imbas krisis tersebut.

Hasil bumi yang dikeruk dari bumi Nusantara hanya terserap 30 persen dari volume sebelumnya. Ribuan buruh perkebunan diberhentikan, pengangguran dalam jumlah besar pun tak terhindarkan. Perjudian dan pelacuran merebak.

Bagi orang Eropa, kehidupan yang sulit membuat banyak dari mereka (khususnya kaum perempuan) bermigrasi ke negeri-negeri jajahan untuk memperoleh kehidupan yang lebih nyaman. Di sisi lain, isu keadilan ekonomi dan kemerdekaan semakin berkumandang di kalangan kaum intelektual pribumi. Berbagai bentuk organisasi dibentuk untuk memperjuangkan kedua hal tersebut.

Dari situasi krisis itu lahir bentuk-bentuk karya baru. Gaya arsitektur art deco yang berawal di Prancis, misalnya, mengalami puncaknya pada dekade 1930-an, menggantikan art nouveau. Di wilayah musik, kaum hitam Amerika Serikat melahirkan cabang musik jazz baru yang disebut swing. Tari pun menyumbangkan bentuk-bentuk baru, seperti charleston, lindy hop, dan tango.

Berlatar belakang kejadian-kejadian besar yang jadi ciri khas 1930-an itulah Hotel Batavia dibuat. “Kami ingin membuat suasana 1930-an yang glamor, ungu, anggun, seducing, art deco, sedikit art nouveau,” ujar Maya sebelum gladi resik, 28 November 2014.

Maka di panggung ada charleston dan tango meningkahi balet klasik yang jadi suguhan utamanya. Di beberapa bagian, unsur Betawi juga dihadirkan lewat tarian berikut kostum warna-warna cerahnya.

Gejolak yang terjadi pada 1930-an ternyata tak banyak beda dengan yang terjadi sekarang. Bingkai waktu saja yang berbeda, Indonesia zaman dulu dan Indonesia modern. Tapi apakah masyarakat Indonesia modern siap jadi orang modern? Jika Indonesia bisa membangun ratusan gedung bertingkat, apakah masyarakat Indonesia bisa tertib antre masuk lift?

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 158, 8-14 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s