Dunia Hening Alice

alice

Dalam usia relatif muda, Alice didiagnosis mengidap alzheimer langka. Seiring waktu dia berubah, demikian pula keluarganya.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Still Alice
Genre: Drama
Sutradara: Richard Glatzer, Wash Westmoreland
Skenario: Richard Glatzer
Produksi: Sony Pictures Classics
Pemain: Julianne Moore, Kristen Stewart, Kate Bosworth
Durasi: 1 jam 39 menit

Satu demi satu kata hilang dari ingatan Alice Howland (Julianne Moore), seorang profesor linguistik. Sebelumnya, dia sudah miliki semua yang diinginkan setiap orang. Karier cemerlang sebagai profesor di Ivy League school, mengajar mata kuliah yang sangat dia sukai, linguistik. Suaminya yang tampan itu seorang ilmuwan-peneliti yang juga sukses dan dikagumi, DR John Howland (Alec Baldwin).

Tiga anak mereka (Kate Bosworth, Hunter Parrish, dan Kristen Stewart) sudah dewasa dan punya kehidupan masing-masing yang bahagia juga. Ulang tahunnya ke-50 dirayakan di sebuah restoran mewah dengan acara makan malam keluarga. Saat bersulang, John menyebut istrinya itu sebagai orang paling cantik dan cerdas yang pernah dia kenal.

Beberapa hari setelah ulang tahun, Alice hilang arah saat lari pagi ke kampus Columbia University. Dia berdiri terengah-engah di depan perpustakaan yang bertahun-tahun diakrabi, tak tahu bagaimana cara pulang.

Lalu saat memberikan kuliah, beberapa kali Alice susah sekali mengingat kata. Walau kemudian ditutupi dengan gurauan, “Seharusnya saya tak minum champagne tadi,” tapi dia tahu ada yang tak beres. Belum lagi di rumah dia seringkali lupa meletakkan barang dan lupa janji makan malam bersama kolega.

Setelah berkonsultasi dengan seorang neurolog, didapat diagnosis yang tak disangka-sangka, yakni Alice mengidap alzheimer (kondisi neurologis yang ditandai penurunan daya ingat) langka yang sifatnya genetik. Penyakit itu kemungkinan besar diturunkan dari ayahnya dan peluang 50:50 diidap anak-anaknya juga.

Alice menyiasati keadaan ini dengan mulai rajin bermain teka-teki silang di ponsel; menuliskan tiga kata di papan tulis di dapur di sela-sela memasak, dan 15 menit kemudian menuliskan ulang tiga kata itu tanpa melihat yang dia tulis sebelumnya.

Ketika makin banyak ingatan yang hilang, Alice diundang jadi pembicara dalam perkumpulan alzheimer dan keluarga. Dua hari dia menyiapkan pidato sesuai tuntutan standar akademisnya dulu. Untuk mencegah mengulang kalimat yang sudah diucapkan, dia akan berbicara sambil menstabilo baris per baris tulisan di teks. Alice nampaknya siap jika nanti pidatonya gagal atau dia tampil memalukan.

Adegan genuine ini demikian inspiratif walau sedikit menyakitkan untuk dilihat. Menurunnya tingkat ingatan Alice kadang jelas dipampangkan, kadang penonton mesti sabar menunggu, yang membuat adegannya rentan terjeblos dalam jebakan bosan.

Demikian Richard Glatzer dan Wash Westmoreland membuat adaptasi novel berjudul sama, Still Alice, karya Lisa Genova. Sebelumnya, selama satu dekade, Glatzer dan Westmoreland, yang adalah pasangan, itu membuat film-film independen, antara lain Quinceanera (2006).

Seakan-akan kebetulan, Richard Glatzer didiagnosis ALS (Amyotrophic lateral sclerosis – penyakit degenerasi saraf motorik yang makin lama makin buruk) pada 2011, sebelum dia dan Westmoreland memutuskan mengadaptasi novel Genova. Keterkejutan atas diagnosis ini yang mendorong mereka mengambil materi tersebut.

Mungkin saja merupakan sebuah kelebihan ketika film ini ditangani Glatzer dan Westmoreland karena Glatzer sangat familiar bagaimana berjuang di tengah sisa-sisa kreatifnya. Sepanjang pembuatan film, kondisi Glatzer makin buruk hingga butuh aplikasi text-to-speech di iPad untuk berkomunikasi.

Lewat Still Alice, dua sutradara ini memaparkan pengalaman indah yang sebenarnya dari penderita alzheimer. Mungkin itu sebabnya Still Alice terasa tenang dan tidak melodramatik, yang akan lain ceritanya jika film ini ditangani sutradara lain.

Glatzer dan Westmoreland tak perlu menumpukkan emosi ke karakter Alice atau mencoba memeras air mata penonton dari ironi menurunnya kognisi seorang ahli linguistik yang brilian. Duo sutradara ini “hanya berfokus” pada kecantikan Julianne Moore yang berpenampilan sederhana. Namun semakin lama kamera menyorot wajahnya, dan air mata akan turun dengan sendirinya, semakin kita tersadar film ini dibangun bukan dengan dialog, melainkan melalui musik yang resah dan sinematografi dengan warna-warna hangat.

Dengan gabungan power dan keanggunan, Julianne Moore membawa Still Alice keluar dari jebakan film-yang-dibuat-untuk- televisi-kabel, dan menyuguhkan salah satu penampilan terbaik yang akan dikenang karena membuat karya bagus. Dia sudah bermain sebagai bintang porno di Boogie Nights (1997), jadi seniman eksentrik di The Big Lebowski (1998), jadi ibu rumah tangga yang frustrasi di Far From Heaven (2002), hingga memainkan sosok Sarah Palin di Game Change (2012) yang tayang di HBO.

Moore aktris cerdas, pintar, dan instingnya tak pernah meleset. Dia menemukan jalan yang tak diduga-duga untuk masuk ke dalam sebuah karakter, kali ini mengharuskannya menunjukkan kemerosotan mental yang terjadi perlahan-lahan. Moore nampak tak ngoyo, cukup dengan sorot mata dan sedikit perubahan nada suara, penonton dapat memahami karakternya hingga tahap-tahap perubahan kondisi mentalnya.

Pada pokoknya, Still Alice bercerita bagaimana Alice bereaksi atas kemerosotannya sendiri serta bagaimana reaksi keluarga. Hubungannya makin dekat dengan putri bungsunya, seorang aktris pemula yang memilih tak menyelesaikan kuliah, Lydia (Kristen Stewart).

Adegan berikut menggambarkan kedekatan keduanya dengan cara sangat indah: Lydia yang bersiap audisi, membacakan bagian liris dan panjang dari Angels in America garapan Tony Kushner di depan ibunya, lalu bertanya, “Menurutmu tadi itu tentang apa, Mom?”

Alice yang sebelumnya mendengar dengan ekspresi kosong, jeda beberapa saat sebelum menjawab agak terbata-bata dan sedikit menggantung, tapi tepat, “love.”

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 159, 15-21 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s