Juragan Abiyoso dan Tradisi Gandrik

20150302_MajalahDetik_170_102 copy

Lebih dari tiga dekade usia Teater Gandrik, tapi naskah-naskah lamanya masih menemukan relevansi dengan kekinian. Tangis, contohnya.

Oleh Silvia Galikano

Suara tangis terdengar lagi. Lamat-lamat, mengiris-iris, tak jelas dari mana datangnya, dan terdengarnya selalu pada malam hari. Jika sebelumnya yang mendengar hanya Juragan Abiyoso (Butet Kartaredjasa) atau hanya Bu Abiyoso (Rully Isfihana), kali ini dua orang sepuh itu sama-sama dapat mendengarnya.

Siapa yang menangis demikian menyayat? Apakah ini pertanda bagi keluarga Abiyoso atau bagi usaha mereka, Batik Abiyoso?

Perusahaan Batik Abiyoso belakangan ini semakin terpuruk. Pesanan batik dari partai-partai politik tak kunjung dilunasi padahal utang perusahaan di bank sudah menumpuk untuk membiayai produksi. Pak Muspro, kepala pemasaran perusahaan Batik Abiyoso sekaligus sahabat Pak Abiyoso, pusing bolak-balik mendapat tagihan bank, tanpa dia melaporkannya ke Juragan Abiyoso.

Sebuah kabar mengagetkan diterima Juragan Abiyoso pagi itu. Pak Muspro ditemukan mati gantung diri, diduga tak kuat lagi menerima bank. Perusahaan batik goyah, mandor Siwuh (Nunung Deni Puspitasari) menjadi penjlat yang piawai didorong keinginannya berkuasa di perusahaan, keuangan perusahaan makin amburadul tak karuan.

Mental para buruh jatuh, ngutil setiap ada kesempatan. Rampung lima helai batik, mengaku ke mandor delapan helai. Mungkin itu dianggap jalan pintas memperpanjang umur upah yang kecil.

Dulu buruh batik pernah demo dipimpin Sumir, tapi apa akibatnya? Sumir lenyap. Lenyap atau dilenyapkan, tak ada yang tahu. Maka jika pada malam-malam tertentu ada canting melayang-layang, dipercaya itu hantu Sumir (Sepnu Heryanto) yang memegang canting.

Pangajap (Very Ludiyanto), anak Juragan Abiyoso, yang hobinya kelayapan dan tak peduli dengan jalannya perusahaan, merasa berhak atas jabatan yang ditinggalkan Pak Muspro. Dia bersekongkol dengan Siwuh untuk menjatuhkan Prasojo (Kusen Ali), putra Pak Muspro, yang kini memimpin perusahaan.

Pangajap bahkan rela membuang harga dirinya dengan berlatih menangis dan menjadikan tangis sebagai senjata ampuh menyentuh hati ayahnya agar diberi jabatan.

Demikian klimaks lakon Tangis oleh Teater Gandrik Yogyakarta yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20 & 21 Februari 2015. Pementasan ini disutradarai Djaduk Ferianto dan naskahnya ditulis Agus Noor. Sebelumnya, Tangis dipentaskan juga di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 11 & 12 Februari 2015.

Format pementasannya menggunakan dalang yang dimainkan Susilo Nugroho sebagai Pak Dulang. Di dalam cerita, Pak Dulang adalah satu-satunya yang dapat melihat dan berkomunikasi dengan hantu Sumir.

Agus Noor menulis ulang dan mengembangkan lakon Tangis berdasarkan dua naskah drama televisi karya alm. Heru Kesawa Murti (wafat pada 2011), Tangis dan Juragan Abiyoso. Cara ini memantapkan kembali tradisi penciptaan ala Gandrik, yakni adanya kesadaran kolektif bahwa kreasi teater adalah sesuatu yang tumbuh dan hidup, bukan sesuatu yang final dan sakral.

“Saya diberi kebebasan menulis ulang struktur adegan itu, juga alur ceritanya agar punya konteks yang lebih segar. Setidaknya konfik suksesi kekuasaan (atau perebutan kekuasaan) tidak lagi out of date, sebagaimana ketika Heru menulisnya,” demikian dituliskan Agus Noor dalam katalog pertunjukan. Itu sebabnya Juragan Abiyoso, selain mengeluhkan perusahaan batik, juga “melantur” ke masalah pemilihan Kapolri dan tindakan presiden yang tak sesuai dengan maunya.

Agus tetap mempertahankan karakter-karakternya serta jumlah tokoh dalam lakon itu, mengingatkan kita pada Teater Gandrik pada masa-masa awal mereka, ketika jumlah pemain ringkes dan efektif. Pemain hanya ada sembilan, tapi satu pemain bisa memainkan dua peran atau lebih sekaligus bisa menjadi pemusik.

Teater Gandrik memiliki sejarah relatif panjang, terutama bila dibandingkan dengan kebanyakan kelompok teater Indonesia. Kelompok teater yang dibentuk pada 12 September 1983 itu merupakan kelompok teater kontemporer Indonesia yang mampu mengolah bentuk dan spirit teater tradisional dengan gaya pemanggungan teater modern. Heru Kesawa Murti menulis banyak naskah untuk Gandrik.

Dekade 1980-an dan 1990-an, ketika hegemoni Orde Baru begitu kuat, adalah tahun-tahun produktif Teater Gandrik. Pementasan Pasar Seret (1985), Pensiunan (1986), Dhemit (1987), Orde Tabung (1988), dan Juragan Abiyoso (1989) menjadi bagian penting dinamika sosial politik Indonesia pada masa itu.

Lakon-lakon Teater Gandrik merupakan medium untuk melakukan kritik sosial sekaligus katarsis politik dengan menggunakan guyon parikena. Guyon parikena adalah menyindir secara halus yang tidak menimbulkan kemarahan yang berkuasa, bahkan seperti mengejek diri sendiri walau sesungguhnya yang dibidik adalah orang lain (yang tengah berkuasa).

Maka melihat Teater Gandrik kini di zaman yang sudah banyak berubah, Tangis bukan sekadar nostalgia atau mengulang apa yang dulu pernah mereka kerjakan dan capai dengan Heru, sebab itu artinya Gandrik terjebak pada duplikasi masa lalu. Gandrik kini dengan mudah menjalani gesekan kreatif; pintu yang dibukakan Heru dengan mengikhlaskan naskahnya di-betheti, disembelih, dan dicacah-cacah oleh sutradara dan aktornya; sehingga kita dapat menikmati sastra lakon sebagai bahan baku utama Gandrik.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 170, 2-8 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s