Ihwal Bajaj di Depan Stasiun

jeroen

Pelukis Belanda ini menyodorkan Jakarta dari sudut pandangnya. Jakarta yang hangat, lembap, dan “manis”.

Oleh Silvia Galikano

Melihat Bajaj, bagi warga Jakarta yang tiap hari melihat jenis kendaraan ini, jadi tak beda dengan melihat tiang listrik atau lampu lalu lintas. Warna merah dan cara beloknya yang seringkali bikin kaget orang di belakangnya itu sudah jadi bagian jalanan dan keseharian, tak ada yang istimewa.

Namun bagi Jeroen Hermkens yang warga Belanda, kerumunan Bajaj di luar Stasiun Gondangdia Jakarta Pusat adalah pemandangan menarik. Apalagi saat itu hujan lebat, air got meluap, dan orang berlalu lalang dengan payung terkembang.

Maka dia buat sketsa untuk kemudian dibuat litografi (mencetak di atas bidang halus) Bajaj serta lukisan Bajaj I dan Bajaj II. Dari tiga karya dari tahun 2014 itu, dapat kita tangkap nuansa lain dari kendaraan beroda tiga ini di belantara kota yang biasa diidentikkan dengan panas, macet, dan berpolusi.

Mengambil tajuk Love for the City, lukisan dan litografi Jeroen Hermkens dipamerkan di Erasmus Huis, Jakarta pada 17-20 Januari 2015. Sebagian besar tentang Jakarta, Bandung, Bogor dan beberapa tentang kota-kota di Belanda. Seniman yang dikenal dengan lukisan kota dan lukisan ekspresionisnya itu menginterpretasikan sebuah tempat dengan cara unik, seperti halnya serial Bajaj.

Beberapa tahun terakhir Hermkens membuat rangkaian litografi dan lukisan tentang kota-kota di dunia, dari Tokyo ke New York, dari Yaman ke Norwegia. Dia juga pernah diminta perusahaan kapal keruk Belanda, Van Oord, untuk melukis beragam aktivitas mereka di seluruh dunia. Koleksi ini kemudian dipamerkan di Kunsthal, Rotterdam, pada 2010.

Hermkens membuat banyak sketsa dari perjalanannya ke banyak kota di dunia. Dia menyusuri jalan, tempat, dan bangunan yang jadi ciri khas masing-masing kota, dan menangkap aspek-aspek yang tak terlihat, seperti aroma kota. Aroma Barcelona beda dari Roma, lain dengan New York, juga tak sama dengan “napas” Istanbul.

“Kalau Jakarta hangat, lembap, dan ‘manis’,” ujar Hermkens saat pembukaan pameran, 17 Januari 2015. Dari sana dia membuat sketsa yang belum pernah dibuat sebelumnya.

Sketsa-sketsa itu kemudian dia bawa ke studionya di Utrecht, lalu tanpa mengubah komposisi, ditambahkan warna. Sketsa-sketsanya berciri khas distorsi, yakni gedung-gedungnya miring, kabel listriknya dominan, atau tangganya tak berujung, seperti karyanya berjudul Rotterdam (2009) yang gedung-gedungnya miring dan satu gedung utama makin ke atas makin besar.

Dengan menggambar, Hermkens punya pilihan memperbesar beberapa benda atau menghilangkan yang lain. Pilihan demikian tak didapatnya jika menggarap dari foto karena foto menangkap semua yang ada dalam bingkai lensa. “Ada mobil, tiang lampu, iklan, atau bahkan sampah kaleng. Padahal yang saya cari satu yang utama.”

Ini adalah kedatangannya yang kedua ke Indonesia. Kunjungan pertamanya pada 2014. Saat itu, selama sepekan Hermkens keliling Jakarta menumpang taksi, bajaj, dan kadang membonceng skuter supaya lebih cepat sampai. Kota ini meninggalkan kesan mendalam, karena panas, lalu lintas yang kacau, dan hujan lebat yang membuatnya harus berteduh.

Namun dari berteduh itulah lahir serial Bajaj. Dia menunggu hujan reda di Stasiun Gondangdia. Dan karena letak stasiun berseberangan dengan Masjid Cut Meutia, Hermkens pun membuat sketsa lukisan Masjid Cut Meutia (2014).

Dari menelusuri Jakarta, Hermkens banyak menghasilkan lukisan pelabuhan, di antaranya serial Sunda Kelapa, serial Van Oord, Kalimantan II, dan Kapuk Naga (2014), semua dengan pendekatan yang tidak umum.

Sunda Kelapa, menurutnya, adalah salah satu pelabuhan paling cantik yang pernah dia lihat. Di sini Hermkens melihat kapal-kapal barang berukuran besar berbahan kayu dengan bentuk lengkung natural serta bercat warna-warna terang, seperti kuning, biru, dan ungu. Dia pun terpukau dengan kemampuan kuli panggul yang sigap turun dan naik kapal hanya lewat sebuah balok panjang padahal memanggul berkantung-kantung semen.

Selain gambaran kota, untuk pameran ini, Hermkens menambahkan lukisan potret perempuan yang punya akar Indonesia, yakni Elvira, Hilde, dan Ing Yoe. Hilde adalah asistennya, dilukis di Belanda tapi diberi latar belakang Sunda Kelapa; Elvira berdarah separuh Indonesia, separuh Belanda; dan Ing Yoe keturunan Tionghoa-Surabaya, kini jadi politikus di Belanda.

Kesan Hermkens tentang Jakarta diperkaya dengan tatapan ramah penduduknya saat dia tersasar masuk gang sempit di Pluit (bahkan tersasar sampai masuk ruang tamu), bus sekolah yang menepi untuk memberinya tumpangan, orang yang tiba-tiba saja menemaninya berjalan, atau kanak-kanak yang ingin berfoto bersama.

Baru kali ini Hermkens memilih peristiwa kehidupan kota, sebab biasanya dia membiarkan cityscape-nya kosong. “Untuk pertama kali, saya tak bisa menghindari orang.”

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 165, 26 Januari-1 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s