Anak Ayam Hitam untuk Petruk

20150223_MajalahDetik_169_102 copyBertahun-tahun Petruk menunggu Prabu Kresna memenuhi janjinya. Ketika gelagatnya janji itu bakal tak dipenuhi, Petruk punya cara lain untuk menagih.

Oleh Silvia Galikano

Petruk ngambek, pundung. Gareng dan Bagong menyapa, dijawab ketus. Pertanyaan Semar dijawab ogah-ogahan. Tak ada yang tahu mengapa Petruk, yang biasanya ceria, jadi begini.

Ihwalnya beberapa tahun lalu, Petruk ikut operasi bela negara yang diberi sandi kuthuk cemani (anak ayam hitam), saat terjadi pemberontakan Prabu Pragola Manik. Dengan kesaktiannya, Petruk berhasil memadamkan pemberontakan itu.

Sebagai imbalan atas jasanya, Prabu Kresna penguasa Dwarawati berjanji akan menikahkan putrinya, Dewi Prantawati (asal sebutan kuthuk cemani), dengan Petruk. Namun Petruk harus menunggu dulu beberapa tahun hingga Prantawati dewasa. Dalam masa menunggu itu, Petruk dikagetkan kabar tunangannya akan menikah dengan Lesmana Mandrakumara, pangeran dari Astina.

Karena kecewa berat itulah Petruk hilang semangat hidup. Dia menolak ajakan saudara-saudaranya sesama Punakawan juga ajakan Pandawa menghadiri pesta pernikahan Prantawati di Kerajaan Dwarawati. Arjuna bahkan sempat memarahi Petruk dan mengancam akan membunuhnya.

Petruk melarikan diri ke hutan. Di tengah kebingungan, dia bertapa hingga doanya mengguncang Kahyangan dan mendorong ayahnya, Gandarwa Raja, menemui Petruk. Gandarwa membantu permasalahan putranya dengan mengubah wujud Petruk jadi ksatria tampan bernama Bambang Sukma Nglembara.

Sementara itu di Dwarawati, Prantawati sedih karena akan dinikahkan dengan Lesmana, pria yang tak dicintainya. Di tengah kegalauan itulah muncul seorang ksatria gagah, Bambang Sukma Nglembara, menyusup ke taman. Prantawati jatuh hati. Mereka saling berjanji sehidup semati dan saling bertukar cincin.

Pesta pernikahan Prantawati dan Lesmana siap digelar. Mempelai pria sudah datang. Di tengah acara, tiga mbok emban yang biasanya menemani Prantawati melaporkan tuan putri mereka hilang. Kurawa dan Pandawa bersama-sama berusaha menangkap si pencuri, pencuri cinta padahal, namun tak ada yang mampu menandingi kesaktian Bambang Sukma Nglembara.

Saat Bambang Sukma Nglembara menyombongkan kemenangannya, Bagong dan Gareng mengenali ksatria di depan mereka ini adalah Petruk. Petruk pun buka kartu, alasan semua ini untuk mengingatkan janji Prabu Kresna dulu. Janji seorang pemimpin harus ditepati agar kewibawaan dan martabatnya terus terjaga.

Dalam durasi dua jam, Petruk Nagih Janji dimainkan Wayang Jurnalis di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, 15 Februari 2015. Lakon yang disutradarai Kenthus Ampiranto dari Wayang Orang Bharata itu meletupkan bumbu humor di sana-sini, menghasilkan narasi yang segar.

Sebagian besar pemain yang tampil petang itu adalah jurnalis, tepatnya ada 29 jurnalis, di antaranya Putu Fajar Arcana dari Kompas, Dwi Sutarjanto dari Esquire, Ali Sobri dari Hai, dan Dzulkifri Putra Malawi dari Media Indonesia. Sebagian lagi para pentolan Wayang Orang Bharata.

Wayang Jurnalis, salah satu program komunitas jurnalis Sahabat Indonesia Kaya, adalah wayang orang yang dimainkan para jurnalis. Petruk Nagih Janji adalah pertunjukan kedua mereka, sedangkan pertunjukan pertama mengambil lakon Wahyu Cakraningrat dipentaskan dalam rangkaian ulang tahun Galeri Indonesia Kaya pada Oktober 2014.

“Tantangan terbesar menggarap lakon ini adalah jurnalis yang terlibat ini dari berbagai suku dan tidak ada yang latar belakang penari,” ujar Kenthus Ampiranto, usai pementasan. Karena itu dia menyiasatinya dengan menekankan pada dialog, bukan pada tari dan sikap bermain wayang orang yang benar. Improvisasi, termasuk menyisipkan humor, dijaga tetap berada di atas benang merah cerita.

Para jurnalis punya waktu yang sangat pendek untuk berlatih, yakni empat kali latihan, itu sudah dari proses pengenalan tokoh hingga latihan menari. Masa latihan yang pendek ini tak pelak menimbulkan banyak bolong dalam urusan menghafal naskah, tapi dapat disiasati sebagai celah masuknya humor.

Iwet, misalnya, awalnya memperkenalkan diri sebagai Carik, padahal yang benar Cantrik. Dia juga kesulitan mengingat nama alias Petruk, Bambang Sukma Nglembara, hingga menyebut Bambang Bambang yang lain, “Bambang Pamungkas? Eh bukan. Bambang Setio? Bantuin dong, lupa beneran ini.”

Contoh lain, Sarmoko Saridi pemeran Arjuna yang harus selalu tampak gagah dengan bahasa tertata, apa daya sering kedapatan bengong tiap kali gilirannya bicara. Alhasil, reporter Trans TV itu berkali-kali jadi bahan candaan Bagong yang dimainkan Marsam dari WO Bharata.

Dan ketika kemudian Sarmoko menirukan gestur dan kalimat Mario Teguh dengan lancar walau lumayan panjang, Marsam pun nyeletuk, “Ooo ternyata dari tadi sering bengong karena menghafal itu,” yang disambut gelak penonton.

Selain para jurnalis dan personil Wayang Orang Bharata, Petruk Nagih Janji juga menampilkan tiga bintang tamu, yakni aktor Dwi Sasono sebagai Petruk, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian sebagai Dewi Kunthi, dan penyiar radio Iwet Ramadhan sebagai Cantrik sang pengantar cerita.

Sedianya Ganjar Pranowo yang diplot memainkan karakter Petruk. Kenthus sudah pernah melihat Ganjar bermain sebagai Petruk, di Semarang. Dari sanalah dipilih lakon Petruk Nagih Janji, apalagi cocok dengan posisi Ganjar saat ini sebagai Gubernur Jawa Tengah yang sedang ditagih janji-janji kampanyenya dulu. Namun respon dari Ganjar tak kunjung tiba.

Dwi Sasono didapat tiga hari sebelum pementasan. Posturnya yang tinggi cocok untuk karakter Petruk, terlebih dia antusias bermain wayang dan bisa berimprovisasi dengan tepat, dalam arti tidak melantur ke mana-mana.

“Tuhan Maha Penyayang pada saya yang sudah bingung dan stres kenapa Pak Ganjar tidak jadi, eh ketemu mas Dwi yang hebat sekali. Saya ketemu cuma sekali, lalu latihan dan memberi pemahaman tentang wayang, karakter Petruk, dan naskah yang harus dihafal,” ujar Kenthus.

Mengharapkan sajian Wayang Jurnalis sesempurna wayang orang yang sesuai pakem memang masih sangat panjang jalannya. Namun, seperti sang sutradara bersiasat dengan menekankan pada dialog, setidaknya anak muda Jakarta kini tahu Petruk yang jangkung, culun, dan berjambul tinggi itu tokoh sakti dan beristri cantik. Itu saja dulu.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 169, 23 Februari – 1 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s