Tentang Cokek dan Geolnya

20141215_MajalahDetik_159_102 copy Perjalanan sejarah membuat sebuah tarian bergeser demikian jauh dari bentuknya saat lahir. Seperti Cokek yang “diingkari” masyarakat Betawi.

Oleh Silvia Galikano

Kakek-kakek geregetan, Cokek pade cecengiran

Sampirin s’lendang e e kakek ditandakin, diigelin

Yang nonton pade nyurakin.  

….

Ngok sengak sengok bengok Cokeknye dicipok, kakek udeh mabok

Benyamin Sueb (1939-1995), seniman Betawi serbabisa, itu pernah menyanyikan lagu tentang pertunjukan wayang Cokek berjudul Nonton Cokek. Penari Cokeknya genit dan menari dengan seronok, pengibing mabuk hingga kerap lepas kontrol.

Setidaknya demikianlah citra Cokek di masa Benyamin Sueb hidup, hingga sekarang ketika tarian itu sudah sangat jarang dipertunjukkan. Tak heran jika Cokek sulit diterima di masyarakat Betawi, dalam arti masyarakat Betawi yang terkenal agamais itu setengah hati “mengakui” Cokek sebagai budaya Betawi karena seni ini berkaitan erat dengan judi, alkohol, dan perempuan. Cokek pun tak pernah dimunculkan dalam acara kebetawian, khususnya acara formal pemerintah dan Betawi pada umumnya.

Lantas milik siapa Cokek ini menurut orang Betawi? Kesenian itu mereka “pulangkan” ke asalnya, Cina Benteng di Tangerang, walau tari Cokek yang berkembang di masyarakat Betawi sudah demikian terdistorsi dari bentuk asalnya ketika tarian ini hanya dibawakan di klenteng-klenteng.

Telisik Tari DKJ: Tari Betawi Topeng & Cokek di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, pada 9 Desember 2014 lalu mempertunjukkan bagaimana Cokek asli, bagaimana Cokek hasil rekonstruksi, hingga bagaimana Cokek hasil pengembangan. Ketiganya ditampilkan berurutan hingga terlihat jelas perbedaan di antara ketiganya.

Cokek asli (tari Sipatmo), misalnya, menggunakan gerakan-gerakan dasar silat Tiongkok. Para penari mengenakan baju kurung dan celana panjang, serta rambut dikepang. Musik pun cenderung tenang. Unsur Tionghoanya terdapat pada alat-alat musik gesek, yaitu konghyan, tehyan, dan sukong. Sedangkan alat musik lainnya, seperti gambang, kromong, krecek, gendang, dan gong merupakan unsur yang dianggap pribumi, sebagai pengganti alat-alat musik Tionghoa, seperti yang khim, sambian, hoshiang, dan pan.

Unsur Betawi mulai terasa di Cokek hasil rekonstruksi. Gerakan lebih lincah, geol mulai ada, dan musik lebih meriah. Di Cokek hasil pengembangan bahkan unsur Tionghoanya makin berkurang, diganti kemeriahan warna-warni Betawi. Para empu tari Betawi dilibatkan di sini, yaitu Kartini Kisam (54), Hj. Nori (75), Wiwiek Widyastuti (62), dan Entong Kisam (45).

Kartini dan Entong Kisam adalah penari topeng Betawi. Keduanya anak dari pasangan H. Kisam Jiun dan Nasah; serta cucu dari Jiun dan Kinang, generasi pertama topeng Cisalak. Hj. Nori yang dikenal sebagai komedian itu sejak kecil adalah penari topeng Betawi. Sedangkan Wiwiek Widyastuti adalah koreografer yang sudah mencipta beberapa tari Betawi.

Tari Cokek asalnya adalah tari Sipatmo. Tari ini juga berkembang dari lagu Sipatmo yang diiringi perangkat Gambang Kromong, orkes hasil kreasi kaum peranakan Tionghoa awal abad ke-18. Mereka membawakan lagu-lagu Betawi dan lagu peranakan, seperti Jali-jali, Persi, Surilang, Lenggang Kangkung, Kongjilok, Pepantaw, Citnosa, Macuntay, dan Cutaypan.

Ragam gerak tari Sipatmo ada empat, yaitu gerak soja di dada yang mengisyaratkan agar hati selalu bersih, gerak soja berhadap-hadapan lambang saling hormat, gerak mengayuh perahu bermakna mengarungi samudera kehidupan, dan stilisasi gerakan menunjuk sembilan lawang yang jadi pintu masuknya noda.

Menurut pemerhati seni Betawi Rachmat Ruchiat dalam seminar sehari sebelumnya, Sipatmo pada masa dulu merupakan tari upacara klenteng di wilayah budaya Betawi. Tarian ini kemudian disajikan juga dalam pesta pernikahan dan sejit (ulang tahun) baba-baba besar atau orang berpangkat pada abad ke-19. Saat inilah Sipatmo mengalami transformasi jadi tari Cokek.

Istilah “cokek” berasal dari dialek Hokkian, chioun-khek, yang artinya menyanyi. Jadi profesi wayang Cokek mulanya hanya merujuk pada penyanyi, bukan penari, dan karenanya pula istilah penari Cokek dulu tak ada. Seterusnya Sipatmo jadi tontonan biasa.

Pada perayaan Tahun Baru dan Cap Gomeh sering ada rombongan yang main dari rumah ke rumah, disebut wayang Sipatmo atau wayang Cokek. Suatu kelaziman pada pertunjukan wayang Cokek, para undangan ikut menari bebas berpasangan dengan Cokek, disebut ngibing. Acara demikian merupakan atraksi utama bagi para “buaya ngibing” pada masa itu, bahkan di beberapa tempat tertentu, sampai dewasa ini.

Masa itu adalah masa keemasan Memeh Karawang (bernama asli Tan Gwat Nio) sebagai penari Sipatmo. Cerita tentang Memeh Karawang ini diangkat Rachmat Ruchiat dalam diskusi dan dalam pengantar di malam pertunjukan Telisik Tari. Pada 1988, beberapa tahun sebelum wafat, Memeh Karawang mengatakan sudah lebih dari 30 tahun dia tidak pernah menarikan tari Sipatmo.

Ya, sejak 1950-an, Sipatmo sudah ditinggalkan. Masyarakat peranakan Tionghoa di wilayah budaya Betawi lebih senang dengan tari Cokek sebagai tari pergaulan dengan kedudukan laki-laki pengibing lebih tinggi dari penari perempuan. Para Cokek pun menari asal goyang, bahkan seringkali erotis. Maka Telisik Tari jadi alternatif penawaran terhadap Sipatmo, yang diharapkan dapat membawa perkembangan baru untuk mengangkat kreativitas seni Betawi ke tingkat lebih baik, tidak berputar-putar di tempat saja. Toh Sipatmo atau Cokek asli masih dipelihara masyarakat “aslinya”, Cina Benteng, dan selalu terbuka untuk dijadikan inspirasi para koreografer untuk menciptakan tarian indah.

***
Dimuat Majalah Detik edisi 159, 15-21 Desember 2014

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s