SpongeBob Melawan Bajak Laut

spongebob

Resep krabby patty milik restoran Krusty Krab dicuri. SpongeBob keluar dari dasar laut dan naik ke pantai untuk mencari pencurinya.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water
Genre: Animation, Adventure,
Sutradara: Paul Tibbitt, Mike Mithcell
Skenario: Glenn Berger, Jonathan Aibel
Produksi: Paramount Pictures
Pemain: Tom Kenny, Antonio Banderas, Bill Fagerbakke
Durasi: 1 jam 40 menit

Bikini Bottom, kota di dasar laut, tenang dengan keseharian warganya. Di sana ada SpongeBob (diisisuarakan Tom Kenny) si spons kuning berbentuk kotak. SpongeBob bekerja sebagai koki di restoran cepat saji Krusty Krab milik Mr. Krabs (Clancy Brown).

Ada juga Squidward (Rodger Bumpass), Patrick (Bill Fagerbakke) si bintang laut, dan Sandy si tupai (Carolyn Lawrence). Segalanya menyenangkan.

Krusty Krab punya hidangan andalan yang disukai masyarakat Bikini Bottom, bernama krabby patty. SpongeBob tiap hari menyiapkan krabby patty yang diolah dari resep rahasia.

Kekacauan Bikini Bottom dimulai ketika resep rahasia krabby patty hilang dari tempat penyimpanan. Akibatnya SpongeBob tak dapat membuat krabby patty, antrean pun mengular di luar Krusty Krab. Awalnya cuma resah, tapi tak lama kemudian, warga kota seperti hilang akal akibat tak bisa makan krabby patty dan membuat kekacauan di mana-mana.

Mr. Krabs menduga Plankton (Lawrence), pemilik restoran saingan Chum Bucket yang ada di seberang jalan, sebagai biang keroknya. Namun SpongeBob punya teori yang mencuri bukan Plankton, walau makhluk kecil itu ingin sekali restorannya punya menu krabby patty agar tak sesepi sekarang.

SpongeBob kemudian bekerja sama dengan Plankton, dibantu Patrick dan Sandy, melacak siapa pencuri sebenarnya. Pencarian para makhluk dasar laut itu membawa mereka pada petualangan ke atas permukaan laut, ke pantai, hingga bertemu bajak laut jahat bernama Burger Beard (Antonio Banderas).

Penggemar setia SpongeBob SquarePants, serial televisi yang sudah meraup jutaan dolar untuk Nickelodeon selama 15 tahun terakhir, tentu akan senang menemukan semua elemen khas SpongeBob tetap utuh. Permainan kata, sajian visual menggelikan, warna-warni terang, pokoknya semua detail yang diingat dari serial ada di sini.

The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water tetap bersetia pada akar surealismenya seperti animasi yang jadi serial televisi. Tetap lucu dan penuh energi. Ini merupakan feature panjang keduanya, menyusul The SpongeBob SquarePants Movie (2004).

Di balik cerita tentang hilangnya resep krabby patty, penulis skenario Glenn Berger dan Jonathan Aibel sepertinya sedang mengusung pesan bahayanya konsumerisme dan efek acuh tak acuh menyusul fenomena mengglobalnya budaya pop. Sebagian disuguhkan dalam bentuk animasi tradisional dan sebagian lagi live-action, yakni menggabungkan animasi dan orang sebenarnya, dalam alur maju-mundur.

Antonio Banderas sekali lagi membuktikan keahliannya dalam mengolok citra macho-nya sendiri lewat karakter Burger Beard. Sebelumnya, dia pol-polan menunjukkan hal yang sama melalui karakter Puss in Boots.

Sutradara film komedi Paul Tibbitt (sebelumnya penulis dan produser eksekutif serial SpongeBob) dan Mike Mitchell (sutradara untuk segmen live-action) tak mengangkat karakter tertentu. Film ini hanya mengajak penonton bersenang-senang bersama SpongeBob dan kawan-kawan dalam waktu lebih lama.

3-D-nya hebat, sangat menunjang plotnya. Caranya memperlihatkan apa yang ada di benak SpongeBob yang selalu bahagia itu mempesona mata. Perhatikan ketika Super SpongeBob mulai mengeluarkan balon-balon (spesifiknya, plembungan) agar bisa melayang menghindari tembakan peluru meriam, hingga akhirnya plembungan itu sendiri yang membungkus peluru meriam. Lucu sekali.

Namun sejumlah elemen live-action-nya terasa dipaksakan masuk ke kartun. Walau dengan 3-D dan CGI yang memberikan tampilan karakter dan tekstur berbeda, tapi teknologi itu tak dimaksimalkan untuk membuat inovasi yang berarti. Dengan pergeseran visual dan tone yang tidak mulus, Tibbitt dan Mitchell seperti membuat dua film berbeda lalu disatukan.

Belum lagi humornya yang subversif dan menyenggol budaya pop tentu tak dipahami para bocah. Namun perspektif saya bisa jadi beda dengan perspektif anak-anak, pasar utama film ini, yang malah akan tergelak-gelak sepanjang film. Bukankah itu yang lebih penting?

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 173, 23-29 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s