Chappie, Robot yang Punya Rasa

chappie

Sampailah pada satu titik, robot menyerupai manusia. Makhluk besi itu punya indera.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Chappie
Genre:  Action | Sci-Fi | Thriller
Sutradara: Neill Blomkamp
Skenario: Neill Blomkamp, Terri Tatchell
Produksi: Sony Pictures
Pemain: Sharlto Copley, Dev Patel, Hugh Jackman
Durasi: 1jam 45 menit

Robot ini beda. Punya indera seperti manusia, dapat merasakan panas dan dingin, bisa sedih, dan bisa melukis.

Namanya Chappie (diisisuarakan Sharlto Copley), dibuat Deon Wilson (Dev Patel), ilmuwan robot di Tetra Vaal. Tetra Vaal adalah perusahaan yang dikontrak untuk menyediakan robot-robot untuk jadi anggota pasukan kepolisian Johannesburg, Afrika Selatan.

Robot polisi yang selama ini jadi anggota kepolisian juga ciptaan Deon. Posturnya mirip manusia, jalannya lincah, dan tak mudah ditembus peluru. Tugas utama mereka memberantas kejahatan.

Dalam sebuah baku tembak dengan gerombolan gangster, sebuah robot rusak parah. Deon yang memeriksa memutuskan untuk membesituakan robot ini karena demikian parah rusaknya dan tak lagi dapat diperbaiki.

Namun kemudian Deon juga yang akhirnya diam-diam mengambil robot itu untuk percobaan proyek terbarunya, yakni robot yang dilengkapi perasaan. Bos Tetra Vaal, Michelle Bradley (Sigourney Weaver), tak berminat pada robot berperasaan karena bukan itu yang dibutuhkan kepolisian. Maka tanpa diketahui karyawan lain, dia naikkan robot yang sudah tak jelas bentuknya itu ke dalam mobil dan dibawa pulang.

Sementara itu, gangster kere yang hidup di reruntuhan gedung, sedang pusing ditagih utang gangster besar, gangster yang barusan mengalahkan polisi dan membuat satu robot mati kutu. Paling telat, dua hari lagi utang harus dibayar.

Gangster kere ini hanya beranggotakan tiga orang, yakni Ninja (Ninja), Yolandi (Yo-Landi Visser), dan America (Jose Pablo Cantillo). Mereka berencana melakukan perampokan besar-besaran untuk dapat membayar utang tapi nyata hambatannya, polisi berikut pasukan robotnya itu.

“Kalau begitu kita cari remote control yang mengendalikan robot-robot itu, lalu matikan,” Yo-landi mencetuskan idenya.

Pencarian di internet menghasilkan nama dan foto Deon Wilson sebagai pencipta robot. Ilmuwan muda ini berhasil mereka culik dalam perjalanannya pulang sambil membawa robot yang hancur.

Di bawah todongan pistol Ninja, Deon mengerjakan proyek terbarunya itu di markas mereka. Hasilnya, robot berujud robot polisi yang compang-camping tapi bersuara layaknya balita. Yo-Landi memberinya nama “Chappie”.

Ninja, Yo-Landi, dan America harus menunggu beberapa hari untuk dapat menggunakan Chappie, yakni sampai robot itu “dewasa”. Untuk sementara mereka memperkenalkan Chappie pada dunia barunya dan melatih robot ini agar dapat dilibatkan dalam aksi mereka.

Johannesburg praktis dikuasai preman setelah “remote control” robot polisi diambil Deon dari tempatnya. Di tengah kekacauan kota, Michelle akhirnya memberi lampu hijau pada Vincent Moore (Hugh Jackman) untuk mengeluarkan robotnya, Moose.

Selama ini Michelle tak mengizinkan karena Moose tidak sesuai dengan kebutuhan polisi. Moose dengan tubuh raksasanya lebih cocok diterjunkan di medan perang. Bagaimana nasib Chappie berhadapan dengan Moose?

Sejak X-Men meledak secara internasional 15 tahun lalu, Hugh Jackman hampir selalu berperan sebagai jagoan. Nampaknya 2015 jadi penanda bintang asal Australia itu memainkan peran sebaliknya.

Walau dikarakterkan antagonis, Moore sebenarnya bukanlah orang jahat. Dia sudah memaksimalkan kemampuannya sebagai teknisi tapi tetap tak bisa mengalahkan Deon. Melalui Moose yang jadi ciptaannya, Moore mengharapkan perubahan akan membuatnya terkenal sejagad. Satu yang menarik perhatian adalah potongan rambut Jackman yang bergaya mullet, yakni pendek di depan tapi panjang di belakang.

Neill Blomkamp kini masuk dalam radar semua orang setelah terpilih menyutradarai Chappie, film terbarunya yang mungkin dapat memicu debat. Film ini menampilkan penggabungan yang tak biasa antara sci-fi dengan band rap yang mengangkat dunia gangster, Die Antwoord.

Walau punya banyak kesamaan estetika dengan RoboCop (1987 & 2014) dan penggambaran kesenjangan sosialnya mengingatkan pada Elysium (2013), Chappie pada akhirnya lebih menyerupai A.I. Artifical Intelligence (2001) garapan Steven Spielberg.

Sejak District 9 (2009), Blomkamp menunjukkan kecenderungan menggambarkan konflik dengan cara paling sederhana. Di Chappie adegan yang dengan sempurna merangkum ini adalah ketika Yo-Landi melontarkan ide tentang “remote control”.

Blomkamp menggarap isu-isu sosial-politik dengan menjadikan robot sebagai anggota pasukan kepolisian, tapi ada hal lebih besar yang ingin dia capai lewat perkembangan kesadaran Chappie dan sifat buruk yang melekat pada manusia. Misalnya tentang keinginan seseorang untuk bebas dan tentang penampilan luar bukan penentu kesejatian seseorang.

Sayangnya, ada yang lolos hingga akhirnya mengubah kenaifan sang sutradara menjadi kekonyolan yang cenderung merusak kualitas film. Masalah ini umumnya datang dari anggota band Die Antwoord, Yo-Landi Visser dan Ninja, yang memindahkan karakter panggung mereka langsung ke film berkonsep sci-fi. Ide serius Chappie jadi tak meyakinkan sama sekali karena disampaikan lewat band rap yang mengusung dunia gangster.

Selain adegan lambat yang keren, printilan mencolok yang dipasangkan ke robot Chappie saat adegan Ninja melatih Chappie jadi momen lucu di bagian-bagian tertentu, malah kadang konyol. Alhasil Chappie nampak seperti perpanjangan video clip Die Antwoord ketimbang film karya Blomkamp. Ah, ada apa dengan Blomkamp?

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 171, 9-15 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s