Merayakan Erau

erau

Festival satu ini usianya sudah delapan abad. Diangkat ke film untuk meraih lebih banyak wisatawan datang ke Tenggarong.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Erau Kota Raja
Sutradara: Bambang Drias
Skenario: Endik Koeswoyo, Rita Widyasari
Eksekutif Produser: Rita Widyasari
Produksi: PT Timur Bumi Sinema (East Cinema Pictures)
Pemain: Nadine Chandrawinata, Denny Smargo, Donnie Sibarani, Herichan, Jajang C. Noer, Ray Sahetapy

Keseharian Kirana (Nadine Chandrawinata) sangat dinamis sebagai jurnalis majalah travel, pekerjaan pertama sejak lulus kuliah, dua tahun lalu.

Usianya 26 tahun, sedang tidak punya pacar, tapi lagi akrab dengan Doni (Donnie Sibarani), vokalis grup band yang sedang naik daun. Doni menganggap keakraban mereka itu spesial, tapi tidak bagi Kirana yang menganggap Doni seperti sahabat-sahabat prianya yang lain.

Padatnya jadwal tur Doni juga jadi hambatan keduanya untuk sering bersama. Sekalinya ada waktu bertemu, yakni ketika Doni sedang jeda manggung, mereka lebih sering adu mulut akibat berselisih paham banyak hal.

Di tengah buruknya hubungan keduanya, Kirana ditugaskan meliput festival Erau di Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Doni yang mengantar Kirana ke bandara sempat meminta Kirana tak usah jauh-jauh ke Tenggarong, toh bisa copy-paste dari portal berita online. Saran ini dia tolak mentah-mentah karena mustahil mendapat tulisan yang kaya jika modalnya cuma nyomot.

Layar kemudian beralih ke kesibukan bandara Sepinggan, Balikpapan. Kirana baru tiba. Taksi bandara membawanya ke Tenggarong yang sedang heboh menjelang pesta rakyat Erau. Tamu-tamu dari luar kota dan luar negeri memenuhi hotel-hotel di kota itu hingga Kirana tak kebagian kamar. Akhirnya Kirana menerima tawaran Pak Camat (Ray Sahetapy) untuk menginap di kediamannya selama Kirana berada di Tenggarong.

Bukan hanya menyediakan tempat tinggal, Pak Camat juga menitipkan Kirana ke Reza (Denny Sumargo), pemuda setempat yang memasok souvenir khas Dayak untuk dipamerkan di acara-acara lokal hingga internasional. Pak Camat minta Reza mengantar Kirana ke tempat-tempat yang perlu dia liput.

Reza sebenarnya seorang dokter. Namun karena cita-citanya memajukan sambil tak meninggalkan kampung halaman, Reza memilih jadi pengusaha cindera mata khas Dayak, tak menuruti kemauan ibunya untuk jadi dokter di rumah sakit besar di kota.

Seiring waktu, kecerdasan dan keteguhan hari Reza membuat Kirana tertarik. Sebaliknya dengan Reza yang mengagumi keuletan Kirana.

Bu Tati (Jajang C. Noer), ibu Reza, yang mencium kedekatan anak tunggalnya dengan perempuan dari Jakarta, menugaskan Ridho (Herichan) memata-matai sekaligus mencari tahu siapa sebenarnya Kirana. Bu Tati sudah menyiapkan calon istri untuk Reza, yakni Alia, perempuan dari keluarga terpandang di kampung.

Film Erau Kota Raja memperkenalkan Tenggarong sebagai kota berbudaya tinggi, dialiri Sungai Mahakam, penghasil batu bara, dan punya festival tertua di Nusantara, yakni Erau yang ada sejak abad ke-13.

Festival yang berlangsung sepekan dan jadi agenda tahunan Kota Tenggarong itu bukan hanya menampilkan kesenian Dayak, melainkan juga mementaskan kesenian daerah dan dari negara lain. Untuk tahun ini, festival Erau diadakan pada 6 Juni dan akan dihadiri 15 negara asing.

Awalnya, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berniat membuat film dokumenter, tapi setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya dibuatlah film komersil.

Untuk mengentalkan rasa Kutainya, dalam dialog diselipkan legenda setempat yang sampai sekarang masih kuat dipercaya serta arti gerakan-gerakan dalam tari. Meriahnya Erau ditampilkan secara gegap gempita.

Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari yang juga produser Erau Kota Raja mengharapkan film ini dapat menarik wisatawan datang ke Kukar sekaligus menarik investor. “Kami masih sangat kekurangan investor, khususnya di kuliner, mal, dan hotel. Tenggarong sangat pas untuk berinvestasi,” ujar usai pemutaran film khusus untuk wartawan, 3 Januari 2015.

Aktris dan aktor menghabiskan tiga pekan di Kukar untuk proses syuting yang waktunya dipaskan dengan gelaran festival. Nadine Chandrawinata sehari-harinya juga penulis majalah travel, sehingga tak mengalami kesulitan masuk dalam karakter Kirana. Saat syuting di festival Erau, dia juga diberi akses layaknya jurnalis yang boleh memotret dari tengah lapangan.

Sekadar catatan, film ini akan lebih kental rasa Kutainya jika melibatkan aktris-aktor lokal, bukan memboyong pemain dari Jakarta dan menambahkan aksen Melayu. Selain itu penggalian karakter, khususnya Reza dan ibunya, terasa kurang. Penonton bisa kebingungan, apa sebenarnya pekerjaan Reza dan mengapa dia sering benar berada di kapal yang sedang sandar.

Lapisan dalam narasi Erau Kota Raja adalah tentang hubungan antarmanusia, yakni hubungan ibu dan anak, orang setempat dengan orang kota, dua orang sahabat, dan sepasang kekasih. Ke Kota Raja ini pula Kirana mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini:

“Gue masih belum nemu makna yang tepat tentang kata ‘jodoh’. Kapan sebenarnya dua orang itu disebut berjodoh? Apakah ketika mereka mulai jatuh cinta lalu pacaran? Lalu kalau putus, berarti mereka bukan jodoh?”

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 163, 12-18 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s