Aryati dan Drama Musikal Ringan

aryati

Interpretasi yang terbuka membuat pementasan ini segar. Lagu-lagu Ismail Marzuki pun menemukan kebaruannya.

Oleh Silvia Galikano

Gelora api merdeka sedang menyala di dada tiap pemuda. Sentimen keindonesiaan bergaung di mana-mana. Di masa itulah Aryati (Cantika Abigail) bertanya-tanya tentang kekasihnya, Kopral Jono. Sudah lama Jono meninggalkan Yogyakarta dan Aryati, pergi berperang melawan Jepang, dan kini tak ada kabar beritanya.

Di tengah rusuh hati, Aryati mendapat surat dari Jono yang mengabarkan tengah berada di pinggir Jakarta hingga waktu yang tak ditentukan. Timbul keinginannya untuk menyusul Jono.

Namun Aryati, yang tak pernah pergi keluar dari kota kelahirannya, itu disergap panik, bagaimana cara bisa sampai di Jakarta. Dia pun bertanya pada penonton, “Dari Yogya ke Jakarta naik apa ya?”

“Becaaak.” “Sepedaaaa.” “Keretaaa.” “Delmaaan.” Semua jawaban itu yang diberikan penonton secara serempak.

Inilah khasnya drama musikal interaktif yang disuguhkan Threebute, yakni melibatkan penonton. Sashi Gandarum sebagai pengarah kreatif. Selain tanya jawab dengan pemain, penonton juga kebagian tugas membacakan surat-surat lain dari Jono dan Aryati.

Caranya, surat diestafetkan saat sebuah lagu dimainkan. Begitu lagu usai, surat pun berhenti berpindah tangan, dan orang terakhir yang memegang surat bertugas membacakan isinya. Seru juga.

4 Wanita: Surat-surat Aryati dipentaskan di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Sabtu 31 Januari 2015 dalam durasi satu setengah jam. Penonton penuh, bahkan ada sekira 10 orang masuk dalam daftar tunggu. Lagu-lagu ciptaan Ismail Marzuki dijadikan “rambu” cerita dan semacam pengantar tiap adegan, di antaranya Rayuan Pulau Kelapa, Aryati, Selendang Sutra, Sepasang Mata Bola, Sabda Alam, Juwita Malam, dan Kopral Jono.

Aryati tiba di stasiun di Jakarta tanpa tahu ke mana harus pergi. Dia beristirahat dulu, minum jamu. Si penjual jamu (Monita Tahalea) yang ternyata juga pernah kenal Jono, menyarankan Aryati pergi ke rawa-rawa yang letaknya di pinggir Jakarta.

Kehadiran orang asing mengusik Gadis Rawa (Yura Yunita), penguasa rawa yang centil dan selalu gembira. Gadis Rawa membenarkan Jono dulu pernah ke sini, tapi sekarang kabarnya dia berada di rumah Madam Dira di kawasan Kota, Jakarta.

Mbok penjual jamu dan Gadis Rawa pun mengantar Aryati ke rumah Madam Dira (Dira Sugandi) yang ramai pada malam hari dan berisi perempuan-perempuan muda berdandan menor. Walau Madam Dira membenarkan ada Joni di rumahnya, tapi penentunya ada di penonton.

Di antara katalog pertunjukan yang masing-masing dipegang penonton ada satu yang bertandakan cap bibir. Pemegang katalog bercap bibir itulah Joni yang dicari.

Surat-surat Aryati pernah dipentaskan juga pada April 2014 namun tidak sepenuhnya sama dengan yang sekarang disajikan. Jika Aryati sekarang pergi ke Jakarta, Aryati yang dulu pergi ke Surakarta. Dulu tak ada lagu Juwita Malam (dinyanyikan Dira Sugandi secara memukau), melainkan Payung Fantasi.

Pementasan yang dibintangi penyanyi-penyanyi muda ini ringan dan banyak celetukan lucu. Lagu-lagu Ismail Marzuki juga dibawakan para pemain dengan interpretasi masing-masing.

Naskah yang ditulis Aprishi Allita sebenarnya serius, tapi Sashi membebaskan pemain untuk berimprovisasi. Itu sebabnya Sashi menolak disebut sebagai sutradara, “Karena saya tidak men-direct apa pun.” Alhasil, Sashi sendiri pun dibuat tertawa-tawa kecil melihat improvisasi bebas pemain karena tak mengira bisa demikian lucunya.

Contoh saja, seperti ini Monita mendeskripsikan isi bakulnya, “Ada mijon, ada obat tinggi langsing, ada obat herbal. Jamunya juga ada yang kadarnya 20 persen, 40 persen, 80 persen.” Atau ketika pemain sudah begitu panjang berimprovisasi, ada seruan dari bangku penonton, “Balik ke script,” yang menimbulkan tawa penonton sekaligus pemain.

“Yang tadi ditampilkan itu beda lho dengan waktu latihan. Sejak reading mereka sudah bercanda,” ujar Sashi usai pementasan.

Genre drama musikal interaktif bisa dibilang tak butuh banyak penonton, karenanya ideal dengan Auditorium Galeri Indonesia Kaya yang berkapasitas 150 orang. Jika saja dipanggungkan di tempat yang lebih besar dengan penonton lebih banyak maka tek-tok antara pemain dan penonton akan sulit dan keintiman hilang.

Bisa bayangkan bagaimana kacaunya (atau malah garing) gedung pertunjukan besar menanggapi kalimat Aryati berikut:


Pengetahoeankoe tak besar
Mengenai doenia loear
Apa jang haroes koelakoekan?
Koe ingin bertemoe kembali dengan Jono
Maoekah kalian membantoekoe?

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 167, 9-15 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s