Buku untuk Ultah Pramoedya

soesilo (4)

Oleh Silvia Galikano

Ulang tahun ke-90 sastrawan Pramoedya Ananta Toer dirayakan dengan peluncuran buku Pram dalam Kelambu karya Soesilo Toer di Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA), Blora, Minggu (7/2/2015) malam. Pramoedya Ananta Toer (Pram) lahir di Blora, 6 Februari 1925, wafat di Jakarta pada 30 April 2006.

Peluncuran yang diisi diskusi tersebut dihadiri 50-an penggemar karya Pram, kawan main Pram, dan rekan-rekan Soesilo. Soesilo, 78 tahun, adalah adik kandung Pram dan sama-sama pernah jadi tahanan politik.

Pram dalam Kelambu berisi kritik Soesilo terhadap karya-karya kakaknya. “Pram kan selalu berpesan, ‘kritik saya, bantai saya.’ Jadi isi buku ini bukan puji-pujian saja,” ujar Soesilo.

Soesilo menggunakan daftar pustaka yang tak main-main sebagai pangkal tolak. Untuk menyebut beberapa adalah Considerations on the Causes of the Grandeur and Decadence of the Romans (1882) yang ditulis Montesquieu, The Indonesian Killings of 1965-1966: Studies from Java and Bali (1990) oleh Robert Cribb, dan Radicalism After Communism in Two Southeast Asian Countries (1990) oleh Ben Anderson selain buku-buku yang ditulis Pramoedya Ananta Toer.

Soesilo Toer
Soesilo Toer

Pram dalam Kelambu adalah seri ke-2 dari lima setelah Pram dari Dalam yang terbit pada 2013. Menyusul nanti Pram dalam Bubu, Pram dalam Belenggu, dan Pram dalam Tungku. “Tiga lainnya akan terbit tahun ini juga,” ujar Soesilo.

Karya Pram yang sejauh ini sudah dicetak ada 50-an judul buku, asli dan terjemahan. Menurut Soesilo, jumlah itu sedikit dibandingkan penulis lain, seperti Ajip Rosidi dan Motinggo Busye. “Pram menulis makin bagus ketika dia ditahan, karena di luar dia tak bisa konsentrasi menulis. Dan kalau Orde Baru lebih kejam lagi, mungkin Pram akan menulis lebih bagus lagi.”

Soesilo Toer menempuh pendidikan dasar di Blora, lalu tingkat menengah hingga diploma di Jakarta dan Bogor. Dia memperoleh gelar master di Universitas Patrice Lumumba, Uni Soviet (sekarang Rusia) dan doktor di Institut Plekhanov, Soviet di bidang politik dan ekonomi. Disertasinya berupa kritik terhadap marxisme sekaligus kapitalisme dengan mengajukan alternatif jalan ketiga: kearifan lokal.

Saat ini dia tinggal di Blora bersama istri, Suratiyem, dan anak semata wayang mereka, Benee Santoso.

***

Dimuat di Detik.com 8 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s