Si Muda Bersiasat

diskusi jazz

Musisi jazz mendapat tantangan zaman yang tak ringan. Dari membuat musik bagus, menjual karya, dan paham naik-turun pasar, jadi satu paket tak terpisahkan.

Oleh Silvia Galikano

Musisi mesti sadar, memilih jazz artinya tak akan “seingar-bingar” musik lain. Mentalitas pun distel ulang, tak bisa lagi cuma sampai launching dan selebihnya menyerahkan pada pasar. Alhasil, ketika album jeblok, label disalahkan.

Strategi pun harus matang dan terus bergerak, bukan hanya bermodal pasang video di Youtube tanpa tahu metadata. Pasalnya yang dijadikan patokan dari Youtube bukanlah berapa banyak viewer-nya, melainkan berapa banyak orang bertahan menonton video itu sampai selesai.

Strategi berjualan jadi bahasan penting dalam Diskusi Musik Jazz dan Anak Muda di Serambi Salihara, 11 Februari 2015. Musisi adalah sekaligus tenaga pemasaran bagi karya-karyanya. Diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber, Adib Hidayat, redaktur majalah Rolling Stone Indonesia, dan Aldo Sianturi, konsultan bisnis musik dan manajer Believe Digital.

Acara ini adalah pemanasan bagi Salihara Jazz Buzz: Yang Muda Yang Ngejazz di Teater Salihara tiap Sabtu-Minggu sepanjang Februari 2015 yang menghadirkan musisi-musisi muda jazz Indonesia, seperti Dion Subiakto, Jessi Mates & Ricad Hutapea, serta Andy Gomez.

Musisi muda diharapkan punya paradigma baru dan segar yang memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk menjual karya-karyanya. Menurut Aldo, iTunes belum dimanfaatkan maksimal, terbukti yang ada hanya Indra Lesmana dan Oddie Agam, sedangkan nama-nama besar lain tidak ada, termasuk Jack dan Mien Lesmana, yang notabene orangtua Indra.

Penjualan album musik secara fisik, dalam hal ini CD, masih tetap diperhitungkan walau penjualan secara digital marak. Musisi harus berproduksi, membuat album, agar ada rekam jejak. Sebaliknya, masyarakat membeli album, bukan hanya menikmati lewat “ketengan” single.

Adib Hidayat (kemeja kotak-kotak) dan Aldo Sianturi (tengah). Foto: Witjak Widhi Cahya/ Komunitas Salihara
Adib Hidayat (kemeja kotak-kotak) dan Aldo Sianturi (tengah).
Foto: Witjak Widhi Cahya/ Komunitas Salihara

“Ketika rekam jejak musisi hilang, tak ada cara memperpanjang komunikasi dengan musisi tersebut dan kita kehilangan mata rantai serta orang yang menjaga gugusan itu,” kata Aldo. Dia memberi contoh remaja sekarang tak tahu siapa Jack Lesmana, apatah lagi Miles Davis atau Wynton Marsalis. Itu sebabnya jazz sebaiknya diperdengarkan di tiap rumah karena Jack Lesmana itu untuk didengar supaya tahu bagaimana rohnya, bukan hanya dibaca.

Membuat sebuah produksi selalu diikuti pertanyaan akan berapa banyak lakunya? Selama ini, pertanyaan itulah yang membuat jiper musisi jazz. Namun sekarang, menurut Aldo, ekspektasi berapa lakunya album bisa diatur, cover album bahkan bisa dibikin dari kertas koran untuk menekan ongkos.

Tinggal lihat lingkaran terdekat si musisi, apakah mereka mau beli CD tersebut? Kalau lingkaran terdekat saja tak mau membeli, jangan berharap banyak pada lingkaran yang lebih besar.

Setelah album selesai, musisi harus membuka dan menciptakan sendiri jalur distribusi, seperti melalui perusahaan kurir atau convenient store, dan tidak harus masuk restoran cepat saji karena ini bukan produksi massal.

Banyaknya musik dan musisi non-jazz yang tampil di festival-festival jazz, ujar Adib, adalah contoh pemasaran yang sudah lama dipraktikkan. Slayer yang beraliran metal tampil di Montreux Jazz Festival 2002 atau Foo Fighters main di New Orleans Jazz Festival 2014 atau Sheila on 7 di JavaJazz Festival 2015.

Siasat ini untuk menyedot penonton non-jazz datang ke acara jazz. Jika yang dimainkan hanya jazz totok, tingkat konsumsinya tak akan sebanyak jika ada nama-nama populer lain di luar jazz.

Adib menyebut juga tentang saling menyeberang genre yang terjadi ketika musisi jazz berhadapan dengan industri. Musik-musik Maliq & D’essentials, misalnya, yang semula kental unsur jazz makin lama makin pop karena ingin memberi pembelajaran bahwa tak semua jazz harus seperti itu. Andien juga masuk ke aliran lain dengan alasan tak mau hanya dianggap sebagai penyanyi jazz.

Fenomena tersebut ditentang Aldo yang berpendapat musisi seharusnya konsisten sejak “ijab kabul” memilih jazz, tak peduli alasan pasar, sebab pengaruhnya ke katalogisasi. DNA jazz harus ada, itu syarat bisa diperdengarkan di luar negeri. Dari DNA jazz bisa dinilai apakah d’Masiv yang mengisi JavaJazz 2013, misalnya, termasuk jazz atau tidak.

Begitu masuk ke bisnis, saat itu juga musisi harus mengontrol ekspektasi, bahwa tiap musik punya jodohnya masing-masing. Tahu kapan “kenyang”, karena akan berpengaruh ke kualitas. Tak bisa menargetkan dalam sekian tahun harus ada sekian produksi karena musik tak bisa dipaksakan. “Musisi yang tiap tahun bikin album biasanya tak lama akan collaps karena sulit menjaga kualitas,” ujar Aldo.

Cara lain adalah bersiasat di luar musik, yakni sudah saatnya musisi menganggap dan menggarap serius merchandise, seperti kaos, mug, jaket, topi. Adib memberi contoh ada sebuah band indie di Salatiga yang tak dikenal di Jakarta; manggung hanya sebulan sekali; ternyata punya lebih dari 4000 follower serta punya toko yang menjual merchandise dan album-album band indie lain. Sehingga praktis penjualan merchandise-lah yang menghidupi mereka.

Di tataran band yang sudah dikenal luas, Noah punya cara cerdik, yakni membuka distribusi merchandise di tiap daerah dengan melibatkan penggemar. Sheila on 7 tiap pekan mengeluarkan desain baru kaos.

Bandingkan dengan merchandise Slank yang hanya ditaruh di Potlot. Penyanyi lain malah sama sekali tak berminat membuat merchandise, printilan recehan yang cuma merepotkan. Dia tak tahu, ada band indie yang dapat untung Rp200 juta sebulan, dari kaos saja. Ya, zaman sudah beda, Masbro!

***
Dimuat di Majalah Detik, edisi 168, 10-22 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s