Sekayu Sekali Lagi

Rumah masa kecil Nh Dini di Sekayu. Pohon belimbing depan rumah sudah ada saat orangtua Dini menempati rumah ini. Di pohon itu juga Teguh terjepit hingga mendapat julukan Banteng Kecepit.
Rumah masa kecil Nh Dini di Sekayu. Pohon belimbing depan rumah sudah ada saat orangtua Dini menempati rumah ini. Di pohon itu juga Teguh terjepit hingga mendapat julukan Banteng Kecepit. Foto: Silvia Galikano

Alhamdulillaaah… ternyata rumah keluarga Nh Dini di Sekayu, Semarang, masih ada, tidak termasuk yang digusur untuk pembangunan Paragon Mall.

Jalan kecilnya masih sama, hanya jalan besarnya yang jadi beda. Jalan kecil itu sekarang berada persis di belakang Paragon Mall, sekaligus jadi tempat parkir motor tak resmi pengunjung mall.

Jalan Sekayu.
Jalan Sekayu. Foto: Silvia Galikano.

Dari jalan kecil di belakang mall itu lurus saja, nanti jalan akan terbagi ke kanan (Jalan Sekayu Raya) dan ke kiri (Jalan Sekayu Baru). Rumah keluarga Nh Dini di Jalan Sekayu Baru.

Tujuh tahun lalu saya pernah ke rumah itu, tapi tidak masuk karena tahu Dini tak tinggal di sana dan toh malam harinya saya akan datang ke diskusi yang Dini jadi pembicaranya.

Baca juga Nh Dini (yang Akhirnya) Gue Kenal

Sebelum besok bertolak ke Blora, sore tadi setelah meletakkan travel bag di hotel, saya sempatkan menengok lagi rumah masa kecil Dini itu. Ada seorang perempuan sedang di balik pagar memesan makanan yang dijajakan dalam gerobak (lupa nama makanannya, khas Semarang deh pokoknya).

“Bu, yang tinggal di rumah ini masih keluarga Bu Nh Dini?” saya membuka sapa. “Iya masih.”

Oeti (kiri) dan Heratih. Foto dokpri.
Oeti (kiri) dan Heratih. Foto dokpri.

Yang saya sapa itu bernama Oeti Siti Adiyati, putri dari Heratih, kakak sulung Dini. Dini adalah bungsu lima bersaudara. Tiga lagi adalah Nugroho, Siti Maryam, dan Teguh Asmar.

Oeti yang sore itu berdaster dan rambutnya diikat ke belakang, mempersilakan saya masuk. “Maaf ya, saya cuma pakaian begini.” Kami duduk di teras yang luas, yang diisi banyak kursi.

Hanya Oeti berdua ibunya yang sekarang mendiami rumah itu. Eyangnya (orangtua Heratih)-lah yang awalnya membeli rumah itu pada zaman Belanda, sebuah joglo tua tak jauh dari sungai, ada di Seri Cerita Kenangan Sebuah Lorong di Kotaku (1978) yang ditulis Nh Dini.

Oeti sebelumnya bekerja di PT Telkom Bandung, lalu mengambil pensiun dini pada 2010 dan pulang ke Semarang menemani ibunya yang sudah sepuh. Di tahun yang sama, Oeti atas nama Heratih, “membeli” rumah ini ke empat saudara Heratih seharga Rp50 juta.

20150206_173425 kecil
Teras rumah. Dinding yang menghadap depan (ada pintu) masih dari kayu. Dinding kanan dan kiri adalah tambahan baru, dari bata. Foto: Silvia Galikano.

Kini, Nugroho dan Teguh sudah wafat, tinggal tiga perempuan yang masih hidup. Rumah ini jadi tempat berkumpul saudara-saudara Heratih tiap Lebaran, sedangkan tiap Natal mereka berkumpul di rumah Maryam. Dini tak lagi tinggal di Ungaran, melainkan di panti lansia di Banyumanik, Semarang dengan biaya Rp5 juta per bulan dengan jaminan perawatan kesehatan.

 

***

Silvia Galikano, 6 Februari 2015, Hotel Citra Dream, Semarang

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s