Secarik Kain Hitam Gandari

20141222_MajalahDetik_160_102 copy

Beruntun ketidakadilan datang pada Gandari. Satu per satu puteranya mati. Kemarahan dia alamatkan pada semesta.

Oleh Silvia Galikano

Sebenarnya ia bergidik:
ia membayangkan perempuan hitam
yang datang ke sudut selatan pertempuran
mendekati tubuh Dursasana.

Kepala itu telah terpenggal.
‘Dan dengan wajah yang dingin, tuanku’,
kata sang utusan, ‘Drupadi mencuci rambutnya dalam darah.’

‘Dursasana.’
Seperti jauh ia dari nama itu.
‘Darah anakku.’

Kabar pilu kini datang dari putranya yang kedua, Dursasana, yang mati di tangan Bima dalam pertempuran besar di Kurushetra. Kepala Dursasana dipenggal, dadanya dirobek dan dari sana Bima meminum darah sepupunya itu.

Setangkup darah disisakan Bima untuk diserahkan ke Drupadi yang bersumpah tak akan menyanggul rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursasana yang dulu pernah mempermalukannya di atas meja judi. Harus berapa kali lagi Gandari, ibu dari 100 anak, mendapat berita kematian anaknya?

Sebelumnya, dia sudah demikian terpukul ketika seorang utusan membawa kabar Bhisma gugur di medan perang Kurushetra dengan 100 liang luka di tubuhnya. Seratus anak panah Srikandi dibantu Arjuna membuat guru yang sangat dihormati keluarga Kurawa dan Pandawa itu roboh. Seketika perang berhenti sebentar dan senjata-senjata diletakkan untuk memberi hormat.

Ingin rasanya Gandari berucap pada sang utusan, “Apakah yang paling menyakitkan dari perang? Kekalahan? Atau kebencian?” Tapi kalimat itu kembali ditelannya ketika baru sampai ujung lidah.

Melalui medium opera-tari, perseteruan dua keluarga, Pandu dan Kuru, diceritakan dari sudut yang tak biasa, yakni dari sisi ibu para karakter antagonis. Jika menggunakan sudut pandang”konvensional”, yakni sebagai pendukung Pandawa, kekalahan satu demi satu keluarga Kurawa adalah momen perayaan, ketika yang diyakini kebenaran mengalahkan kesalahan.

Namun tidak demikian dalam Opera Tari Gandari garapan Tony Prabowo yang dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 12-13 Desember 2014. Selain menyorot kesetiaan dan pengabdian seorang perempuan, opera tari ini menunjukkan bagaimana perempuan mengambil sikap setelah setiap hari mendengar anak-anaknya mati dalam peperangan melawan saudara-saudaranya Pandawa.

Gandari dalam epos Mahabharata adalah putri dari negeri Gandara. Dia istri Destrarata, raja buta dari Kuru dan ibu dari 100 ksatria Kurawa-para penerus Kuru-yang habis dibinasakan komplotan Pandawa dalam perang hebat Bharatyudha.

Opera empat babak ini didasarkan pada puisi Goenawan Mohamad berjudul Gandari, yang dibacakan Sita Nursanti dan Landung Simatupang sebagai pengantar adegan serta dijadikan lagu yang dinyanyikan paduan suara Batavia Madrigal Singers dan solois asal Belanda Katrien Baerst.

Di bawah arahan sutradara teater kontemporer Yudi Ahmad Tajudin, ekspresi-ekspresi itu dituangkan dalam tarian oleh para penari Indonesia dan Jepang. Koreografer Akiko Kitamura menyatukan musik dan tari jadi satu komposisi puitika yang terbingkai oleh teks, sebuah ekspresi lain yang berdialog dan saling menguatkan.

Ansambel musik Asko|Schönber-Slagwerk dengan konduktor Bas Wiegers dari Belanda mengiringi lewat musik kontemporer awal abad ke-20 yang dikomposisi Tony Prabowo dengan menggabungkan elemen musik Indonesia, antara lain gong.

Seperti puisi Gandari, opera tarinya tak menawarkan cerita atau alur yang lurus, melainkan serangkaian imaji dan suasana yang menggambarkan lapis-lapis perasaan dan kenangan Gandari atas nasib buruk dan tragedi yang dialaminya. Saling berpilinnya kecemasan, kesedihan, kenangan masa kecil, perasaan kehilangan, serta kemarahan membentuk sosok Gandari dalam alur yang bercabang dan berpusar.

“Gandari tak hadir hanya sebagai suatu prototipe, tapi sebagai individu: seorang perempuan, seorang ibu, yang bergulat dengan kesedihan dan kemarahan, lalu melakukan perlawanan pada kuasa nasib (juga: para dewa dan raja-raja) yang membuatnya mengalami serangkaian tragedi. Gandari yang tak nrimo,” demikian sutradara Yudi Ahmad Tajudin mendefinisikan Gandari.

Di ujung pementasan, tampil Maria Katarina Sumarsih dalam balutan busana hitam, bercerita kronologi anaknya, Wawan, ditembak saat peristiwa Semanggi I tahun 1998 dan hingga kini tak pernah ada kejelasan nasibnya. Tak sulit menebak mengapa Sumarsih muncul di panggung yang mengangkat cerita ibu yang kehilangan anak (-anak)-nya. Perih yang ditimbulkannya sama.

Setelah berita buruk demi berita buruk diterima Gandari, istri raja buta Destrarata itu memutuskan membutakan diri dengan menutup matanya menggunakan secarik kain hitam. Inilah caranya melakukan protes pada ketidakadilan yang dia alami, beberapa detik sebelum ajal.

Dengan menutup matanya, Gandari seperti tengah menyingkap betapa sewenang-wenangnya kekuasaan yang penuh cahaya. Dia seperti sedang memilih untuk berpihak pada telinga, ketimbang mata, dalam menyerap dunia. Memilih untuk mendengar dan tinggal dalam ruang “konstruksi bunyi”, yang intim dan dekat, ketimbang melihat yang tampak gilang gemilang tapi penuh muslihat.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 160, 22-28 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s