Dokter Torangga dan Sebuah Kebenaran

20150323_MajalahDetik_173_102 copy

Sedianya mudah mengungkap adanya kebusukan. Namun bagaimana jika kebusukan itu berkelindan demikian rapat, hingga menjepit orang-orang terkasih?

Oleh Silvia Galikano

Air Kota Kencana sudah tercemar. Penduduk banyak yang sakit dengan gejala mirip. PT Tambang Harapan Gemilang tertuduh utamanya. Perusahaan tambang ini membuang limbah ke sungai tanpa mengelolanya secara benar.

Dokter Torangga (Teuku Rifnu Wikana) yang menemukan penyebab bencana tersebut. Sudah beberapa lama dia mengumpulkan sampel air dan membuat penelitian. Dia sudah pula menyiapkan tulisan, didukung data akurat, yang menyerang PT Tambang Harapan Gemilang. Tulisan itu sekarang ada di meja redaktur harian Kencana Pos, Hoemario (Hendra Yan), menunggu diterbitkan esok.

Hoemario sangat bersemangat akan menerbitkan tulisan yang menurutnya tajam itu. Rekannya sesama wartawan, Billy (Kartika Jahja), ikut menyemangati dan menyebut tulisan Dokter Torangga akan jadi titik tolak sejarah baru bagi Kota Kencana.

Esok pagi sekali, Kota Kencana akan gempar begitu koran Kencana Pos beredar. Mata semua orang akan terbuka tentang penggelapan data dan korupsi di perusahaan itu serta suap perusahaan pada pemerintah. Tentunya penduduk akan protes lalu pemerintah menutup operasi PT Tambang Harapan Gemilang. Itu yang ada di benak Dokter Torangga, Hoemario, dan Billy.

Namun datang penghalang terbesar Dokter Torangga: Walikota Jokarna (Ayez Kassar) yang tak lain abangnya sendiri. Jika tulisan itu terbit dan perusahaan tutup, ujar walikota, penduduk Kota Kencana akan kehilangan pekerjaan karena mayoritas bekerja di PT Tambang Harapan Gemilang. Kota Kencana pun bisa mati karena kehidupan kota berpusar pada perusahaan itu.

Walikota Jokarna juga mendatangi pemilik Kencana Pos, Hary Tamboga (Madin Tyasawan). Walaupun awalnya Hary Tamboga mengatakan keputusan ada di redaksi, bukan di tangannya, tapi dari kelihaian keduanya, Hoemario dan Billy jadi tak segarang sebelumnya.

Demikian cuplikan cerita Subversif! yang dipentaskan Institut Ungu pada 13 & 14 Maret 2015 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pementasan bergaya realisme ini disutradarai Wawan Sofwan. Faiza Mardzoeki sebagai produser dan penulis naskahnya.

Naskah Subversif! adalah terjemahan dan adaptasi dari drama klasik Enemy of the People karya dramawan Norwegia, Henrik Ibsen (1828-1906) yang dikenal sebagai “bapak realisme” dan salah satu peletak dasar teater modern di dunia. Enemy of the People jadi salah satu masterpiece-nya yang sudah banyak dipentaskan dan diadaptasi ke berbagai bahasa.

Sebelum di Jakarta, Subversif! dipentaskan di Palangkaraya pada Oktober 2014 didukung kegiatan sastra masuk sekolah bertajuk Ibsen Goes to School: Bicara Sastra di Sekolah. Dalam kegiatan itu Faiza dan kawan-kawan memperkenalkan karya-karya Henrik Ibsen, berbincang karya sastra Indonesia, dan bagaimana sastra bisa merefleksikan realitas sosial.

Subversif! merupakan karya pertunjukan teater ke-9 Institut Ungu, organisasi perempuan yang bekerja mempromosikan kesetaraan jender, hak azasi manusia, dan pembebasan perempuan melalui media seni dan budaya. Sebelumnya, Institut Ungu mementaskan Perempuan di Titik Nol (2003), Nyai Ontosoroh (2007), Rumah Boneka (2011 & 2012), serta Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer (2014).

Kalimat dokter Torangga jadi tagline pementasan ini, yakni “Ketika kekuasaan, media, dan korporasi membentuk kebenaran mayoritas, dan mayoritas harus selalu benar, maka tirani mengancam!” Namun penonton harus bersabar untuk “sampai” ke keutuhan cerita dan menemukan gambar besarnya yang terangkum dalam kalimat tersebut, yakni setelah pementasan yang berdurasi hampir 2,5 jam dan dibagi menjadi lima babak itu berjalan 60 persen.

Sebelumnya, dalam dialog-dialog panjang, penonton berusaha diyakinkan adanya keresahan-keresahan dokter Torangga lewat interaksinya dengan teman-teman dan keluarga, terutama istri, Karina (Sita Nursanti). Betapa Torangga dan keluarga adalah orang yang disegani di Kota Kencana dan rumahnya selalu didatangi tamu dari banyak kalangan.

Perubahan tempo dimulai dari adegan rapat kota. Lampu di atas penonton menyala. Satu orang di kursi penonton berseru, “Aaah mana dokter Torangga?” yang disahut satu orang lain, dan disahut lagi oleh yang lain.

Dokter Torangga dan istri muncul di sayap kiri kursi penonton, berjalan ke sayap kanan, kemudian naik panggung. Di belakang mereka, Sarita (Dinda Kanyadewi), putri dokter Torangga, membagi-bagikan selebaran. Ah, rupanya penonton dilibatkan dalam pementasan ini sebagai warga Kota Kencana yang sedang rapat dan empat orang yang berseru-seru tadi adalah aktor yang ditempatkan di kursi penonton.

Pujian boleh dialamatkan ke desainer panggung dan cahaya Iskandar K. Loedin yang mewujudkan ide-ide brilian untuk Subversif!. Latar belakang panggungnya memampangkan area tambang yang habis-habisan dieksplorasi, menguatkan kesan rusaknya ekosistem sebuah kota.

Ditambah lagi eksperimen dinding berputar, yang diworo-woro sejak beberapa pekan sebelum pertunjukan. Dinding berputar adalah empat dinding yang bergerak di satu poros yang sama untuk menciptakan ruang panggung. Jika setting di ruang makan, maka ruang tamu “dimundurkan” sedikit, demikian sebaliknya.

Cerita ini ditutup dengan tekad dokter Torangga untuk terus melawan PT Tambang Harapan Gemilang walau harus kehilangan pekerjaan sebagai dokter di perusahaan tambang itu dan harus berhadapan dengan mertua yang ternyata belum lama memborong seluruh saham perusahaan PT Tambang Harapan Gemilang. Ada istri dan putrinya yang jadi penyemangat.

“Mayoritas selalu benar adalah tirani kebenaran! Mayoritas selalu benar adalah kebohongan sosial! Setiap manusia merdeka dan berakal sehat harus memberontak terhadapnya.”

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 173, 23-29 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s