Tetap Kriwil Tetap Menggemaskan

annie

Tujuh tahun Annie harus berpindah-pindah panti asuhan. Sebuah nasib baik mempertemukan bocah itu dengan seorang kaya, calon walikota. Apakah berarti selesai penantiannya?

Oleh Silvia Galikano

Judul: Annie
Genre: Comedy | Drama | Family
Sutradara: Will Gluck
Skenario: Will Gluck, Aline Brosh McKenna
Produksi: Sony Pictures
Pemain: Quvenzhané Wallis, Cameron Diaz, Jamie Foxx, Rose Byrne
Durasi: 1jam 58 menit

Setiap Jumat sepulang sekolah, Annie (Quvenzhané Wallis) duduk di depan sebuah restoran di sudut jalan Kota New York hingga restoran tutup usai jam makan malam. Bocah 10 tahun itu menunggu di sana kalau-kalau orangtua kandungnya muncul. Namun setelah ratusan Jumat dilalui, dia selalu pulang ke panti asuhan dengan tangan hampa.

Tujuh tahun lalu dia ditinggalkan di sana bersama secarik kertas yang berisikan pesan untuk merawat bocah perempuan tiga tahun bernama Annie. Sejak itu dia tinggal berpindah-indah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain, dan kini tinggal bersama empat anak lain di panti asuhan kecil yang diasuh perempuan lajang yang pemabuk dan pemarah, Miss Hannigan (Cameron Diaz).

Di tengah mabuknya, berkali-kali Miss Hannigan ceritakan pada anak-anak bahwa 1990-an adalah masa cemerlangnya. Sebagai penyanyi amatir dia hampir diterima bergabung dengan C+C Music Factory dan pernah nyaris jadi vokalis sebuah grup terkenal lain. Setelah semua usahanya gagal untuk jadi penyanyi, dia membuka panti asuhan dan beroleh pemasukan dari subsidi pemerintah untuk setiap anak yang dia tampung.

Sementara itu, di tempat lain di Kota New York, seorang bos perusahaan telekomunikasi, Will Stacks (Jamie Foxx), maju dalam pemilihan walikota New York. Stacks seorang bujangan yang tinggal sendirian di penthouse mewah. Menurut hitung-hitungan di atas kertas, dia bakal susah menjaring suara karena tak dekat dengan rakyat.

Mengikuti saran penasihat kampanyenya, Guy (Bobby Cannavale), Stacks mulai terlihat di jalanan, menyapa masyarakat, dan datang ke penampungan tunawisma untuk ikut menuangkan makanan ke baki-baki. Memang angka calon pemilihnya bertambah, tapi belum bisa mengalahkan walikota petahana.

Dalam salah satu perjalanan kampanye, mobil Stacks mogok. Alih-alih menunggu mekanik datang, dia memilih jalan kaki dan membiarkan sopirnya bersama Guy yang menunggui mobil. Di sebuah simpang jalan dia bertubrukan dengan Annie yang sedang mengejar dua orang yang berusaha melempar anjing dengan batu. Annie jatuh seketika ke jalan, padahal mobil van tinggal beberapa meter lagi dari tubuhnya.

Bagai gerak reflek para superhero dalam film, Stacks mengangkat tubuh Annie dan menyelamatkannya dari gilasan roda mobil van. Tanpa Stacks sadari sejak tadi ada wartawan yang mengikuti, memotret, dan memfilmkan. Maka dalam hitungan menit, foto aksi kepahlawanan Stacks beredar di internet, di Twitter dan Facebook, di Youtube, serta jadi headline koran dan tabloid dengan taburan pujian.

Angka calon pemilih Stacks pun meroket. Agar tak melewatkan momentum, Guy menyarankan Stacks sering-sering berfoto bersama Annie. Apalagi Annie anak panti asuhan di kawasan kumuh Harlem.

Sejak itu keseharian Annie berubah. Dia tak lagi terperangkap panti asuhan kecil, mendengar caci maki Miss Hannigan setiap hari, dan mengenakan baju lusuh. Penthouse Stacks yang dipenuhi peralatan canggih jadi rumah barunya. Dia boleh memelihara anjing, boleh makan sepuasnya, dan berganti baju bagus sesering mungkin.

Perlahan, hati Stacks mencair. Dia kini menerima Annie berada di rumahnya bukan lagi karena media, melainkan karena naluri kebapakannya, selain Annie mengingatkan pada masa kecilnya yang susah di Queens. Namun itu tak lama. Orangtua kandung Annie sudah ditemukan, dan mereka akan membawa Annie pergi dari penthouse Stacks.

Annie versi 1982 adalah favorit anak-anak, ditonton sampai puluhan kali, dan seluruh lagu dihafal tiap katanya. Nyaris jadi film sakral. Selain itu ada juga musikal Broadway 1977. Keduanya diangkat dari comic strip karya Harold Gray, Little Orphan Annie.

Maka ketika sebuah film klasik dibuat ulang (remake), ekspektasi penonton sangatlah tinggi. Sutradara Will Gluck tentu tahu hal ini. Kita bertemu lagi lagu-lagu klasik, seperti It’s a Hard Knock Life, You’re Never Fully Dressed without a Smile, dan Tomorrow, yang hingga 32 tahun kemudian tetap dihafal dan dicintai. Ada rasa modern di dalamnya walau bukan berarti ujug-ujug Tomorrow jadi hiphop hanya karena ber-setting Harlem. Gluck hanya membuat film ini lebih ringan, dialog lebih pendek, panti asuhan yang lebih kecil dengan jumlah bocah cuma lima orang.

Pemain utamanya Quvenzhane Wallis, pemilik rambut mekar yang pernah memukau dalam Beasts of the Southern Wild (2012). Versi Huston, Annie diperankan si rambut merah kriwil Aileen Quinn.

Saat preview untuk wartawan dan undangan, Rabu 21 Januari 2015 lalu, terdengar tawa penonton sambung menyambung sepanjang film, tepuk tangan meriah saat film usai, bahkan kursi tetap penuh hingga credit title habis. Artinya, jika preview dijadikan patokan, film ini sangat disukai.

Namun mengapa media di Amerika memberi ulasan buruk untuk film ini? Lihat saja IMDb dan Rottentomatoes, dua situs yang mengumpulkan ratusan kritik film dan televisi. IMDb memberi 2,5 dari 5 bintang dan Rottentomatoes malah hanya 1,5 dari 5 bintang. Alhasil, Annie yang dirilis 19 Desember 2014, menggunakan momen liburan Natal, baru sebulan kemudian masuk Indonesia.

Semoga bukan sentimen ras yang jadi sebab. Annie terdahulu dimainkan Aileen yang berkulit putih dan kini Quvenzhané Wallis si hitam menggemaskan. Atau karakter Will Stacks menggantikan Oliver Warbucks yang keduanya juga beda warna kulit. Atau dengan demikian Annie 2014 dianggap merusak template Annie?

Produser Will Smith dan istrinya, Jada Pinkett Smith, awalnya hendak menempatkan putri mereka, Willow, 14 tahun, sebagai Annie. Reaksi negatif pun berdatangan, lagipula Willow terlalu tua untuk peran ini. Pasangan ini akhirnya berubah pikiran dan memutuskan tak menggunakan keluarga sendiri sebagai pemain.

Pada 2013 keduanya juga memproduksi film sci-fi After Earth yang dibintangi Will Smith dan putra mereka, Jaden. Film tersebut tidak jeblok di pasaran, tapi mendapat ulasan buruk, umumnya mengkritik nepotismenya, padahal tak sedikit pembuat film yang menggunakan keluarga sendiri tanpa menimbulkan kontroversi. Sebelumnya, remake Karate Kid (2010) juga diperankan Jaden.

Pada akhirnya, penonton lah juri terakhir dan penentu. Akankah Tomorrow era Facebook dicintai anak-anak sekarang sebesar generasi saya mencintai Tomorrow era surat yang diantar pak pos? Atau, akankah Tomorrow dinyanyikan kanak-kanak selancar mereka menyanyikan Let It Go?

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 165, 26 Januari-1 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s