Sang Pemburu Rubah

fox

Seorang multimilioner seharusnya suka berkuda, bukan gulat yang olahraga “rendahan”. Ibunya selalu mencibir, terlebih ketika dia membuka fasilitas gulat di tanah milik keluarga.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Foxcatcher
Sutradara: Bennett Miller
Skenario: E. Max Frye, Dan Futterman
Produksi: Sony Pictures Classics
Pemain: Steve Carell, Channing Tatum, Mark Ruffalo
Durasi: 2 jam 10 menit

“Monyet tak tahu terima kasih! Aku mau Dave ke sini, berapa pun bayarannya!” John du Pont (Steve Carell) putar badan, berjalan ke pintu, lalu membanting pintu dari luar.

Mark Schultz (Channing Tatum) yang barusan diajak bicara, yang disebut “monyet”, sejak itu menarik garis tegas dalam berurusan dengan John. Dia baru sadari maksud John dulu mengajaknya ke Foxcatcher sebagai mata pancing, agar abangnya, Dave, mau bergabung.

Foxcatcher adalah pusat latihan elite gulat yang disponsori multimilioner eksentrik John du Pont, bertempat di lahan (estate) Foxcatcher di Pennsylvania milik keluarga du Pont. John merekrut atlet-atlet gulat kelas atas di Amerika, menyediakan sarana latihan yang lengkap, rumah bagi atlet tak jauh dari gedung latihan, dan bayaran yang mahal.

Sebelumnya, Mark hidup pas-pasan sebagai atlet gulat, walau dia juara dunia Olimpiade Los Angeles 1984 dan sudah mengumpulkan banyak medali. Tinggal pun sendiri di ruang sewaan sederhana, lantai atas sebuah gudang. Setiap hari dia berlatih: pagi latihan beban, malam latihan teknik. Siang hari bekerja di restoran cepat saji.

Maka Mark tak perlu berpikir dua kali ketika sebuah panggilan telepon masuk dari orang kaya Amerika yang mengajak bergabung dalam tim gulat bentukannya. Dia pun pindah ke Foxcatcher, tinggal di guest house cantik berfasilitas lengkap.

Di sini dia lihat du Pont seorang yang gila kuasa, tak dapat mengontrol marah, peminum, dan suka menghirup kokain. Dari John pula Mark kenal kokain. Pada hari-hari tertentu John berlatih menembak bersama polisi dan tentara yang sering datang ke estate ini.

John nyaris tak punya ikatan emosional dengan ibunya (Vanessa Redgrave). Sang ibu menganggap gulat olahraga “rendahan”, beda dengan berkuda yang olahraganya para aristokrat. Ibunya memelihara banyak kuda pilihan, sementara John tak suka berkuda.

Seumur hidup, demikian cerita John pada Mark, dia hanya punya satu teman, yakni putra dari sopir ibunya. Namun pada usia 16 tahun baru dia tahu, ternyata selama ini ibunya membayar anak itu.

Dalam banyak kesempatan, John minta Mark mengajak Dave bergabung juga sebagai atlet dan pelatih. Kakak beradik Schultz ini sama-sama mendapat medali emas di Olimpiade Los Angeles 1984, tapi Dave punya prestasi lebih baik dibanding adiknya.

Walau Mark sampai mendatangi rumah Dave, abangnya itu tetap menolak dengan alasan tak bisa meninggalkan istri dan dua anak mereka selain dia juga terikat kontrak. Mark kembali ke Foxcatcher dengan tangan kosong.

“Berapa yang dia minta?”
“Kau tak bisa ‘membelinya’, John.”

Hingga suatu siang, helikopter mendarat di Foxcatcher. David Schultz (Mark Ruffalo) dan keluarga turun, disambut John dan para atlet Tim Foxcatcher. Dave akhirnya bergabung saat Mark ingin meninggalkan Foxcatcher, tapi dia tak dapat menjelaskan pada Dave apa yang sebenarnya terjadi.

Foxcatcher diangkat dari peristiwa nyata yang sempat jadi headline di Amerika selama berhari-hari setelah John Eleuthère du Pont, multimilioner dari kerajaan bisnis du Pont, menembak mati seorang pegulat pada 26 Januari 1996 di Foxcatcher Farms.

Du Pont adalah filantropis yang tertarik pada gulat, jadi sponsor USA Wrestling, dan ingin membuat kerajaan gulatnya sendiri. Dia mengundang para pegulat untuk tinggal dan berlatih di Foxcatcher, lahan bekas berburu rubah yang jadi fasilitas pelatihan gulat. Du Pont juga menyediakan dukungan finansial bagi para pegulat.

Saya berusaha tak membuat spoiler lewat tulisan ini, tapi andai Anda pun tahu peristiwa 1996 itu, unsur kejutan Foxcatcher-lah yang akan membuat Anda bertahan menonton hingga habis.

Secara keseluruhan, film ini patut dipuji. Seni penyutradaraannya dikalibrasi secara indah, sound design dan sinematografinya cantik, serta struktur narasinya cerdik agar penonton secara emosional tak berpihak pada karakter yang terlibat dalam pembunuhan.

Tentu saja para aktor juga memegang kunci penting. Tiga aktor utamanya bermain sangat bagus dan sesuai dengan sosok aslinya.

Steve Carell benar-benar ‘megang dalam peran dramatik pertamanya ini. Sebelumnya, dia dikenal lewat film-film komedi, di antaranya Bruce Almighty (2003), The 40-Year-Old Virgin (2005), Despicable Me (2010), dan Despicable Me 2 (2013) . Penampilan Carell nyaris tanpa cela di balik make-up prostetik yang membuat wajahnya nyaris tak dikenali.

Channing Tatum tampil intens di sini, memaksimalkan kemampuannya berakting. Walau di adegan-adegan awal dia seperti putus asa dan tak tahu apa yang mesti diperbuat, namun menjelang akhir tampaklah gambaran keseluruhan mengapa Tatum seperti itu.

Dan di antara dua karakter nyentrik John dan Mark, ada sosok “normal” dan ramah Dave yang dibawakan si pemilik pesona megawatt Mark Ruffalo yang sejauh ini aktingnya tak pernah mengecewakan. Maka tak mengherankan jika Foxcatcher mendapat lima nominasi Oscar 2015, yakni untuk naskah asli, aktor terbaik, aktor pendukung terbaik, penyutradaraan, serta tata rias & tata rambut.

Pada akhirnya, ketika kita lucuti status selebriti mereka yang terlibat, Foxcathcer hanya cerita tentang orang sinting yang pintar pegang pistol lalu membunuh orang tak bersalah. Dan di balik skenario, ada pertanyaan yang tak habis-habis, mengapa John du Pont melakukannya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 166, 2-8 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s