Jupiter Naik ke Mana?

jupiter

Kabar dari galaksi lain datang. Jupiter si pembersih toilet ternyata reinkarnasi Ratu Semesta. Jupiter panik, penonton bingung.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Jupiter Ascending
Genre: Action | Adventure | Fantasy
Sutradara: Andy Wachowski, Lana Wachowski
Skenario: Andy Wachowski, Lana Wachowski
Produksi: Warner Bros. Pictures
Pemain: Channing Tatum, Mila Kunis, Eddie Redmayne
Durasi: 2 jam 5 menit

Pekerjaan sehari-hari Jupiter Jones (Mila Kunis) membersihkan rumah-rumah, termasuk toilet, orang kaya di Chicago. Sehari bisa sampai empat rumah, dari pagi buta hingga petang. Dia mengerjakannya bersama ibu dan bibi. Ini bisnis keluarga yang dipegang sang paman.

Jupiter generasi kedua imigran Rusia di Amerika. Ibu, bibi, dan pamannya berdarah Rusia dan sehari-hari masih berbahasa Rusia. Jupiter sendiri lahir di atas kapal di tengah samudera Atlantik, saat keluarga ibunya lari dari Rusia setelah ayahnya, yang astrofisikawan Amerika, mati ditembak orang tak dikenal di Rusia.

Irama keseharian Jupiter berubah seketika setelah sekelompok alien yang menyamar jadi dokter dan paramedis menemukan DNA-nya persis sama seperti yang selama ini dicari. Jupiter hendak diculik, tapi seorang pemuda ganteng berotot, Caine (Channing Tatum), melesat masuk ruang operasi, mengalahkan para alien, dan menyelamatkan Jupiter.

Caine menjelaskan dirinya sebagai tentara dari galaksi lain yang ditugaskan melindungi Jupiter dari pasukan hitam yang hendak menculiknya. Dia diyakini sebagai reinkarnasi Ratu Semesta, penguasa semua galaksi, yang tewas terbunuh setelah 100.000 tahun berkuasa. Dengan demikian, Jupiter-lah yang berhak mewarisi kekuasaan sebagai Ratu Semesta.

Caine kemudian mengajak Jupiter ke galaksi lain tempat tinggal tiga anak mendiang Ratu Semesta, yakni Titus (Douglas Booth) yang kata-katanya halus tapi bermuka dua, si seksi Kalique (Tuppence Middleton), dan Balem (Eddie Redmayne) yang pemarah. Merekalah yang menugaskan Caine ke bumi.

Tiga bangsawan ini mengundang Jupiter untuk diberi mahkota, tapi ada rencana lain di belakangnya, yakni mengenyahkan perempuan itu sehingga kekuasaan ada pada mereka. Tiga bersaudara mengerahkan kemampuan masing-masing untuk mendekati Jupiter, tanpa mereka sadari ada Caine yang loyal mengawal Sang “Tuan Putri” dan menjamin keselamatannya.

Bukan Wachowskis (sebutan untuk dua bersaudara Andy dan Lana Wachowski) jika tak ambisius. Sekali lagi mereka membuat teori eksistensi tentang gagasan bahwa dalam sistem kosmik, kita pion yang bahkan lebih kecil dari yang kita bayangkan, semata-mata ternak bagi klan penguasa yang berada entah di mana.

Film ini secara “licik” mendaur ulang atau mengisi ulang cerita utama dari masterpiece Wachowskis, The Matrix (1999), dengan pembukaan yang mengingatkan kita pada The Terminator (1984) dan beberapa kostum dan tata rambutnya diambil dari Galaxy Quest (1999). Kali ini, daun telinga prostetiknya ajaib.

Mila Kunis yang bola mata bulatnya mempesona, mampu mempertahankan ketenangannya tanpa kesulitan. Channing Tatum kembali lagi ke peran he-man yang menjual otot dan ketampanan, padahal dari Foxcatcher (2015) kita tahu Tatum bisa berakting.

Justru Eddie Redmayne yang bukan bintang utama, yang menyedot perhatian lewat aktingnya sebagai Lord Balem, penguasa jahat antargalaksi berwajah murung dan pucat. Dengan sedikit saja mengangkat alis atau melemparkan pandangan sinis, Redmayne menaklukkan karakternya.

Selain action-nya familiar, efek khususnya kurang segar, dan plotting-nya sulit dicerna, elemen paling membingungkan adalah kehidupan manusia sudah ada lebih dari miliar tahun tapi mengapa masih dipimpin keluarga bangsawan bergaya Inggris yang berebut kuasa seakan abad ke-16?

Atau, jika bumi benar-benar koloni yang secara ekonomi dieksploitasi penguasa sehingga dapat secara instan pergi antargalaksi berbekal teknologi supercanggih, bagaimana cara kerjanya? Apa akibat bagi warganya? Toh semua nampak normal-normal saja.

Teknologi masa depan (maunya) ditampilkan secara masif, tapi seperti disimpan dalam bungkus dan tak nampak oleh pandangan manusia biasa yang tak kunjung paham. Adegan action final yang berpanjang-panjang hampir terjun bebas jadi adegan konyol.

Roman yang secara perlahan tumbuh antara Jupiter dan penjaganya bisa sedikit menghibur penggemar muda Kunis dan Tatum, sementara karakter-karakter lain seperti berayun-ayun saja di udara.

Efek khusus dan karya teknis JupiterAscending berada di tingkat kedua, di bawah Interstellar (2014), Gravity (2013), dan produksi sci-fi lain. Tak seperti The Matrix, pastinya, tak ada yang konseptual yang bisa merebut perhatian penonton, hanya melihat perempuan muda biasa yang dibawa ke kondisi luar biasa. Bagi yang berharap keajaiban Matrix berulang lagi setelah 15 tahun, oh, akan pangkat dua kecewanya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 167, 9-15 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s