Chapter 2 dari Koike

mahabharata

Hampir selalu ada kebaruan tiap kali Mahabharata dipentaskan. Kali ini ada hip-hop dan kecak di dalamnya.

Oleh Silvia Galikano

Keluarga Pandu dan istri mereka, Drupadi, dibuang ke hutan selama 12 tahun usai kalah judi dadu melawan Kurawa. Mereka bersembunyi di kerajaan Wirata dengan cara menyamar.

Yudistira menyamar sebagai brahmana bernama Kangka, Bima jadi Balawa si jurumasak dan pegulat, Arjuna jadi waria bernama Wrahanala yang mengajar tari dan nyanyi, Nakula jadi penggembala kuda bernama Grantika, Sadewa jadi penggembala sapi bernama Tantipala, dan Drupadi jadi Sarindri perias ratu.

Samaran mereka nyaris terbongkar saat membantu kerajaan Wirata yang diserang Kurawa. Didorong kecurigaan pada pasukan tak dikenal yang mengalahkan mereka, Kurawa akhirnya dapat membuka kedok Pandawa. Namun karena masa pembuangan Pandawa sudah genap 12 tahun, maka keluarga Pandu ini tak menyalahi perjanjian.

Di Jakarta saja, tak terhitung sudah berapa kali Mahabharata dipentaskan, dan setiap kali itu pula satu tafsir baru tergali. Dan kini, di tangan sutradara teater kontemporer asal Jepang, Hiroshi Koike, epos itu jadi tontonan yang beda lagi walau ceritanya sudah kita kenal.

Misalnya Drupadi meluapkan emosi dengan menyanyi a la Bjork, Arjuna yang gantengnya legendaris itu demikian menggelikan saat menyamar jadi Wrahanala yang berlenggak-lenggok dengan tangan lemah gemulai dan suara manja. Di tengah-tengah dialog yang berbahasa Inggris, terselip satu-dua ungkapan bahasa Indonesia, seperti “boleh juga,” yang jadi terdengar unik karena diucapkan lidah asing.

Unsur Indonesia ditemukan juga dalam tari Kecak yang dimainkan Koyano Tetsuro dan penggunaan topeng Bali. Selain itu, Koike memasukkan bahasa India dan Thai serta unsur hip-hop.

Mahabharata kali ini, yang bertajuk Mahabharata: Chapter 2, dimainkan delapan seniman empat negara yang tergabung dalam Hidoshi Koike Bridge Project. Mereka adalah Denny Paul, Sumesh, Moon Moon Singh, dan Sreejith Ramanan (India); Koyano Tetsuro dan Sachiko Shirai (Jepang); Lee Swee Keong (Malaysia); serta Waewdao Sirisook (Thailand). Hidoshi Koike sebagai sutradara dan penulis naskah. Mahabharata: Chapter 2 dipentaskan di Teater Salihara, Jakarta, pada 23-24 Januari 2015.

Selain sutradara teater kontemporer, Hiroshi Koike juga seorang koreografer mumpuni, penulis, seniman instalasi, dan fotografer. Lulusan Hitotsubashi University, Tokyo itu sudah membuat 55 produksi, mengadakan tur di lebih dari 35 negara, dan bekerja sama dengan beragam seniman internasional. Melalui Hiroshi Koike Bridge Project dia ingin menjembatani banyak hal, seperti pementasan, pendidikan, dan publikasi melalui karya.

Hiroshi Koike Bridge Project bekerja sama dengan Amrita Performing Arts, organisasi seni terkenal di Kamboja, mementaskan Mahabharata: Chapter 1 pada 2013, yang berkisah tentang awal konflik keluarga Kuru dan keluarga Pandu. Produksi ini digarap sepanjang Mei hingga Juli 2013 di Pnom Penh. Usai premier di Pnom Penh, Kamboja, mereka melanjutkan pentas ke Hanoi, Vietnam.

Chapter 2 yang dibuat di Thrissur, India Selatan, pada tahun 2014, adalah hasil kerjasama Hiroshi Koike Bridge Project dengan Theaterconnekt Performing Arts Society, organisasi seni ternama di India. Pertunjukan di Jakarta ini adalah lanjutan dari tur mereka setelah premier di Thrissur, berlanjut tur ke Mumbai dan Kuala Lumpur.

Yang sangat khas dari pementasan Mahabharata Chapter 2 adalah menghadirkan ruang ganti di panggung, walau tak disorot lampu. Ada delapan deret gantungan baju, masing-masing untuk satu pemain. Di sisi gantungan baju terdapat rak untuk meletakkan topeng-topeng dan bangku.

Selesai berganti kostum dan memasang topeng, pemain akan duduk di bangku, membelakangi penonton, sambil menunggu gilirannya tampil. “Saya ingin tunjukkan beginilah kami berganti kostum. Proses ini jadi bagian pertunjukan,” ujar Hiroshi Koike usai gladi resik, Kamis 22 Januari 2015.

Mahabharata adalah filosofi penting di Asia Tenggara dan Asia Selatan, berawal dari epos sakral India kuno yang ditulis dalam bahasa Sansekerta, terdiri dari total 18 buku dan 100 ribu puisi. Demikian komprehensifnya dijadikan rujukan beragam topik, seperti agama, pemikiran, budaya, filosofi, politik, dan hukum di India serta jadi inspirasi tradisi lisan, sastra modern, serta seni pertunjukan di Asia dan dunia.

Merujuk pada semangat mencari kebaruan, Hiroshi Koike menghadirkannya ke dalam bentuk teater fisik. Para pemain-penari memerankan beberapa karakter dengan mengenakan topeng Bali yang berbeda-beda. Selain lewat gerak tubuh para pemain-penari, ceritanya dibantu dengan ringkasan cerita yang disorotkan ke layar.

Pertunjukan ini bertujuan memberi perspektif baru atas pelajaran dari masa lalu yang disampaikan lewat cara kontemporer. Harapan besarnya untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Namun lebih penting lagi, Mahabharata: Chapter 2 mengajak kita melihat ke dalam diri sendiri dan bertanya, apa arti manusia?

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 166, 2-8 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s