Festival Jazz yang Kental Indonesia

Untitled-1 copy

Ada sederet bintang dalam gelaran Java Jazz Festival kali ini, tapi penyanyi Indonesia menciptakan kegilaan tersendiri.

Oleh Silvia Galikano

Chaka Khan maju ke bibir panggung, tengah dia menyanyikan Tell Me Something Good, kemudian menyerukan begini, “Saya minta kalian yang perempuan menyanyi dengan nada merayu tell me something good. Lalu kalian yang pria keluarkan suara maskulin-macho tell me that you like it.”

Hall D2 Main Stage pun menggemakan suara malu-malu manja perempuan bersahut dengan suara bas pria, tell me something good/ tell me that you like it/ tell me something good/ tell me that you like it. Lagu yang pada 1974 dinyanyikan Rufus & Chaka Khan itu jadi medium komunikasi yang seru antara penyanyi dan penggemar walau Tell Me Something Good boleh dibilang tak dikenal luas di Indonesia.

Chaka Khan dan Incognito tampil pada hari ke-2 dari tiga hari Jakarta International Java Jazz Festival, 6, 7, 8 Maret 2015 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta. Acara garapan Java Festival Production ini diklaim sebagai festival jazz terbesar di dunia yang diikuti ratusan musisi asal Indonesia dan mancanegara, antara lain Tohpati, Reza Artamevia, Tulus, Jubing, Kenny Lattimore, Bobby McFerrin, Oleta Adams, dan Ben Herman Quartet.

Di tahun ke-11 ini, gelaran Java Jazz Festival mengangkat tema Exploring Indonesia dan mengunakan barong Bali sebagai tema desain.

Dua hari sebelumnya, saat konferensi pers, Java Festival Production bekerja sama dengan penerbit Gagas meluncurkan buku 100 Tahun Musik Indonesia karya Denny Sakrie. Ini merupakan program khusus yang dibuat Java Festival Production untuk mengenang Denny Sakrie (1963-2015), wartawan dan pengamat musik yang selalu mendukung Java Jazz Festival sejak masih berupa gagasan.

Chaka Khan dan Incognito jadi salah satu penampil yang menyedot penonton paling banyak. Betapa tidak, Incognito adalah band acid jazz nomor wahid asal Inggris yang bertahan selama 36 tahun dan melalui pergantian demi pergantian personil. Sedangkan Chaka Khan penyanyi asal Amerika yang ditahbiskan dunia sebagai Queen of Funk, mengantongi 10 Grammy, dan sudah menjual 70 juta copies lagu.

Sebelum pintu Hall D2 dibuka, lautan manusia sudah mengepung hall yang punya dua pintu masuk. Penonton yang tak sabar meneriakkan, “Buka! Buka!” karena yang sudah-sudah, pintu dibuka 15 menit sebelum pertunjukan dimulai.

Pintu akhirnya dibuka pada pukul 22.00, waktu yang seharusnya untuk memulai pertunjukan. Lautan manusia tadi berubah jadi air bah di dua pintu. Dorong-dorongan pun tak terelakkan.

I Feel for You jadi suguhan pembuka, dilanjutkan Ain’t Nobody dan Sweet Thing. Sebagaimana Tell Me Something Good, tiga lagu ini aslinya dibawakan Rufus & Chaka Khan. Rufus adalah band funk asal Chicago dengan vokalis utama Chaka Khan. Mereka terkenal pada 1970-an.

Usai Until You Come Back to Me yang dipopulerkan Aretha Franklin pada 1974, Chaka Khan pergi ke belakang panggung untuk berganti kostum. Jean-Paul Maunic, gitaris sekaligus pentolan Incognito, maju ke depan mik.

Pria yang kerap disapa Bluey itu bercerita pada umur 15-16 tahun, dia di sekolah tak menyimak pelajaran karena sibuk menggambar band impiannya. Band impian itu tak tanggung-tanggung, personilnya para musisi dunia, seperti Stevie Wonder, George Duke, George Benson, dan Chaka Khan sebagai vokalis.

“Impian remaja saya sudah terwujud. Saya sudah pernah bekerja sama dengan mereka semua. Jadi, jika kalian punya mimpi, upayakan terus, yakinlah akan terwujud.”

Panggung selanjutnya diisi tiga vokalis terkini Incognito membawakan nomor-nomor andalan dan sudah jadi legenda, seperti Talking Loud, Still A Friend of Mine, I’ll Be Loving You Always yang ditulis Stevie Wonder, Good Love dari album Degrees and Rising, dan Don’t You Worry ‘bout the Thing.

Penonton yang tak tadinya berdiri di belakang karena tak kebagian kursi, kini tak dapat lagi menahan diri, langsung menyerbu dan mengisi area antara panggung dan kursi terdepan juga dua gang yang biasanya dikosongkan. Mereka bergoyang walau berdesak-desakan.

Sebelumnya, 3 Diva membuktikan kelas mereka yang belum tergoyahkan di musik Indonesia. Setelah Ekspresi dinyanyikan Titi DJ, Bawa Daku Pergi oleh Ruth Sahanaya (Uthe), dan Mahadaya Cinta oleh Krisdayanti (KD); ketiganya bersama-sama menyanyikan A Lotta Love yang ditulis Titi.

Malam itu ketiganya berkostum abu-abu dengan menonjolkan karakter masing-masing. Titi mengenakan gaun terusan bergaya lady, Uthe mengusung gaya anak sekolah dengan celana pendek dan ankle boots putih yang dari jauh nampak seperti kaus kaki anak sekolah, sedangkan KD menonjolkan gaya energik dengan pantalon bergaris pinggang tinggi dan bersuspender.

Power suara mereka tetap terjaga di usia yang tak muda lagi. Bicara tentang umur, Titi dan Uthe yang berusia 49 tahun, menggoda KD yang Maret ini genap 40 tahun. “Oh, flirty fourty. Fourty ngga boleh lagi flirty-flirty ya,” kata Titi yang mengundang tawa penonton.

Tak berhenti di situ, usai Ingin Kumiliki dan Bahasa Kalbu, Titi menyapu pandang ke penonton dari ujung kiri ke ujung kanan, lalu berseru, “Adakah jodoh saya di antara penonton malam ini?” Satu penonton laki-laki berdiri, KD menyahut, “Itu duda anak dua. Ditambah empat (anak Titi, red.), jadi enam. Jangan deh.”

Rupanya itu pengantar pada lagu berikutnya, Pilihlah Aku yang dipopulerkan KD. Lagu dengan kord sederhana ini diaransemen ulang dengan sedikit sentuhan jazz dan bagian akhir yang seharusnya jadi pilihlah aku pun “disesuaikan” jadi pilihlah Titi.

Selain membawakan lagu masing-masing, 3 Diva juga membawakan tiga lagu milik tiga penyanyi muda yang sedang naik daun sebagai bentuk apresiasi mereka. Tiga lagu itu adalah Jangan Cintai Aku Apa Adanya dari Tulus, Dekat di Hati oleh RAN, dan Panah Asmara milik Afgan.

Dian Pramana Poetra menghadirkan nuansa 1980-an lewat lagu-lagu yang meroketkan namanya sebagai penyanyi dan pencipta lagu, seperti Satu Birasa, Kubawa Kau Serta, Melayang yang dipopulerkan January Christy pada 1986, dan Oh Ya yang dulu dibawakan Kelompok 3 Suara.

Melati di Atas Bukit dan Kau Seputih Melati dibawakan hanya diiringi gitar yang dia mainkan sendiri. Tapi praktis Dian tak menyanyi karena sepanjang lagu, penontonlah yang menyanyikan dua lagu romantis itu.

Tiba-tiba kau datang/ menjelangku seorang/ dari bukit seberang melintas jurang nan curam haru sendu riang/ hayal dan kenyataan/ bagai jatuh bintang di atas pangkuan.

Deddy Dhukun muncul dengan kabar sedang sakit tapi rela meninggalkan tempat tidur demi sahabatnya ini. Mereka menyanyikan lagu-lagu saat keduanya tergabung dalam 2D, seperti Biru dan Masih Ada.

Lalu tak disangka-sangka, Peter F. Gontha, Chairman Java Festival Production yang kini jadi duta besar di Polandia, meruyak dari kursi penonton, berjalan ke tepi panggung lalu memeluk Dian dan Deddy yang berjongkok dari atas panggung. Sejenak Dian kehabisan kata-kata, tak dapat menyanyi walau mik sudah dia dekatkan ke mulut. Momen mengharukan dan langka ini rasanya mahal sekali, melampaui ingar bingar dan keseruan pengalaman menikmati sebuah festival.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 172, 16-22 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s