Lupa Sedang di Singapura

WRS singapura

Lidah jerapah bikin nyetrum sampai ubun-ubun dan air liur badak membasahi tangan seperti kucuran keran.

Oleh Silvia Galikano
Selain rimba beton perkantoran dan shopping malls yang jadi “identitas”, Singapura menyisihkan sebagian lahannya untuk tempat hidup satwa, yakni ke barat dari pusat kota, yang jika Anda tengok peta, kawasan ini ditandai dengan warna hijau.

Di sinilah terdapat Jurong Bird Park, Singapore Zoo, River Safari, dan Night Safari yang jadi habitat satwa berbagai latar belakang geografis dan iklim. Semuanya berkonsep terbuka. Tak ada satwa yang hidup dalam kerangkeng, hanya diberi parit pengaman agar manusia tak mendekat. Satwa langka jadi perhatian khusus, dilindungi, dan dibiakkan.

Wildlife Reserves Singapore (WSR), badan independen swadana yang menginduki empat taman margasatwa ini, mendedikasikan diri untuk menjaga keanekaragaman hayati lokal maupun global. Apa saja yang ada di empat tempat tersebut? Berikut ulasannya:

Singapore Zoo

Memberi makan badak putih di Singapore Zoo.
Memberi makan badak putih di Singapore Zoo. Foto: Silvia Galikano.

Ingin merasakan memberi makan jerapah, yang juluran lidah panjangnya saat tersentuh tangan bikin nyetrum sampai ubun-ubun? Atau memberi makan badak putih yang air liurnya membasahi tangan seperti kucuran keran? Datanglah Singapore Zoo.

Pada jam-jam memberi makan, kita dapat ikut menyodorkan seporsi sayur-sayuran ke jerapah, badak, gajah, dan babun. Namun cukup jadi penonton saat jam makan singa, karena untuk hewan satu ini, hanya petugas yang boleh melemparkan potongan-potongan ayam mentah ke arah dua ekor singa di seberang parit.

Singapore Zoo berada di seputar Upper Seletar Reservoir, salah satu kawasan tangkapan air Singapura yang berfungsi menghindari gangguan pasokan air. Di kawasan seluas 26 hektare inilah 2.800 ekor hewan dari 300 spesies bermukim, 26 persen spesiesnya terancam punah.

Kebun binatang yang berusia 42 tahun itu menggunakan program pemberian makan sebagai salah satu cara mendekatkan pengunjung dengan hewan. Setelah terkenal dengan konsep terbuka, belakangan, Singapore Zoo melangkah lebih jauh jadi kebun binatang pendidikan (learning zoo) agar dapat maksimal menyampaikan pesan tentang konservasi.

Singapore Zoo membuka pintu untuk rombongan siswa berusia 8-10 tahun yang datang didampingi guru. Mereka dapat mengenal hewan secara langsung dan menggunakan seluruh indera, hal yang tak dapat dilakukan di sekolah.

“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa guru membawa murid ke kebun binatang hanya untuk belajar sains. Jurong Bird Park, Singapore Zoo, Night Safari, dan River Safari dapat digunakan untuk macam-macam pelajaran: matematika, sains, bahasa Inggris, bahkan bahasa ibu,” ujar Kurator dan Pendidikan WRS Rekha K.R. Nair kepada beberapa wartawan asal Indonesia saat mengunjungi Singapore Zoo, beberapa waktu lalu.

Perihal bahasa ibu tak lepas dari empat ras besar yang menghuni Singapura, yakni Melayu, Tionghoa, Tamil, dan Eurasia yang punya bahasa masing-masing. Jadi jika yang datang salah satu kelompok tersebut, maka bahasa pengantar programnya adalah bahasa khas kelompok itu. Namun sejauh ini baru ada program berbahasa Inggris dan Mandarin yang ada. Program berbahasa Melayu dan Tamil belum diterapkan.

Jurong Bird Park

Memberi makan burung nuri.
Memberi makan burung nuri. Foto: Silvia Galikano.

Atraksi burung adalah suguhan yang selalu menarik dari anak-anak sampai orang dewasa. Seperti yang ditampilkan kakatua bernama Butter, serta dua beo bernama Hippie dan Michael. Dipandu seorang pelatih, ketiganya beratraksi di sebuah panggung rendah.

Hippie pandai memilah sampah. Dengan paruhnya, beo ini memungut kaleng minuman lalu memasukkannya ke tempat sampah khusus kaleng. Dia kemudian mengambil kertas yang diremuk dan memasukkannya ke tempat sampah khusus kertas.

Kawannya, Butter, selalu tahu ke mana harus terbang, yakni ke siapa saja yang membawa mangkok makanannya, walau itu di tangan penonton. Sedangkan Michael lihai menangkap kacang yang dilemparkan pelatih, ke mana pun arahnya dan seberapa pun tingginya.

Aktivitas tersebut ada di Jurong Bird Park, taman burung terbesar di Asia (luas 20,2 hektare) yang dibuka pada 1971. Lokasinya di Bukit Jurong yang berkontur. Hingga kini menyimpan lebih dari 5000 ekor burung dari 400-an spesies dari seluruh dunia yang 15 persen di antaranya terancam punah.

Kekhawatiran tentang adanya penyiksaan hewan selalu muncul setiap kali hewan ditampilkan dalam atraksi, tak terkecuali atraksi burung barusan. Namun kekhawatiran ini ditepis General Manager Jurong Bird Park R. Raja Segran yang mengatakan bentuk pelatihan di sini positif, tak ada yang negatif semisal memukul atau membuat hewan kelaparan.

“Burung lebih mandiri dan cerdas dibanding hewan piaraan lain, seperti kucing dan anjing. Beo memiliki IQ setara manusia umur 3 tahun dan hanya mengerti yang positif. Jika kita melakukan hal negatif, seperti memukul atau kekerasan lain, kita takkan mendapat apa-apa,” ujar Segran.

Karenanya yang dibangun hanyalah kepercayaan dan komunikasi, serta sebuah keharusan bagi pelatih tahu perilaku alami hewan. Respon tiap burung yang dilatih pun berbeda-beda. Tak heran jika ada burung yang hanya butuh 3-6 bulan pelatihan, ada yang tiga tahun baru siap tampil, tapi ada juga burung yang tak berbakat untuk atraksi.

River Safari

IMG_2182
Amazon Flooded Forest. Foto: Silvia Galikano.

Berjalan di bawah ikan-ikan raksasa, tenggelam di tengah banjir Sungai Amazon, dan dengan menumpang perahu menyusuri “Sungai Amazon” yang berliku-liku sambil menikmati aneka hewan di kanan-kiri sungai adalah keasyikan tersendiri di River Safari.

Letak River Safari bertetangga dengan Singapore Zoo di seputar Upper Seletar Reservoir. Inilah taman margasatwa bertema sungai pertama dan satu-satunya di Asia. Luasnya 12 hektare, dihuni 400 spesies tanaman dari 200 spesies (40 persennya terancam punah).

River Safari didesain menampilkan habitat air tawar dari sungai-sungai terkenal di dunia, seperti Sungai Amazon, Sungai Mekong, dan Sungai Nil. Hewan air dan darat dari habitat sungai ikonik tersebut ditampilkan bersama budaya yang mengelilinginya.

Seperti Amazon Flooded Forest, akuarium air tawar terbesar di dunia yang menampilkan ekosistem sungai Amazon pada musim hujan (Desember hingga Juni). Saat itu air sungai meluap hingga kedalaman 10 meter, dan lebarnya bertambah dari yang hanya 4-5 kilometer pada musim panas jadi 50 kilometer pada musim hujan.

Jia Jia
Jia Jia. Foto: Silvia Galikano.

Alhasil ada pemandangan unik tiap musim hujan, yakni ikan, manati (lembu laut), atau berang-berang raksasa berenang di antara dahan pepohonan yang pada musim panas merupakan tempat tinggal burung.

Walau namanya River Safari bukan berarti hanya berisi hewan air. Ada pula sepasang panda menggemaskan bernama Kai Kai (jantan) dan Jia Jia (betina). Kai Kai dan Jia Jia tinggal di dalam ruangan yang disetting mirip alam asal mereka di kawasan Sungai Yangtze, Tiongkok, yang rindang dengan tanaman, berbatu-batu, dialiri air, dan suhu dijaga tetap 18-22 derajat Celsius. Maka lihatlah, seberapa sibuknya pengunjung memotret dan memanggil nama mereka, keduanya tetap asyik mengunyah bambu, kadang sambil berguling-guling, seperti tak terganggu.

Night Safari

IMG_2783
Sekawanan rusa di Night Safari. Foto: Silvia Galikano.

Jangan salah, Night Safari bukan Singapore Zoo di waktu malam. Night Safari yang mulai beroperasi pada 26 Mei 1994 adalah taman safari pertama di dunia yang mengkhususkan diri pada hewan malam (nocturnal), karenanya baru buka pukul 19.30 dan tutup pukul 12.00 tengah malam. Letaknya bersebelahan dengan River Safari.

Hewan ikonik Night Safari adalah gajah Asia bernama Chawang yang lahir lewat program penangkaran, macan Malaya, kucing bakau (Prionailurus viverrinus), anjing hutan, macan dahan (Neofeli nebulosa), anoa, banteng, tapir, dan singa Asia (Panthera leo persica).

Taman safari ini dapat dieksplor dengan berjalan kaki (walking trail) selama dua jam atau naik trem selama 35 menit. Karena berlangsung malam hari, Night Safari relatif ketat dibanding Singapore Zoo dengan pertimbangan keamanan. Semua harus dilakukan dalam kelompok, dan tiap kelompok harus didampingi pemandu.

Night Safari bukanlah hutan yang gelap-gulita, pasalnya tetap ada lampu bercahaya lembut di tempat tergelap sekalipun. Dan di antara suara hyena di kejauhan, Walter, pemandu kami, tak henti menjelaskan tiap hewan yang kami lewati. Tentang bison yang jadi lambang minuman berenergi , tentang babi rusa yang malam itu kekenyangan, juga tentang kerbau Afrika yang agresif sehingga Walter harus menurunkan suaranya serendah mungkin.

Hingga kemudian lampu semakin banyak dan semakin terang, gerbang Night Safari pun sudah tampak lagi. Artinya perjalanan sudah mencapai akhir. Penutup hari ini adalah sekaligus penutup dari tiga hari menyenangkan yang membuat kami lupa sedang berada di Singapura.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 167, 9-15 Februari 2015

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s